Jumat, 02 Oktober 2020

Tujuh Belas Bulan

 Hari ini, usia Salman tepat tujuh belas bulan. Alhamdulillaah, Dia tumbuh sehat dan ceria. Tak kurang sedikitpun. Melihat perkembangannya dari hari ke hari tentu melahirkan rasa syukur yang mendalam, bahwa Allah menghadirkannya untuk kami sebagai amanah yang harus kami jaga, sekaligus menjadi penyejuk jiwa.

Perkembangan bahasanya pun mengalami kemajuan. Meski dia belum bisa ngomong dengan jelas, tapi sudah mulai bisa menyampaikan dengan bahasanya sendiri tentang apa yang diinginkan. Baik dengan menunjuk ataupun dengan merengek dan segera menjawab 'ya' jika yg kutebak adalah benar yang diinginkannya. Terlebih lagi, beberapa perintah sudah bisa dia pahami dengan baik. Jika diminta menutup pintu, diajak masuk dan keluar rumah, mengambilkan sesuatu (beberapa benda yang sudah dia tau namanya), pun memberikan sesuatu ke Ummi, Abi, atau Neneknya, dia sudah bisa melakukannya dengan baik. Intinya, dia mulai bisa diajak komunikasi. Bahkan seringkali dia yang mengajak kami ngobrol dengan bahasanya yang belum bisa kami pahami maksudnya, kami hanya merespon dengan tanggapan seolah mengerti yang dimaksud, lalu diapun akan tertawa lucu. Lalu kembali mencercau sendiri.

Selain kemampuan bahasanya, salman juga sudah lincah berjalan, seringkali malah berlari saat merasa ingin dikejar (sering kege'eran dia). Salah satu hal yang teramat disukainya adalah keluar rumah, kebalikan dengan Umminya yang lebih senang berdiam di rumah. Setiap melihat pintu rumah terbuka, Salman dengan sigap akan berlari dengan langkah2 kecilnya menggapai pintu. Keluar sendiri tanpa sendal, dengan tawa dan perasaan puas, mungkin tahu bahwa sebentar lagi Ummi akan berlari tergopoh mengejarnya. Jika sudah terlanjur keluar, Ummi akan menemaninya sebentar di luar untuk kemudian dibujuk masuk rumah. Seperti itulah selalu.

Seperti sudah menjadi rutinitas untuk menemaninya berjalan-jalan keluar rumah. Kadang sama Ummi, Abi, Nenek, atau lebih sering sama kaka Rahmah (Tante muda sih sebenarnya). Jika diajak berjalan di luar, dia akan semangat berjalan sendiri. Kalau sudah puas di luar rumah, dengan sukarela dia akan masuk rumah, tanpa nangis lagi. Ummi paham, bahwa di usia segini memang kecenderungannya adalah bermain di luar. Dia ingin bebas bereksplorasi. Itulah... Sesekali Ummi membebaskannya berjalan sendiri kesana-kemari, cukup mengawasi tiap tindakan berbahayanya seperti; mencabut bunga-bunga, memungut tanah dan memasukkannya ke mulut, berlari ke tengah jalan, bermain air, atau mengawasi jika sesekali dia terjatuh.

Selain lincah berjalan, Salman juga sangat banyak tingkah, ada-ada saja tingkahnya yang membuat Abi, Ummi, dan Neneknya dibuat tertawa. Dia sering menutup mata dan sedikit2 dikedipkan sambil berjalan pelan dengan ekspresi sok imut, atau berjalan mundur sambil tertawa2, atau kadang melebarkan kedua kakinya lalu berjalan dengan kaki terbuka lebar, ataupun berjalan dengan kedua lututnya, dan yang bikin pusing kalau dia mulai mutar2 atau berkeliling, membuat kepala kami terasa pusing.

Yah.. dia sangat menghibur dengan segala tingkahnya.

Di samping tingkah-tingkahnya yang menggelikan, kadangpula dia berbuat hal yang tak diharapkan seperti; memungut sampah lalu dimasukkan ke mulut, naik-turun tangga, menghamburkan pakaian yang sudah dilipat, menumpahkan air, dll. Kalau Umminya kerja, MaasyaAllaah.. senang sekali 'membantu'. Overalll... Ummi bahagia dengan semua tingkahnya meski tak jarang terbesit perasaan jengkel, kesal, dan ingin marah. Tapi, semua rasa itu bisa ditahan demi menemani tumbuh-kembangnya.

Kami, sebagai orangtua harus mengingat bahwa dia adalah seorang anak yang masih dalam proses belajar, belum paham mana benar dan salah. Maka dia butuh bimbingan, bukan bentakan atau kata-kata menyalahkan. Apapun yang dilakukannya, semua itu adalah proses belajar untuknya.  Maka, kesabaran tak terbataslah yang dibutuhkan selama membersamainya.

Ananda Salman... Semoga engkau tumbuh menjadi hamba Allah yang kuat iman dan taqwanya. Doa kami senantiasa menyertai setiap langkahmu.

Aqilah El-Hafizah

Ummu Salman

Senin, 03 Agustus 2020

Tentangmu, Nak

Salman Alfarisi, hari ini usiamu sudah lima belas bulan satu hari, kemarin tepat lima belas bulan. Alhamdulillaah. Sungguh banyak cerita yang ingin ummi tuliskan tentang hari-hari yang terlewati selama membersaimaimu, Nak. Tapi kadang sulit sekali meluangkan waktu, apalagi ummi sudah lama tidak menulis, terasa kaku. 

Tapi hari ini, ummi sungguh ingin menulis sedikit tentangmu. Meski hanya sedikit, semoga yang sedikit itu bisa mengabadikan kenangan akan masa-masa tumbuh kembangmu.

Alhamdulillaah, di usia ini Salman sudah bisa berjalan, meski masih harus pelan-pelan. Beberapa hari ini semangat sekali belajar jalan, sibuk mutar sana-sini melatih kemampuan barumu. Rasanya bahagia sekali setiap melihatmu berusaha berjalan, meski masih tertatih-tatih, pelan-pelan, tapi terus berusaha dan terlihat sangat menikmatinya. Semua kamu lakukan dengan tawa sumringah menghiasi wajah. 

Namun, Seringkali kamu kehilangan keseimbangan saat berjalan. Tak terhitung berapa kali kamu terjatuh. Kadang pula harus menangis keras karena jatuhnya cukup keras. Bahkan kadang menyisakan benjolan di kepala. Meski begitu, kamu tidak merasa takut untuk kembali berjalan. 

Teringat saat pertamakali mulai melangkahkan kakimu, Rabu, 8 Juli 2020... Pagi sekali, saat kamu baru saja bangun dan langsung semangat bermain. Kamu memungut plastik permen dan ingin memberikannya pada ummi, dari posisi berdiri kupikir kamu akan merangkak dan membawakan plastik itu. Nyatanya, kamu tiba-tiba melangkahkan kaki dengan cepat dan terburu-buru hingga mencapaiku. Kusambut kau dengan sumringah. Surprise! Salman berjalan, lima langkah! Ummi sungguh bahagia melihatmu berjalan. Dengan semangat kuceritakan pada abi perkembangan barumu. 

Sejak hari itu kamu mulai belajar melangkah. Dan hari ini, kami tidak harus menghitung lagi, berapa langkah yang berhasil dicapai. Kamu makin mahir berjalan. 

Selain itu, kamu semakin cerewet. Sangat sering ngoceh sendiri ataupun mengajak kami bicara dengan bahasa yang tidak kami mengerti. Nadanya kadang lurus-lurus saja layaknya orang yang sedang bercerita, kadang pula bernada pertanyaan. Kalau diajak ngomong dengan pertanyaan, seolah paham sedang ditanya, kamu akan sigap menjawab 'yah'. 

Kita sering ngobrol. Seringkali kamu terlihat sangat paham dengan apa yang kami bicarakan atau tanyakan, lalu kau akan balik menanggapi dengan ocehan yang cukup panjang pula. Beberapa kata mulai bisa dia ucapkan dengan lumayan jelas, seperti Abi, apa, dua, tiga. Dan hari ini dia seperti paham satu kata lagi, 'Ini'. Beberapa kali dia memberikan sesuatu sambil ngoceh... 'ni'. 

Mungkin itu saja dulu hari ini. Tulisannya sudah cukup panjang. Yang pasti... Kehadiranmu menjadikan ummi dan abi harus belajar lebih sungguh-sungguh agar bisa menjadi orangtua yang layak. Dalam artian, berusaha memberikan pendidikan terbaik yang kami bisa. Kami akui, banyak kekurangan dan kelalaian selama lima belas bulan membersamaimu. Tapi, kami tentu akan mengusahakan yang terbaik. Meski belum maksimal, semoga kedepannya Allah masih memberikan kesempatan untuk melengkapi yang kurang.

Sehat selalu, Nak. Semoga keseharianmu selalu diliputi rahmat serta berkah dari-Nya. 

Rabu, 09 Mei 2018

Pemeriksaan Pertama

Kemarin, bersama suami Aku ke puskesmas untuk pemeriksaan awal kehamilan. Tidak ada yang kami tahu soal prosedur dan lain-lainnya, ini merupakan pengalaman pertama menginjak puskesmas untuk kami. Cukup rasa optimis dan percaya diri sebagai bekal untuk kami berani ke puskesmas.

Mungkin kami terlihat aneh di sana, sepasang suami istri yang hanya berdiri kebingungan tak tahu harus memulai dari mana. Saling berbisik dan menertawai diri kami yang terlihat bodoh. Hingga seorang petugas menyapa dan menanyakan apa yang kami perlukan. Syukurlah, akhirnya kami diarahkan harus melakukan apa.

