Selasa, 03 Mei 2016

Skenario Takdir (1)

Part 1: Sebuah Awal

Seorang lelaki berumur 24 tahun tengah asyik dengan novel di tangannya. Duduk di balik jendela pada kursi kayu jati yang masih terlihat kuat. Sama sekali tak terganggu dengan derasnya hujan di luar.

Sudah lebih dari dua jam ia di sana, berkutat pada novel bersampul hijau dengan judul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya penulis favoritnya, Tere Liye.

Jika itu karya Tere Liye, ia tak akan berhenti membacanya hingga tuntas, hanya kumandang azan yang bisa menghentikan aktivitas itu. Makanya, novel yang sudah lima hari dibelinya baru ia baca, sengaja memilih waktu luang untuk melahapnya, tak ingin terganggu apapun.

Matanya beralih pada jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, menatap pekatnya malam dengan tetesan hujan yang terbungkus gelap. Membaca setengah novel ini mengingatkannya sesuatu. Tentang persaannya, tentang seseorang di masa kecilnya. “Ah.. kisahku sedikit mirip denganmu, Tania” ia bergumam pelan. Bibirnya membentuk senyum kecut. Buku itu dibiarkan tetap terbuka, sementara pikirannya menerawang pada belasan tahun yang lalu. Hujan sempurna menjadi moment tepat untuk mengenang banyak hal. Tepat seperti Tania, tokoh dalam novel yang sedang ia baca.

###

Palopo, Sulawesi Selatan, di sebuah desa yang jauh dari kota..

Alif tersenyum jail menatap bocah enam tahun dengan jilbab biru, berjalan riang  membawa plastik hitam di tangannya. Tersisa lima meter sebelum bocah itu melintas di hadapan Alif dan Fiki, mereka berbisik merencanakan sesuatu lalu tertawa bersemangat.

“Hei, ada apa di kantonganmu?” teriak Alif pada si bocah. Yang ditanya bingung melirik kantongan di tangannya.

“Kenapa?” tantangnya tanpa rasa takut. Ia kenal Alif dan temannya Fiki, mereka sering mengganggu anak-anak seusianya. Tapi Aina, gadis berkerudung biru itu sama sekali tak takut dengan mereka. Ajaran Ibu tentang budi pekerti, kejujuran, keberanian, dan banyak hal lain yang disampaikan lewat cerita telah menghujam pada diri Aina kecil.

“Kubilang apa yang kamu bawa? Berikan padaku!” Alif memaksa.

“Tidak mau, ini untuk Ibuku” Aina bertahan tidak menyerahkan kantongannya.

“Ayo berikan! Kamu tidak takut sama Alif? Kalau kamu tidak mau memberikan kuemu, akan kubuka jilbabmu” Fiki ikut mengancam. Ia tahu kalau Aina selalu berkerudung, tentu ia tak mau jika jilbabnya dilepas. Tentu saja Fiki tahu kalau isi kantongan itu kue meski Aina tak bilang isi kantongannya apa. Aina membeli kue itu tepat di depan mata Fiki tadi.

 “Jangan! Ini punya ibuku, kenapa kalian mau mengambilnya? Kata Ibu laki-laki itu selalu menjaga perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu perempuan. Pindah! Aku mau pulang.”

Aina buru-buru meninggalkan mereka. Menyisakan Alif dan Fiki yang masih heran. Baru