Petugas meminta KK, kujawab belum ada. KTP? Tak ada pula. Kalau KK yang lama ada? Dengan senyum malu-malu kembali kujawab "Tidak Ada". Aduh, kami terlalu berani ke puskesmas tanpa membawa surat atau pengenal apapun. Dengan alasan saat ini sementara pengurusan KK baru dan belum jadi, petugas itu berbaik hati memproses kami. Memberikan kartu pengobatan dan lainnya. Dengan syarat, pemeriksaan selanjutnya sudah harus membawa KK.

Selanjutnya aku hanya mengikuti prosedur yang diminta. Mulai pemeriksaan BB, tensi, ukur lingkar lengan, tinggi badan, sampai diminta baring untuk pemeriksaan perut. Ada banyak pertanyaan yang harus kujawab, seperti kapan terakhir haid, apa keluhan dan lain-lain. Saya juga harus ke lab untuk pemeriksaan goldar dan hb, terus masuk ke bagian gizi karena BB saya yang tidak memenuhi standar. Ini akibat penyakit malas makan yang sudah akut.

Terakhir, ke apotik menebus resep. Lalu pulang dengan 2 dos biskuit Ibu hamil sebagai makanan tambahan dan satu buku berwarna pink yang berisi hasil pemeriksaan sekaligus menjadi buku bacaan wajib untuk bumil. Dan, tentunya dengan pengalaman baru menginjak puskesmas, hehe..

Ini pengalaman pertama sebagai Ibu hamil. Proses yang suka tak suka dan mau tak mau harus kulewati. Banyak hal yang harus kupelajari dan kupaksakan untuk dilakukan. Saatnya tidak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga janin yang kukandung. Iya, demi dia.



Aqilah El-Hafizhah
Datarang, Rabu 09 Mei 2018 M
23 Sya'ban 1439 H


Kamis, 03 Mei 2018

Entah Harus Kusebut Awal Atau Akhir Penantian

Penantian menjadi kata yang sangat akrab di kalangan remaja. Biasanya diartikan sebagai masa menanti jodoh datang, itulah penantian. Tapi entahlah, bagiku, masa itu tak pernah menjadi saat aku betul-betul serius menanti. Pasalnya, aku tak pernah merasa dalam situasi menanti, semua mengalir begitu saja. Hingga Ia datang.

Tapi, saat ini, after married, aku justru merasakan masa penantian yang sesungguhnya. Saat sebuah harapan baru merekah, seperti pasangan suami-istri pada umumnya, kamipun demikian. Mulai menunggu saat-saat Allah bermurah kasih menitipkan amanah untuk kami jaga. Iya, sebuah harapan yang begitu kuat. Dan aku baru merasa dalam masa penantian yang sesungguhnya. Berharap Allah segera menitipkan amanah-Nya.

Karena beberapa gejala Ibu Hamil mulai kurasakan, kuputuskan melakukan testpack untuk mengetahui secara pasti. Alhamdulillah.. Menjelang subuh kabar bahagia itu nyata, dua garis merah pada alat test membuatku tersenyum penuh syukur. Akhirnya Allah menitipkan amanah itu di rahimku. Terima kasih, yaa Rabbanaa..


Bahagia tentu saja. Meskipun tak kupungkiri, sedikit rasa khawatir juga hadir membersamai kebahagiaan ini, khawatir jika gagal mendidiknya kelak.

Bismillaah... Semoga tdk demikian. Allah melihat segala ikhtiar hamba-Nya. 

Ucapan syukur dan sederet do'a kupanjatkan.  Semoga kami mampu menjadi sebaik-baiknya orangtua untuk buah hati kami. Menjaga Amanah ini dengan cara terbaik yang bisa kami lakukan.

Entah harus kusebut ini akhir penantian, ataukah ini justru sebuah awal untuk kembali menanti kehadirannya di dunia?

Ah, itu tak penting..

Sembilan bulan, semoga Allah memberikan selalu kekuatan dan kesehatan untuk kami bersua.

Aqilah El-Hafizhah
Datarang, 03 Mei 2018 M
17 Sya'ban 1439 H

Kamis, 08 Maret 2018

Mushaf Kenangan

Suatu sore di bulan Ramadhan, bertahun-tahun lalu, di masjid jami. Aku dan seorang kawan menatap takjub pada seorang jama'ah masjid yang sedang khusyuk mengaji di shaf pertama bagian perempuan. Di tangannya tergenggam sebuah mushaf ukuran sedang dengan lembaran qur'an yang sudah menguning termakan usia. Mushaf model lama, yang tulisannya tebal dan hitam. Yang membuat kami menatapnya sedemikian takjub, ia mengaji tanpa menengok ke mushaf sedikitpun. Mushaf itu hanya dipegang dan dibuka untuk berpindah ke lembaran berikutnya. Ia menghafalnya dengan sangat lancar. Beliau memang dikenal sebagai hafizhah.

Kala itu kawanku bergumam, "Wah, coba lihat mushafnya, kertasnya sudah kuning. Mungkin karena sudah lamanya ia menggunakan mushaf itu."

"Mungkin sudah sangat nyaman menghafal dengan satu mushhaf saja"

Demikian kira-kira percakapan kami kala itu. Lalu ide itu tiba-tiba muncul. Ide untuk mengikuti jejak beliau untuk bertahan menghafal dengan satu mushaf sampai kapanpun. Kami pun melirik Al Qur'an masing-masing, dan sepakat bahwa mushaf itulah yang akan terus kami pakai selama menghafal.

Sore itu kami bertekad menggunakan mushaf yang kami pegang saat itu. Teriring harapan,  semoga esok kami juga bisa menghafal seperti beliau.
Kejadian bertahun lalu yang selalu lekat dalam ingatan. Setiap menatap mushaf hafalanku, ingatan itu kembali terputar dengan sendirinya.

Iya, sampai detik ini, setelah sekitar sepuluh tahun berlalu, Aku masih dengan mushaf yang sama sore itu. Mushaf yang masih setia menemani perjalanan muraja'ahku yang berjalan merangkak. Saat menatapnya kadang tanya menggema, "kapan aku bisa melancarkan hafalanku seperti anganku sore itu?"



Tanya yang tak berujung jawab. Hanya do'a yang bisa kurangkai panjang, berharap akan tiba saa Dia mengijabah. Sambil melihat setiap ikhtiar yang masih diperjuangkan.

***

Kau yang bersamaku sore itu, masih ingatkah moment ini? Atau hanya diri ini yang terjebak dalam kenangan lama yang sudah usang.

Aqilah El-Hafizhah

Jumat, 28 Juli 2017

Sehat Selalu, Mama..

28 Juli 2017

Sepulang shalat isya tadi mama bilang perasaannya tiba-tiba tidak enak, badannya seperti menggigil. Dia hanya minta diselimuti.

Setelah melaksanakan perintahnya saya bergegas melanjutkan pekerjaanku yang belum selesai. Saat kembali ke kamar Ia sudah tertidur pulas, padahal belum makan malam. Biarlah, mungkin mama kelelahan, dia butuh banyak istirahat.

Kugantungkan kelambu lalu kutatap wajahnya yang terlelap pulas. Entah apa yang kurasakan, tapi sangat banyak perasaan yang berkecamuk. Sulit kudefinisikan.

Tiba-tiba aku hanya ingin menulis tentangnya. Apapun itu.

Aku ingin selalu bisa melihatnya dalam kondisi sehat. Untuk waktu yang lama.

Semoga esok kau kan sehat kembali, Mama.



  1. Aqilah El-Hafizhah



Selasa, 04 Juli 2017

Hati Yang Cantik

Kau tahu?

Ketika seseorang memutuskan menyelesaikan semua pekerjaan tanpa meminta bantuan, bukan berarti Ia benar-benar tidak butuh dibantu. Mungkin karena Ia merasa lelah meminta tolong pada orang yang tak peka bahwa bantuannya dibutuhkan segera, bukan hanya disambut dengan jawaban 'Tunggu dulu'.

Pun sama saat seseorang memutuskan menggantikan pekerjaan orang lain-yang sebenarnya pekerjaan itu bukan lagi bagiannya- bukan berarti Ia kelewat rajin. Mungkin karena Ia sudah lelah memerintah dan meminta orang mengerjakan tugasnya,  dan yang diperintah sama sekali tak menggubris, memilih cuek,  atau lagi-lagi memberikan jawaban 'Tunggu dulu'.

Terakhir, ketika seseorang akhirnya memutuskan berhenti untuk mengingatkan, memilih diam dan membiarkan-melakukan apapun yang diinginkan dan dipikirnya benar, bukan berarti Ia tak lagi peduli. Mungkin, Ia sudah lelah dengan nasehat yang telah disampaikan berulangkali tanpa rasa bosan, dan nasehat itu tidak memberi manfaat bagi yang dinasehati.

'Berhenti' akhirnya menjadi pilihan terakhir. Mungkin tersisa do'a-selemah lemahnya iman- yang Ia punya untuk seseorang yang selalu diharapkannya menjadi pribadi yang semakin baik. Tampil indah dengan keluhuran akhlaknya.  Semoga do’a-do’a yang terucap tulus itu mampu mengetuk pintu langit hingga menuai ijabah. Meski tak pasti kapan, tapi keyakinanlan yang lebih utama saat memohon.

***
Dalam sutuasi seperti ini, setidaknya ada dua sikap yang harus dimiliki.

Pertama, untukmu yang berada dipihak yang selalu memilih mengalah dan penuh harap. Milikilah hati yang lapang, dengannya engkau bisa tetap tegar dengan segala situasi yang kau hadapi. Agar setiap sikap yang tak sesuai kehendakmu tak harus membuat hatimu rusuh oleh rasa jengkel, marah, dan kecewa. Kau memilih damai. Dan hakikat dari hati yang lapang itu adalah KEIKHLASAN. Saat segalanya hanya karena lillah.

Kedua, untuk kita semua yang boleh jadi telah menjadi sosok yang tak mengenal ‘peka’. Boleh jadi tak sadar kalau kita telah menjadi objek kemarahan, kejengkelan, atau kekecewaan orang lain. Pekalah! Buat hati kita sensitif untuk bisa memahami orang lain. Jangan sampai kita selalu merasa bahwa tak ada yang mengerti diri kita, padahal kitalah sebenarnya yang tak pernah mau belajar memahami orang lain.

Milikilah hati yang cantik, dengannya semua hal kan terasa ringan. Dan menjadikan hati kita cantik bukanlah proses sehari. Butuh banyak latihan untuk membuatnya kuat, tegar, tahan banting, dan lapang hingga akhirnya Ia bisa sebening kristal. Maka usahakanlah, semoga Allah mengaruniakan kita hati yang cantik. 


Demikian,

Aqilah El-Hafizhah


Senin, 05 Juni 2017

Mencoba Memaknai Ramadhan

Malam ke- 11 Ramadhan 1438



Cepat sekali!

Rasanya baru kemarin saya menanti Ramadhan dengan perasaan wa-was. Khawatir tidak bisa memaksimlkan amaliyah ramadhan. Masih memikirkan banyak planning bagaimana menjalani Ramadhan dengan optimal.

Dan malam ini, sudah memasuki malam kesebelas dari bulan mulia Ramadhan. Sepuluh pertama sudah lewat dengan cepat. Tersisa dua puluh hari lagi. Kesempatan yang belum tentu akan menjadi milik kita.

Lalu, bagaimana dengan tilawahku?
Qiamullailku?
Dzikirku?
Do’aku?
………………….. ?
 dst.

Sudah maksimalkah?

Saya tahu dengan sangat baik, sangat paham, entah sudah berapa kali disampaikan betapa mulianya bulan Ramadhan. Bulan yang teramat mulia dan sayang untuk disia-siakan. Jangankan hari dan jam, DETIK nya pun, adalah detik-detik yang sangat mulia dan berharga untuk tidak dimaksimalkan.


Sejauh mana diri ini memaknai Ramadhan?

Selasa, 23 Mei 2017

Hadiah Dari Allah

Untuk seseorang yang bagiku Ia adalah sahabat. Dia yang kuanggap hadir sebagai hadiah untukku. Hadiah dari Allah, seorang sahabat yang shalihah. Hanya saja, saya terkadang merasa tak enak dan tak pantas menjadi teman buatnya. Saya banyak mengambil manfaat darinya, tapi dia.. entah apa yang ia dapatkan dengan berteman denganku.

Dia, dengan ilmunya yang jauh melebihiku, tak pernah pelit saat saya bertanya.

Dengan pemahaman agamanya, Ia mampu memberikan saran, komentar, dan apapun itu yang bisa menjadi solusi untuk permasalahanku.

Dia, dengan kemurahan hatinya, bersedia menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluhan dan permasalahan yang kusampaikan.

Dan saya, dengan segala kekuranganku, sikap tak bijakku, dan lainnya, entah apa yang sudah kuberi.

Seingatku, dia tak pernah mengeluhkan permasalahannya dan meminta saranku. Bukan karena dia menganggapku lebih rendah sehingga tak pantas ditempati berbagi. Bukan. Itu semata-mata karena dia memang bukan sosok lemah dan cengeng yang dengan mudah mengeluhkan segala hal.

 Dia hanya menjadi pendengar dan saya yang terus mau didengarkan.

Dan saya, seolah tak pernah tahu dan mau tahu, adakah dia tak pernah punya masalah? Ataukah dia begitu tangguh untuk setiap permasalahan yang dihadapi.

Saat ngomong via telepon, saya lagi-lagi lebih mendominasi pembicaraan. Dan membuatnya lagi-lagi menjadi pendengar untuk setiap celotehanku. Saya yang terlalu cerewet bertanya ini dan itu, dan ia akan panjang bercerita, untuk menjawab pertanyaanku.

Dan satu hal yang pasti, awal yang membuat kami dekat karena kami merasa nyambung saja saat cerita. Dia teman diskusi yang baik. Dulu istilahnya beda, bukan diskusi, tapi debat.

Kebersamaan dengan dia sering membuat saya bebas mengatakan apapun. Be myself naturally.

Tapi belakangan, tiba-tiba saja saya merasa tidak enak sama dia. Iya, saya mulai berpikir bahwa kami berteman saat kami di pesantren dulu, kira-kira 3 tahun bersama dengan intensitas kedekatan yang lebih. Setelahnya, Ia melanjutkan kehidupannya di tempat yang jauh. Bertemu dengan orang-orang baru. Mungkin juga menemukan teman diskusi dan hal yang biasa kami lakukan bersama. Tapi dengan teman yang jauh lebih baik dariku. Teman-teman yang bisa merubah hidupnya sampai bisa seperti sekarang. Dan, saat saya berceloteh panjang, tiba2 saya merasa tidak enak. Mungkin saya mengganggu, atau, yah.. lagi-lagi saya ngeluh dan curhat seolah semua masih seperti dulu tanpa tahu bahwa baginya banyak hal sudah berubah.

Semua sudah berbeda. Dia dengan teman-teman baru yang jauh lebih baik. Sedanh saya yang hanya selalu membuat repot dengan segala cerita dan pertanyaanku. Saya sungguh merasa seperti pengganggu. 

Tapi, apapun dan bagaimanapun itu, saya sungguh bahagia dan bersyukur bisa mengenalnya. Meskipun sekarang tentu sudah berbeda dengan dulu, saat kami masih bersama di pesantren. Sekarang sudah terpisah jarak yang jauh. Juga dengan teman-teman baru, semua tentu mempengaruhi. 

Semoga Allah membalas segala kebaikannya dengan sebaik-baik balasan. Dan semoga kami bisa berteman hingga di akhirat kelak. Allaahumma aamiin. 


Aqilah El-Hafizhah

Minggu, 14 Mei 2017

Saat-Saat Terakhir Bapak

"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati"
(QS. Al-Anbiya': 35)

Cara terbaik memaknai kematian itu adalah saat kita ditinggal orang yang teramat dekat dengan kita. Saya percaya bahwa setiap kita akan mati. Kematian demi kematian terjadi di sekitarku, bagaimana bisa saya tak percaya? Tapi, untuk memaknai hakekat kematian itu, saya belajar saat orang terkasih harus pergi meninggalkanku. 

Kematian Bapak. Membuatku untuk pertama kali sadar sesadar-sadarnya bahwa dia tak akan kembali lagi. Bahwa saat seseorang meninggal, maka itulah batas akhir kebersamaan kita di dunia. Sebesar apapun rindu kita padanya, Ia tak akan kembali lagi. Hanya do'a yang bisa kita kirimkan untuknya.


***

Sudah lewat pukul 22.00 malam itu. Saya dan teman kelompokku sudah hampir selesai membereskan sisa buka puasa dan makan malam di masjid Jami'.

Kami dikagetkan oleh motor yang tiba-tiba berhenti tepat di depan kamar mandi masjid, tempat kami sedang mencuci piring. Lampu yang remang-remang membuat kami sulit mengenali siapa yang datang.

"Ada Ima?"

Saya mengenal suara itu, dan memang namaku yang disebut.

Dengan perasaan tak karuan saya beranjak menemuinya.

"Kondisi bapak makin buruk, bagian kakinya sudah mulai dingin. Saya sudah minta izinkan untuk pulang. Mari saya antar balik ke kampus, nanti pulang jalan kaki saja sama Ira," ucapnya buru-buru.

Tanpa diperintah lagi saya bergegas untuk pamit pada ketua kelompokku setelah memberikan penjelasan singkat.

Pikiranku kacau sepanjang jalan, kemungkinan buruk mulai terpikir. Saya teramat takut.

Karena jarak masjid Jami dan kampus puteri cukup dekat jika ditempuh dengan motor,  kami sampai lebih cepat.

"Saya pulang duluan, yah. Kamu tinggal pamit sama pembinamu."

Saya hanya mengangguk, belum sanggup bicara.  Lalu bergegas ke kamar setelah kakakku pergi. Kudapati Ira menungguku, dia sudah siap. Saya hanya mengganti isi tas dengan beberapa barang yang mau kubawa.

Dengan buru-buru saya pamit dengan teman kamar yang dari tadi menatap kami iba. Lalu mempercepat langkah ke kamar pembina untuk pamit.

Sepanjang jalan pulang tak ada percakapan antara saya dan adikku. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Rumah kami masih dalam kompleks Pesantren Darul Istiqamah sehingga tak butuh waktu lama untuk tiba di rumah.

Sampai di rumah saya langsung ke kamar bapak. Mama dan beberapa kakakku duduk di samping bapak. Semua saudaraku sudah berkumpul, kecuali Kak Liman yang saat itu masih menempuh pendidikan di Pakistan. Hanya mendapat setiap informasi  lewat telepon.

Saya duduk bersandar di lemari. Menatap tubuh bapak yang berbaring dengan infus di tangannya. Kondisi yang sama sejak sembilan hari yang lalu. Baring tanpa gerakan, suara, dan mata yang tak sekalipun terbuka. Stroke telah mernggut semuanya. Perlahan air mataku mengalir, lalu sesegukan dengan tangis tertahan. 

Tak sanggup menyaksikannya saya bergegas keluar.  Terus menangis di kamar sebelah hingga tertidur karena letih.

* * *

"Sholah, sholatullail. Sholah, sholatullail. Jam sudah menunjukkan pukul satu lewat lima puluh menit. Sepuluh menit lagi shalat lail akan dimulai."

Saya terbangun oleh suara speaker masjid yang membangunkan warga untuk shalat lalil.  Saya langsung ke kamar bapak. Mama dan semua kakakku terlihat masih di kamar.

"Ada yang mau ke masjid shalat lail?"

"Bagaimana kita ke masjid sementara kondisi bapak seperti ini? Kaki sampai lututnya sudah dingin," jawab Kak Sali.

"Kami ini belum ada yang pernah tidur." Kakakku yang lain mengomentari.

Saya tersadar bahwa kondisi bapak sedang tidak baik-baik saja. Perasaan takut kehilangan kembali hadir.

"Kalian shalat lail jama'ah di rumah saja. Biar saya dulu yang jaga bapak." Mama memerintah.

Kami wudhu bergantian lalu shalat lail berjama'ah. Setiap selesai dua raka'at Kak Mukmin ke kamar bapak mengecek suhu dingin di kaki bapak.

Selesai shalat subuh, seperti hari-hari sebelumnya saya membacakan adzkar pagi ditelinga bapak.

Setelah baca adzkar Mama meminta Kak Mukmin membacakan syahadat di telinga bapak dan yang lain untuk mengaji di sekitarnya agar yang Ia dengar hanya suara mengaji.

Sekitar pukul tujuh kami masih berkumpul di kamar bapak dengan pakaian shalat. Kak Mukmin masih setia membacakan syahadat. Mama melarangnya berhenti.

"Nak, minta maaflah satu-persatu di telinga bapak."

Entah apa yang dipikirkan Mama, tapi dia menginstruksikan kami meminta maaf. Kak Mukmin yang duduk paling dekat memulai. Satu-persatu kami mendekat dan membisikkan maaf.

Air mataku sudah mengalir tiada henti. Tiba giliranku, dengan berat kuucap maaf ditelinganya dengan deraian air mata. Pemandangan makin menyesakkan saat kulihat ternyata air mata bapak juga mengalir deras.  Saya bergetar menahan agar tangisku tidak bersuara.

Ini sudah hari ke sepuluh sejak Ia terbaring kaku tanpa suara, juga dengan mata yang terus tertutup. Tapi pagi ini, saat kami bergantian meminta maaf, air matanya mengalir deras. Tetap tanpa ekspresi. Hanya air matalah yang meyakinkan kami kalau dia mendengarkan.

Kak Mukmin kembali dengan posisi semula. Mentalqin Bapak. Sejak tiba dari Jakarta dia memang terus disamping bapak kecuali jika harus shalat, makan, dan  ke kamar mandi.

Ibu, saudara-saudara, dan beberapa keluarga bapak sudah tiba dari Sidrap. Mereka langsung memenuhi kamar. Saya tidak lagi di kamar. Kak Saidah memintaku mengayun anaknya yang menangis.

Pukul sepuluh lewat beberapa menit Kak Fira memanggilku berulang-uLang. Saya masuk ke kamar bapak terburu-buru.

"Beritahu nenek, bapak sudah pergi," ucapnya sambil menangis.

Air mataku tumpah. Berjalan cepat ke kamar tempat nenek berada.

"Kenapa?" tanteku bertanya lebih dulu melihatku menangis.

"Bapakku sudah pergi," jawabku susah payah disela tangis.

Semuanya bergegas ke kamar. Rumah sudah bergema dengan suara tangis.

Kugendong keponakanku yang masih menangis dari ayunan. Saya ke kamar, semakin terguncang melihat Bapak yang masih dengan posisi yang sama, tapi sudah tak bernyawa. Tak ada lagi tangis tertahan. Semua tumpah melepas kesedihan. Bapak benar-benar sudah tiada.

Suasana duka menghiasi rumah. Bergantian pelayat memadati rumah kami.

Sesuai yang disunnahkan, semua proses dipercepat. Tak ada keluarga lagi yang harus ditunggu.

Bapak dimakamkan setelah shalat zuhur yang dilanjutkan dengan shalat jenazah di masjid pesantren.  Kemudian dimakamkan di pekuburan Pesantren Darul Istqamah.

Hari ketiga Ramadhan bapak menutup kehidupannya. Meninggalkan kami dengan pelajaran-pelajaran tak terhitung. Untuk pertama kalinya saya merasakan pahitnya ditinggal orang terdekat.


Aqilah El-Hafizhah

Sabtu, 06 Mei 2017

Musik

Saya dalam perjalanan ke rumah salah satu santri kami yang baru saja menyelesaikan penyetoran hafalan Al-Qur'an 30 Juz. Kunjungan ini dalam rangka syukuran orangtauanya atas keberhasilan sang anak dalam menghafal Al-Qur'an. Bersama seluruh santri tahfizh, teman-teman kelasnya, dan segenap guru yang sempat, kami berangkat menggunakan bus.

Dan saat sini, di tengah keramaian para santri, saya duduk dengan headset di telinga. Memutar murottal dengan volume full, berusaha melawan riuhnya musik yang menggema di seluruh sudut bus.



Entahlah, mendengar musik yang memekakkan telinga ini tiba-tiba melahirkan rasa resah dan sedih. Kuakui, dulu, saya termasuk penikmat musik. Meski tidak semua jenis musik.

Hingga satu waktu, saya penasaran dengan sebuah judul ceramah, "Musik Bagiku Halal". Ceramah yamg dibawakan oleh Ust. Syafiq Riza Basalamah yang membahas panjang lebar tentang hukum musik. Penjabaran yang membuatku berpikir ulang mengenai hukum musik.

Beliau tidak bilang, musik itu haram atau halal. Sebatas memaparkan pendapat para ulama salaf mengenai musik. Dan membiarkan kami berpikir dan memilih pendapat yang dianggap meyakinkan.

Awalnya masih bingung untuk menentukan sikap. Maka untuk lebih aman, kupilih untuk menghindarinya. Tiap kali ingin memutar nasyid selalu muncul pemikiran, "Kenapa tidak putar murottal saja? Bukannya ini lebih bermanfaat dan bisa sekaligus untuk mengulang hafalan?"

Pemikiran inilah yang selalu muncul tiap ingin memutar musik. Dalam waktu yang cukup lama.

Hingga Allah mengujiku dengan musibah kehilangan. Hp-ku raib, berarti koleksi musikku pun hilang. Alhamdulillaah, setelah ganti hp tidak lagi kuisi dengan lagu ataupun nasyid. Harapannya agar musik bisa semakin jauh. Dan saya akhirnya terbiasa dengan itu.

Maka, jika hari ini gelisah itu ada. Mungkin itu bagian dari penolakan hati ini terhadap musik. Sesuatu yang hadir perlahan, sangat pelan, sampai saya sendiri tak sadar kapan tepatnya telinga ini mulai merasa tak nyaman dengan berbagai macam musik.

Persoalan haram dan halalnya, wallâhu a'lam. Saya hanya berusaha menghindari hal-hal yang menjadi perdebatan. Semoga ini salah satu bentuk kehati-hatian terhadap perkara syubhat.

Aqilah El-Hafizhah 

Selasa, 02 Mei 2017

My Beloved Mother



Sudah kurang lebih sebulan kepergian kakak pertamaku. Duka itu perlahan sembuh seiring berjalannya waktu, meski sesekali ia kadang tiba-tiba hadir. Overall, semuanya mulai membaik.

Salah satu hikmah yang sangat kusyukuri dari musibah ini adalah bisa tinggal bersama kembali dengan mama. Kehadirannya di rumah teramat berarti. Meskipun tidak begitu banyak waktu yang bisa kami habiskan bersama karena padatnya aktivitas di luar sepanjang hari.

Tapi, ada moment-moment sederhana yang amat berkesan dan bisa membuatku sangat bahagia dan bersyukur. Seperti saat saya pamit untuk beraktivitas. Menyalami telapak tangannya yang lembut dan mengecup punggung tangan yang sudah keriput. Lalu dia yang tak pernah luput berbisik sebelum saya berlalu, "Perbaiki niat selalu, Nak."

Sederhana, tapi penuh makna.

Pun saat pulang di sore hari, saat lelah tak terelakkan.  Menemuinya, menanyakan bagimana sepanjang harinya di rumah, lalu kamipun bertukar cerita tentang sepanjang hari itu. Meski kadang lebih banyak keluhan yang kusampaikan. Dia mendengar segalanya, lalu menasehatiku.

Menentramkan! Inilah definisi lain dari bahagia.

Bakda maghrib, mengaji berdampingan dengannya, atau kadang dia hanya sekadar duduk mendengarkanku muraja'ah. Lalu sesekali kami diskusi tentang sulitnya memelihara hafalan dan begitu mudahnya ia hilang.

Sebuah sharing yang menyenangkan.

Saat membuka mata, dirinyalah yang selalu kulihat pertamakali. Dia yang sedang khusyuk bermunajat pada-Nya. Atau hanya sempat mendengar dia membaca lembar-lembar kalam-Nya saat saya agak telat bangun.

Kemudian, shalat subuh berjama'ah dengannya menjadi aktivitas terakhir yang kami lakukan bersama. Saya sudah harus bersiap-siap untuk memulai aktifitas kembali.

Rabbi, terima kasih untuk setiap moment ini. Singkat dan sederhana, tapi penuh makna. Jaga ia selalu, berikan kesehatan, kekuatan, dan umur yang berkah untuknya. Rahmati dia, selalu, hingga di akhir usianya. Allaahumma aamiin.


Aqilah El-Hafizhah
Terima kasih telah menjadi Ibu yang luar biasa untuk kami, anak-anakmu.

Selasa, 28 Februari 2017

Mengapa Aku Menghafal Al-Qur'an?


Kemarin sempat ada ketegangan di antara kita. Tentang sebuah keputusan yang kubuat. Aku tahu, sebagian kalian mungkin merasa berat menerimanya. Bahkan mungkin ada yang merasa keputusan ini tidak adil baginya. Meski aku tidak serta-merta mengetuk palu untuk keputusan ini, kubiarkan kalian sendiri yang memutuskan. Aku hanya berharap, penjelasan yang kuberikan bisa membuat kalian melunak atas keputusan yang akan kuambil. Agar tak ada rasa terpaksa.

Aku bersyukur, perlahan kalian bisa menerima. Mengizinkan. Tak tahu, apakah persetujuan kalian tulus seratus persen, atau hanya setengah hati, atau hanya terpaksa. Aku sungguh tak tahu apa yang ada di hati kalian. Tapi semoga itu adalah sebuah ketulusan. Semoga. Terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan untuk kawan-kawan kalian. Percayalah, Allah akan memudahkan urusan orang yang memudahkan urusan saudaranya. Ini janji Allah, maka yakinilah.

Dan hari ini, aku melihat sebuah penerimaan yang tulus. Iya, aku melihat kalian semua tulus atas keputusan yang kubuat. Kalian saling mendukung, sama-sama berusaha mencapai target masing-masing. Tak lagi peduli soal keberatan kalian yang kemarin. Turut bahagia melihat teman yang lain bahagia mencapai target. Bukankah ini menyenangkan? Bisa ikut tersenyum melihat orang lain bahagia? Cobalah untuk melapangkan, maka semuanya akan mudah dan menenangkan.

Dek, ketahuilah..

Menghafal Al-Qur’an itu bukan hanya sekedar siapa yang terjauh hafalannya, bukan pula tentang siapa yang lebih dulu menyelesaikan hafalan. Tidak sesederhana itu, Dek. Ada hal lebih penting yang harus kalian pahami, lebih dari sekadar kompetisi.

Tentang tujuan kalian.

Coba pikirkan kembali alasan kalian menghafal, apakah itu tentang menjadi yang tercepat khatam? Atau menjadi lebih cepat dari si ‘Dia’ ? atau hanya untuk mengikrarkan pada dunia, bahwa inilah aku, seorang hafizhah dengan pencapaian khatam hanya sekian bulan, atau setahun sekian bulan? Atau sekadar untuk membuat orang berdecak kagum dan bangga atas prestasi hafalan kalian? Inikah tujuan menghafal kita.

Tentu tidak demikian. jangan sampai, Dek. Terlalu hina jika mengharapkan hal-hal semu. Ini bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang lebih baik, atau siapa yang tercepat. Bukan. Sama sekali bukan. Tentu kalian paham tujuan hakiki yang kumaksudkan.

Jalan yang sama-sama sedang kita tempuh ini terlalu mulia untuk kalian nodai dengan egoisme. Jangan lakukan itu, kumohon.

Sangat penting memahami tujuan, agar kalian bisa menghafal dengan tenang tanpa rasa khawatir. Agar kalian bisa menjadi kawan yang bisa tulus saling mendukung untuk maju. Dan ikut tersenyum saat teman kalian bisa maju, bahkan jika ia lebih baik dari kita. karena bukankah kita punya tujuan yang sama?

Saya berharap, proses karantina ini mengajarkan kalian tentang pentingnya menjadi kawan yang saling mendukung. Mengabaikan segala perasaan yang hanya akan membuat kalian berpecah. Kalian punya tujuan yang sama, maka melangkalah bersama. Jadilah kawan yang sungguh-sungguh ingin melihat kawan kalian sampai pada tujuannya, tidak tertinggal. Agar kalian bisa sampai pada tujuan bersama-sama.

Akan lebih indah jika kelak kalian bisa saling mengenang sebagai kawan yang saling mendukung, menghabiskan sebulan yang indah. Bukan saling berlomba dan akhirnya terkenang sebagai teman yang dahulu tak pernah memberi dukungan hanya untuk menjadi yang 'lebih' dari yang lain.

Tanyakanlah pada hati, Mengapa aku menghafal Al-Qur'an? Semoga hati kita masih bersih untuk menjawabnya dengan jujur.

*Untuk kalian, adik-adikku, dalam misi mulia. Sukses selalu.

Aqilah El-Hafizhah
In Quarantine Program

Senin, 28 November 2016

Peringatan Hari Guru

Hari guru memang sudah lewat, tapi kami baru bisa memperingatinya hari ini. Tak masalah, bahkan harusnya kita tak butuh satu hari paten untuk memperingati hari guru, bukan? Hari ini, tepat saat pelaksanaan Apel pagi yang rutin dilaksanakan tiap hari Senin kami rangkaikan dengan perayaan hari guru. Membuat upacara pagi ini sedikit berbeda dengan apel-apel sebelumnya. 

Sebenarnya cukup sederhana dan biasa, tapi cukup berkesan. Kali ini bukan para santri yang bertugas memimpin berjalannya Apel. Mulai pemimpin upacara, protokol, pembacaan tilawah, pembacaan ayat keyakinan, juga pembacaan do’a, semua dipimpin langsung oleh para guru.

Suasana Apel pagi ini: Senin, 28 November 2016

Seluruh santri berbaris rapi di lapangan, pun tim paduan suara. Yang membuat pagi ini sedikit berbeda karena barisan depan yang biasa diisi santri kini diambil alih oleh para guru yang sudah bersiap menggantikan posisi santri yang biasanya bertugas.

Bagian paling menarik dan mengharukan dari rangkaian apel pagi ini adalah saat pemimpin upacara memberikan nasehat. Kali ini dipimpin oleh Ibu Syamsiah Sa’ad, Ibu manager operasional SPIDI. Singkatnya, di akhir speach beliau mengenang guru-guru yang pernah berjasa mengajar dan mendidik beliau. Mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala jasa mereka. Bahwa tanpa mereka, para guru, beliau tak akan bisa berdiri hari ini seperti yang kami saksikan. Dan masih banyak lagi yang beliau sampaikan. (Lagu tentang guru mengalun lirih mengiringi kalimat-kalimat beliau, membuat suasana pagi ini semakin mengharukan)

Pujian dan ucapan terima kasih ini diucapkan secara langsung pada guru-guru beliau yang sampai hari ini masih berstatus sebagai guru di SPIDI. Menyebutkan nama mereka satu-persatu. Diantaranya ada Ibu Heri, Ibu Fatimah, Ibu Ida, Ibu Dima, mereka yang hingga kini masih setia dengan profesi yang amat mulia. Hari ini mereka menyaksikan satu dari sekian banyak amal jariah mereka berterima kasih dengan tulus. Tentu amat membanggakan dan membahagiakan bagi mereka bisa menyaksikan hari ini.

Sebagai apresiasi terima kasih mereka diundang ke tengah lapangan. Ibu Syamsiah menyerahkan secara langsung bingkisan untuk mereka, sambil bersalaman dan berpelukan. Pemandangan yang mengharukan! Butiran bening mengalir tulus dari mata para hadirin. (music terus mengalun)

Di barisan depan, barisan para guru saya berdiri takzim menyaksikan pemandangan mengharukan ini. Tak kuasa menahan air mata menyaksikan semuanya. Bukan hanya karena peristiwa ini memang  mengharukan. Tapi karena mereka, para guru yang berdiri di tengah lapangan itu, mereka juga adalah guru-guruku. Guru yang amat berjasa membagikan ilmu mereka, memberikan keteladanan seorang guru yang sesungguhnya.

Yah.. mereka, para guru yang dengan bangga selalu kuceritakan tentang mereka pada teman-teman kuliahku; bahwa saya mempunyai guru-guru yang luar biasa. Guru yang mengajari kami dengan tulus. Ah.. butuh tulisan khusus untuk menceritakan mereka. Dalam catatan khusus mungkin.

Barisan bubar, segera kutemui mereka, guru-guruku. Memulainya dari Ibu Ina, guru idola dan fafvoritku. Kusalami dan kucium tangannya. Kupeluk erat beliau. Jujur, baru kali ini saya memeluk beliau seperti ini. ingin sekali kuucap terima kasih tak terkira dan memohon maaf, tapi lidahku seakan kelu. Tak ada sepatah katapun mampu terucap, hanya air mata yang terus mengucur deras. Tapi beliau membisikkan beberapa kalimat yang terus terngiang sampai saat ini. Beliau terus memegang kepalaku dan mengucapkan harapan-harapan beliau padaku. Itulah yang sempat kutangkap dari setiap kalimatnya. Sesaat sebelum para santri ikut bergabung, berlomba menyalaminya.

Aku melangkah, menemui guruku yang lain. Menyalami dan memeluk erat Ibu Fatimah, kami sama-sama menangis. Tanpa kata-kata, hanya ada air mata. Begitu juga dengan Ibu Ida, kusalami dan kupeluk beliau. Sayangnya tak sempat kusalami Ibu Heri, beliau sudah jauh bergabung dengan para santri yang juga sibuk menyalami para guru. Saya memilih menunduk, menyembunyikan muka saat santri-santri menyalamiku. Ah.. saat seperti ini, tak perlu kata-kata untuk menjelaskan perasaan kita, setiap kejadian sudah cukup memberi penjelasan atas suasana hati kami saat ini.

Terima kasih untuk hari ini. Hari yang memberikan kesempatan untukku bisa memeluk erat guru-guruku. Merasakan kembali betapa berjasanya mereka. Semoga kami bisa menjadi salah satu amal jariyah bagi kalian. Mari saling mendo’aakan.


Aqilah El-Hafizhah 

Jumat, 18 November 2016

Kalimat jleb dari Syekh Abdurrahman Bakr

Sudah lama saya tidak menambah catatan apapun di blog. Tapi hari ini sesuatu memaksaku untuk menulis. Bagi orang mungkin ini terdengar sederhana, tapi tidak denganku.  Karena itulah saya ingin sekali menuliskannya. Tentang hari ini dalam kegiatan DAURAH METODE BACA QUR’AN AT-TIBYAN


***

Hari ini melelahkan. Duduk selama kurang lebih enam jam menyimak pelajaran cukup menjadi alasan lelah. Tapi saya sangat menikmati dan bersemangat mengikuti setiap rangkaian kegiatan daurah ini.

Ada banyak hal yang membuat saya begitu bersemangat sebenarnya. Tapi yang ingin kutuliskan malam ini cukup satu hal saja dulu.

Tentang sederet kalimat yang diucapkan Syekh Abdurrahman Bakr di awal pertemuan. Tepatnya pada bagian pengantar. Kalimat yang amat menusuk dan membekas buat saya pribadi. Kalimat yang menjadi pemicu semangatku belajar. Syekh bilang,

“Hal pertama yang harus diluruskan adalan Niat. Tanamkan dalam diri bahwa saya mengajar ini lillaah. Saat ingin keluar rumah untuk ngajar, katakan, ‘Saya keluar ngajar ini lillaah’. Sebelum masuk kelas katakan lagi ‘Saya akan ngajar ini lillaah’, kita melakukan segala sesuatunya itu lillaah. Dengan begitu kita akan mengajar sepenuh hati dan sebaik mungkin. Kita tidak memperbaiki cara ngajar kita hanya saat direktur atau pengawas hadir menyaksikan kita, lalu mengajar santai dan asal-asalan saat tak ada direktur ataupun pengawas. Yakinlah bahwa setiap detik yang kita habiskan dalam kelas itu berada dalam pengawasan Allah.”

Ini sedikit dari yang bisa kuingat. Kalimat ini jleb banget buat saya. Rasanya seperti baru kali ini saya mendengar nasehat tentang pentingnya niat dalam aktivitas kita, terkhusus saat mengajar. Saya menunduk, mataku terasa panas menahan sesuatu agar tak sampai keluar. Tanpa diperintah memoroku mulai memutar kembali saat-saat saya mengajar.

Ah.. menjadi guru itu tidak mudah. Penuh tanggung jawab. Dan apa kata Syekh tadi, setiap detik yang kita habiskan dalam kelas itu adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Ya Rabb, bagaimanalah ini.  Tetiba saya merasa takut sekaligus semangat untuk belajar lebih baik lagi.

Ada banyak hal menarik dari kegiatan daurah hari ini. Tapi cukup ini saja dulu yang kutulis. Daurah ini masih berlangsung hingga enam hari kedepan. Semoga Allah memberi kesehatan dan kesempatan untuk kami kembali belajar bersama Syekh Abdurrahman Bakr.

Jazaakallaahu khair, Syekh.. nasehat ini amat berkesan buat saya.

Aqilah El-Hafizhah





Minggu, 09 Oktober 2016

Fatamorgana Kebahagiaan

Pagi ini, menyempatkan membaca chat di grup WA yang sudah menumpuk. Ada satu tulisan yang sangat berkesan dan ingin 'kuamankan' di sini. Mungkin esok atau lusa, aku butuh untuk kembali membacanya. Rumah ini semoga menjadi tempat yang tempat untukku kembali saat waktu itu tiba..

Tentang bagaimana memperoleh ketentraman hati dengan segala kerumitan hidup yang kita hadapi.
___________________________

💦 :: *_Fatamorgana Kebahagiaan_*::

🍃Banyak para pekerja di ibukota sebenarnya tertekan. Namun karena mereka sudah terbiasa harian tertekan, maka mereka tak mengakuinya.

 Tekanan kemacetan, tekanan saat dikreta, dan finansial.

💔Bayangkan, berangkat di hari masih belum terang betul, tetap ada peluh akibat kemacetan dan kereta yang penuh sesak.

💦Pulang di hari masih ada terang, terjebak macet atau kereta yang sesak lagi hingga baru bisa melihat *senyuman* istri di hari sudah gelap betul. Itu pun jika istri tak bekerja jauh.

🌴Tidak bisa dihindari lagi. Kebutuhan ekonomi. Harus bekerja sepeluh itu. Semua itu dijalani oleh manusia ibukota, walau tidak semua.

💐Kaum Ibu pun hari harinya tak kalah lelah dan penat dengan para pekerja itu, mereka harus menghadapi rengekan anak, keterbatasan finansial, mendidik dan membentengi anak anak mereka dari pemahaman yang merusak aqidah dan akhlak mereka, begitu sangat melelahkan, penat, dan menjenuhkan.

❣Ada diantara mereka yang berusaha mengalihkan *"keperihan jiwa dan tekanan hidup"* dengan kebahagiaan yang *_semu_*, bermain game saat dikreta meski sesak, membaca berita, menonton tv, mensetel mp3  Banyak sekali, Tapi rata-rata setel lagu, Layaknya meminum air laut  bukannya menghilangkan dahaga hanya menambah dahaga.

🌱Maka jadilah hati hati kita, hati yang penuh dengan kegersangan. Tubuh lelah dengan aktifitas, qalbu galau karena 'rindu' akan PemilikNya (Allah)....

🌷Karenanya tidak heran bila selalu saja ada yang mewartakan berita kejahatan dimedia atau banyak yang masuk RS Jiwa.

🌺Himpitan ekonomi, tekanan pekerjaan, rutinitas yang menjenuhkan namun qalbu tak mendapatkan 'kesegaran', jadilah kita mayat mayat hidup.

💦Mungkin ada baiknya kita merubah kebiasaan untuk menyegarkan jiwa yang seolah teriak dan berontak dengan ibadah, agar ketentraman qalbu tetap bisa kita rasakan meski ditengah pahit dan getirnya kehidupan...

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah."
(Qs. Al Balad : 4)

🍃Karenanya kita takkan menemukan dalam sejarah ada Nabi atau Sahabatnya yang stres atau bunuh diri karena beban kehidupan, meski sama sama kita ketahui ujian mereka jauh lebih berat dibanding tekanan hidup kita.

💖Karena mereka memahami petunjukNya :

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram."(Qs. Ar Ra'd : 28).

Karena.... *_"Bila qalbu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh."_*

📚Sekedar masukan, Ada beberapa Ibadah yang bisa kita lakukan untuk "menyegarkan" jiwa jiwa yang "lelah"....


💖 (1) *SHALAT.*
Bersyukurlah kita menjadi seorang mukmin, min 5 kali sehari kita bisa menyegarkan jiwa kita, belum lagi bila ditambah dengan shalat sunnahnya.

Resapi bacaannya, Resapi gerakannya, -insya Allah- kita akan merasakan NIKMATNYA Ibadah shalat. Shalatlah dengan berjama'ah (bagi laki2).

Shalāt adalah ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

🌿Bahkan saking agungnya perkara shalat, saking nikmatnya perkara shalat, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata kepada Bilāl:

يَا بِلَالُ, أَقِمِ الصَّلَاةَ ! أَرِحْنـــَا بِهَا

"Ya Bilāl, dirikanlah shalāt, *istirahatkanlah* kami dengan shalāt."

(HR Abu Daud nomor 4333, versi Baituk Afkar Ad Dauliyah nomor 4985)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mendapati shalāt adalah tempat istirahat, shalāt adalah ketenangan.

🌿Dalam riwayat yang lain kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَجُعِلَ قُرَّةٌ عَيْنِيْ فِيْ الصَّلَاةِ

"Dijadikan *kesejukan* pandanganku pada shalāt."

(HR Imam Ahmad nomor 11845)

Dan terlalu banyak faedah serta dalil yang menunjukkan keutamaan shalāt.

💖 *(2) Membaca alQur'an Dengan Metadaburrinya / Mensetel Murotal*

❣Allah _subhanahu wa ta'ala_ berfirman;

ﺃَﻓَﻠَﺎ ﻳَﺘَﺪَﺑَّﺮُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺃَﻡْ ﻋَﻠَﻰٰ ﻗُﻠُﻮﺏٍ ﺃَﻗْﻔَﺎﻟُﻬَﺎ

*_"Maka apakah mereka tidak mentadabburi (menghayati makna) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?."_*
[QS. Muhammad: 24]

❣ Berkata Imam Ath Thabari rahimahullah ;

‏ﺇﻧﻲ ﻷﻋﺠﺐ ﻣﻤﻦ ﻗﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻛﻴﻒ ﻳﺘﻠﺘﺬ ﺑﻘﺮﺍﺀﺗﻪ

_"Sungguh aku heran dengan seseorang yang membaca Alquran namun tidak mengetahui tafsirnya,_

*_Bagaimana ia bisa merasakan KELEZATAN dalam membacanya_?*

💖 *(3) Memperbanyak Istighfar.*
Dosa itu racun hati, racun yang dapat menggelisahkan jiwa, membuat jiwa galau dan gersang, dan obatnya adalah taubat dan istighfar. Dosa itu karena meninggalkan yang Allah perintahkan, atau melakukan yang Allah larang, dan induk dosa itu ada tiga, yakni : Syirik, bid'ah, dan maksiat.

❣Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan :

"Engkau merasakan PAHITNYA KEGELISAHAN karena MAKSIAT kepada-Nya, tetapi engkau tidak mencari KEDAMAIAN HATI dengan ta'at kepada-Nya."

(Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Asy Syafi'i, hal 501).

💖 *(4) Memperbanyak dzikir.*
Baik dzikir masuk / keluar toilet, dzikir mau tidur, terutama dzikir selepas shalat 5 waktu, dan dzikir pagi dan petang.
Luangkan waktu selepas shalat shubuh untuk membaca dzikir pagi dan selepas ba'da asar membaca dzikir petang.

❣  "Siapa yang merenungkan makna bacaan dzikir pagi dan petang, dia akan mendapatkan bahwa bacaan tersebut berisi PUJIAN bagi Allah, dan DO'A dari orang yang merasa BUTUH kepadaNya. Semakin TINGGI rasa kebutuhan Anda kepada Rabb Anda, semakin nampak pula siapa sejatinya diri Anda, dan akan HILANGdari diri Anda, sikap sombong dan ujub."

[Imama Masjid al Ghazali, kuwait. Murid Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin 13/4/2014 l twitulama.com]

*Inilah amaliyah yang mudah namun sangat dahsyat....*
*Ia (dzikir) adalah sebaik baik vitC-emangat...*

💐  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Siapa yang tak sanggup menghidupkan malam dengan ibadah, pelit dengan harta untuk berinfak dan takut melawan musuh dalam jihad, maka hendaknya dia memperbanyak berdzikir mengingat Allah” (Shahih at Targhib 1496)

[ Dr Hisyam al Husani, anggota dewan pendidikan di Uni Emirat Arab, s3 dalam bidang fikih muamalah, s2 dalam bidang akidah 7/4/2014 l twitulama.com]

⛔ *Lalai darinya berbuah kegalauan, kemalasan , dan kepenatan...* 💔

❗"Betapa celaka, orang yang mencelakai dan menghancurkan dirinya dengan lalai dari berzikir mengingat RabbNya."

[Dr Muhammad Jabir al Qahthani Dosen Ilmu al Quran di Universitas King Khalid, Abha | twitulama.com]

🌷Berkata Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu :

"Dzikir kepada Allah meliputi dzikir dengan asma asma dan sifat sifatNya, dzikir dengan (mengingat) perintah dan laranganNya, serta dzikir dengan (mengamalkan) firmanNya. dzikir dzikir tersebut MENUNTUT seseorang untuk :

✅1. MengenalNya,
✅2. MengimaniNya,
✅3. dan Mengimani sifat sifat kesempurnaanNya,
✅4. dan sifat sifat keagunganNya.

Dzikir dalam hal ini juga meliputi puji pujian kepadaNya dengan berbagai pujian mulia. Sungguh amal yg demikian tidak dapat dilakukan seseorang kecuali dengan TERLEBIH DAHULU mentauhidkanNya."

[Fawaidul Fawaid, hal 601-602, Pustaka Imam Asy Syafi'i]

Semoga amaliyyah harian ini bisa menjadi pelipur lara kita, ditengah pahit dan getirnya kehidupan, dan berbuah manjs diakhirat. Allahumma aamiin...

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

*_"sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu."_*

(Qs. Asy Syam : 9 )

__________
✍🏻 7 Muharram 1438H, Ba'da Shubuh.
Randi Abu Nasywah


•┈┈•❀❁🍃🌷🌼❣🌼🌷🍃❁❀•┈┈•

Repost by :
💝 *_..UNTAIAN FAWAID.._* 📝


💝 Join Channel @UntaianFawaid di Telegram: https://goo.gl/kun8Mj

*****

Demikian,,

Selasa, 27 September 2016

Hari Bahagia Fika

Hari ini, rasa bahagia tak terkira kembali kurasakan saat menyaksikan satu santri kami berhasil menyelesaikan hafalan juz 30-nya. Hafalan yang sudah dimulai sejak 21 Juli lalu akhirnya berhasil diselesaikan hari ini, 26 September 2016. Mungkin ada yang bilang, “Itu waktu yang cukup lama untuk hafalan satu juz,” ataupun komentar lainnya.

Yah! hafalannya memang tak secepat teman-teman yang lain. Fika menjadi satu-satunya santri di halaqoh kami yang masih berkutat pada juz 30 saat teman yang lain sudah beralih menghafal Juz 1 ataupun Juz 2. Salah satu penyebab utamanya karena dia memang baru mulai menghafal, sementara kebanyakan temannya sudah punya hafalan sebelumnya.

Apakah dia iri melihat hafalan teman-temannya yang sudah lebih jauh? Tentu saja, dia saaangat iri. Dia pun ingin seperti teman yang lain, sangat ingin mulai menghafal Juz 1. Apakah Ia pernah merasa bosan? Tentu saja!  Apakah dia pernah mengeluh? Tak diragukan lagi, entah berapa kali ia mengeluh.
 
“Ustadzah, macam mana nih hafalan, susah betul dihafal”
“Aku sudah capek, Ustadzah”
“Capek betul aku ulangi ustadzah, tapi tidak mau lancar”
(Dengan logat khas-nya)

Seperti inilah kerap kali keluhan-keluahan yang disampaikan dengan berbagai ekspresi. Kadang disampaikan dengan biasa saja, tapi kadang juga dengan perasaan jengkel pada hafalannya yang tidak mau ‘dihafal’. Kadang pula dia meneteskan air mata untuk itu. Tapi untuk setiap keluhan, kesedihan, bahkan kemarahannya, izinkan saya lima-sepuluh menit memberikan nasihat/motivasi/ceramah/ataupun bujukan, maka dia akan membaik. Sebuah kesyukuran karena dia mudah paham dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan.

Dia bahkan pernah bilang saat saya menasihatinya, “Ustadzah tak paham, capek betul saya menghafal. Ustadzah enak, tidak capek karena hanya mendengarkan. Kita ini yang capek karena harus menghafal.” Komentar yang kusambut dengan tawa sambil memikirkan jawaban terbaik untuk menanggapi argumennya kali ini. Selalu ada banyak tanya dan komentar darinya, dan saya pun sudah terbiasa untuk itu.

Jika dia pernah bosan dan sering mengeluh, pernahkah ia berpikir untuk menyerah?

Inilah yang tidak dimilikinya. Meski dia sering mengeluh, hafalannya sudah tertinggal, dan menyatakan rasa iri-nya terhadap hafalan teman-temannya, tapi ia tak pernah sekalipun mengatakan ingin menyerah. Dia tidak menyerah meski harus berjalan lambat untuk mencapai tujuannya. Saya bisa melihat keseriusannya ingin menghafal Al-Qur’an meski saat itu belum tahu alasan pastinya. 

Perjalanan menghafalnya masih seumur jagung. Tapi ada banyak sekali cerita yang tercipta. Cerita yang mungkin terlihat sederhana dan biasa saja, tapi sangat membekas buat saya pribadi sebagai pembina halaqohnya. Menemaninya menghafal setiap hari membuatku paham betul bagaimana perjuangan dia menyelesaikan Juz 30. Itu sungguh bukan hal yang mudah. Sesuatu yang diperoleh dengan usaha.

Suatu waktu, untuk pertama kali ia bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Sebuah cerita yang mengharukan. Baru kali itu saya melihat si ceria Fika menangis sesegukan. Terutama saat bercerita tentang Ibu-nya. Seseorang yang menjadi alasan mengapa dia harus menghafal Al-Qur’an.

---------------------

Dan hari ini, setelah menyetorkan hafalan Qs.Al-Qari’ah.

“Dengarkan Ustadzah, hari ini saya bahagia sekali karena hafalan saya sudah Qs. At-Takatsur. Saya sudah hafal sampai selesai karena ini sudah saya muroja’ah di TPA, jadi saya akan khatam ustadzah” ucapnya dengan senyum bahagia.


Dengan semangat dia mulai menghafal surah demi surah hingga Qs.An-Naas.

Selamat, Nak. Kalau kau sangat bahagia hari ini, Ustadzah pun sangat bahagia melihatmu berhasil menyelesaikan Juz 30. Teman-teman kalian pun turut bahagia dan mengucapkan selamat untuk itu. Mereka paham betapa sulitnya kau sampai pada titik ini. Tapi karena pantang menyerah akhirnya kau berhasil.

Terima kasih karena telah menjadi pembawa keceriaan di halaqoh kita. Kau sangat pandai membuat kami tertawa. Kau bahkan menghafal segala yang pernah ustadzah nasihatkan dan menyampaikannya lagi kepada teman-teman. Meski mereka lebih sering tertawa, tapi begitulah kehangatan yang ada dalam halaqoh kita. Ada banyak hal yang bisa kutuliskan tentangmu, tapi mungkin di lain waktu.

------------------

Menyelesaikan Juz 30 hanyalah sebuah awal dari perjalanan menghafalmu. Masih ada 29 Juz lagi yang harus kau lewati. Semoga Allah memberikan kesempatan, keistiqamahan, kesabaran, dan kemudahan untuk bisa menyelesaikan hingga 30 Juz. Allaahumma aamiin..

Sebuah catatan kecil di hari bahagia Fika,

Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 18 Agustus 2016

Jangan pernah menyerah, Nak!

Namanya Balqis Dzakirah. Akrab kusapa Balqis. Siswa yang baru tahun ini bergabung di SPIDI dan memilih kelas penghafalan Al-Qur'an.

Pertamakali mengenalnya saat tes seleksi masuk Tahfizhul Qur'an SPIDI. Ada sekitar empat puluan santri yang ikut tes, dan dia salah satunya.

Balqis, gadis ramah dan supel. Saya senang mengenalnya sejak awal bertemu, dia yang begitu saja ngomong ke saya seolah kami sudah lama mengenal.

"Ustadzah, suara saya hilang. Saya bisa melagu dan mengaji dengan baik, tapi sekarang suara saya jelek. Saya serius, ustadzah.. saya takut tidak lulus," keluhnya cemas dengan suara serak yang dipaksakan keluar. Saya tersenyum, "Baca dulu yah.. in syaa Allah kalau bacaannya bagus, pasti lulus."

Beginilah kira-kira percakapan pertama kami. Dan bacaan Al-Qur'annya memang bagus, tajwid dan makhorijul hurufnya sangat lumayan. Dia layak untuk lulus.

***

Takdir Allah lah yang akhirnya mempertemukan kami kemudian dalam halaqoh yang sama. Ada tiga halaqoh baru yang dibentuk, dan dia bergabung dengan halaqoh yang saya pegang.

Tantangan menghafal datang di awal ia mulai menghafal juz 30. Hafalan terasa sangat sulit masuk, keluhan demi keluhan terluapkan. Terlebih saat melihat teman-teman lain begitu mudah menyelesaikan juz 30 mereka, itu karena kebanyakan mereka memang sudah menyelesaikan juz 30 sebelumnya. Saat masih SD. Berbeda dengan Balqis yang hanya menghafal beberapa surah dari juz 30.

Bukan hanya keluhan yang terlontar, dia bahkan mulai sering menangis. Dia menangis seperti minum obat, 3x sehari. Sangat sedih memikirkan hafalannya yang sudah tertinggal lumayan jauh dari teman-teman yang lain. Saya juga merasa sangat sedih harus menyaksikannya terus menangis dan mulai mengungkapkan kalimat-kalimat pesimis. Tak ada yang bisa kulakukan selain terus mendo'akan, menasehati dan menguatkannya dengan berbagai cerita-cerita inspiratif dan kalimat-kalimat motivasi. Itulah yang bisa kulakukan sebagai Ustazhah-nya.

Seiring waktu berjalan ia mulai paham arti sabar dalam menghafal. Dia tak lagi sering menangis, keluhannya pun mulai berkurang. Walau masih tertatih, tapi ia tetap berusaha menghafal surah demi suruh dari juz 30. Tak lagi mengeluhkan hafalannya yang masih juz 30 saat teman yang lain sudah memulai hafalan juz 1.

***

Tak terasa akhirnya Ia berhasil menyelesaikan Juz 30. Tepatnya 15 Agustus Ia muroja'ah Juz 30 dengan sekali duduk. Al-hamdulillaah... tak henti kuucap syukur atas keberhasilannya. Rasa bahagia dan haru menyeruak di dada.  Tak tahan mataku berkaca saat mengingat masa-masa sulit yang Ia hadapi saat menghafal. Saya sungguh sangat bahagia melihatnya berhasil menyelesaikan hafalan Juz 30-nya.

Setelah muroja'ah juz 30 sekali duduk, Ia masih harus mengikuti tahap Evaluasi untuk penguasaan hukum-hukum tajwid dan tes hafalan dengan metode sambung ayat. Barulah setelah itu boleh memulai hafalan Juz 1. Dan Al-hamdulillah hari ini bisa terselesaikan. Ia berhasil melewati tahap demi tahap dengan sangat baik. Selamat, Nak!

Balqis saat Evluasi juz 30

_______________

Perjalananmu melewati Juz 30 tidak mudah, Nak. Tapi melalui proses sulit itu kau belajar tentang kesabaran dalam menghafal. Bukan hanya kesabaran, juga kegigihan untuk meraih sesuatu. Bahwa jika kau mau tetap bersabar dan berusaha, kau pasti berhasil. Pemahaman ini sangat berharga untuk perjalanan menghafalmu kedepan, karena akan banyak tantangan lagi yang akan kau hadapi.

Ustadzah dan teman-teman halaqoh lain yang sering mendukungmu tentu menjadi saksi perjuanganmu saat menghafal, dan kisahmu akan menjadi inspirasi buat orang lain.

Jika kelak kau menghadapai hal yang sama, ingatlah bahwa kau pernah berhasil melewatinya. Jangan pernah menyerah, Nak!

"Man jadda wajada"

Baarakallaahu laki.. Semoga selalu istiqomah dalam menghafal.


Bersama segenap rasa haru, bangga, dan bahagia
Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 26 Mei 2016

Kami ingin Mengubah Dunia


Saya pernah mengikuti sebuah kajian yang selalu teringat hingga saat ini. Waktu itu hari jum'at, pengurus LDK selalu memanfaatkan moment jum'at ini dengan kajian jumat bagi akhawat. Kami yang tidak punya cirihas (setiap LDK biasanya dikenal dgn cirihas pakaian masing2) menjadi target mereka untuk ikut meramaikan kajian jumat mereka.

Karena tidak enak sudah diajak berulangkali dan selalu menolak, akhirnya saya dan beberapa teman ikut. Biarlah, sekali-kali ikut. Kebetulan saat itu mendekati peringatan hari sumpah pemuda, maka pembahasannya tentang pemuda sebagai agent of changing.

Pembicara membawakan materinya dengan penuh semangat. Intonasinya diatur sedemikian rupa untuk membangkitkan semangat kita sebagai pemuda.

Dari ulasannya, untuk beberapa hal saya sependapat dengan argumen yang disampaikan. Tapi lebih banyak yang tidak bisa kuterima. Saya hanya diam menyimak dan menyaring, toh, setiap kita bebas berpendapat.

Entah kenapa sebuah statement tiba-tiba membuat saya ingin menimpali. Saya tak bisa menerima statement yang satu ini. Katanya,

"Kami ini tidak ingin merubah setiap individu, kami hanya ingin merubah dunia. Dan kami sudah menyusun beberapa strategi untuk bisa merubah dunia dalam beberapa tahun kedepan"

Saya mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa? Mungkinkah merubah dunia dengan mengabaikan perubahan secara individu?

Tak sabar saya menunggu sesi berikutnya. Sesi tanya jawab! Ingin sekali menanyakan apa dasar mereka dengan statement ini.

Seandainya dia hanya bilang, 'kami ingin merubah dunia' aku tentu terima. Ini sebuah harapan besar dan mulia. Yang menggangguku adalah statement sebelumnya, 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Bukankah konsep perubahan yang diajarkan kitab pedoman kita adalah memulai perubahan itu dari diri sendiri? buka (QS.Ar-Ra'du: 11)

Apalagi kita sebagai wanita yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Maka hal pertama yang harus diubah dan diperbaiki tak lain adalah diri, kepribadian, dan keilmuan kita. Itulah pesan Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam 'Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir'. Didik anakmu sebelum ia lahir berarti perbaiki kepribadian kita jauh sebelum ia lahir. Karena kelak kitalah yang menjadi guru pertama dan teladan baginya.

Artinya apa? Fokus perubahan itu sejatinya berawal dari diri sendiri, lalu orang-orang sekitar kita. Tak usalah sibuk memikirkan perubahan dunia lalu abai pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Karena dari kitalah kelak akan muncul generasi baru. Jika setiap wanita berusaha mempersiapkan diri untuk menjadi madrasah bagi anak-anaknya, maka dari sanalah kelak akan lahir generasi harapan. Generasi yang diharapkan bisa mengubah dunia. Semua berawal dari setiap individu.

Maka tegas saya menolak statement bahwa 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Jika saya tak mampu merubah dunia, maka cukuplah saya merubah diri dan keluargaku dahulu.
________

Itu adalah kajian terakhir yang saya ikuti dari organisasi mereka. Saya tidak lagi berminat untuk ikut, dan mereka juga tidak pernah lagi mengajakku bergabung.

Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 19 Mei 2016

Orang Konsisten Itu Hebat


Konsisten itu berat!

Benar, kan?

Benar sekali!

Dialog dengan hati ini terlintas begitu saja saat saya mebuka akun blog dan melihat daftar tulisan teman-teman ODOP yang masih konsisten dengan tekad mereka untuk menulis setiap hari. Mengingatkan bahwa saya juga pernah seperti mereka. Berjuang semampuku untuk tetap bisa konsisten.

Ada perasaan sedih saat menyadari bahwa saya bukan lagi bagian dari mereka. Hanya bisa tersenyum, dan semakin sadar bahwa menjadi pribadi konsisten itu sungguh bukan hal yang mudah. Ada banyak kegiatan yang telah ataupun sedang saya ikuti, dan semuanya menuntut KONSISTEN sebagai syarat untuk tetap bertahan. 

Saat konsisten sudah menjadi harga mati untuk tetap bertahan, maka hanya dengan tekad yang kuat kita bisa menaklukkannya. Itulah yang kulakukan! Berusaha semampuku untuk tetap bertahan di semua kegiatan yang saya ikuti.

Tapi pada akhirnya, saya telah melepas salah satunya sebelum sampai di akhir perjalanan. Saya mundur dari medan, menyadari bahwa saya tak lagi konsisten. Hanya berharap bahwa cukup saya melepas ini saja, dan tetap konsisten pada yang lainnya.

Maka kukatakan, hanya orang hebat yang bisa konsisten! Mereka bisa bertahan dan tetap konsisten di tengah banyak kesibukan dan permasalahan lainnya. Berusaha keluar dan melawan segala keterbatasan yang ada. 

Konsisten itu berat, kawan. Maka bersyukurlah jika anda mampu manjadi pribadi demikian di semua hal. Yah.. di SEMUA hal, bukan hanya di salah satunya.

Dan pagi ini, saat saya merasa free dari kesibukan, beragam kalimat pengandaian mulai berkeliaran di kepalaku. 

"Ah.. seandainya saya masih bagian dari mereka"


Aqilah El-Hafizhah
Merindukan atmosfer ODOP 
yang telah hilang

Makassar, 19 Mei 2016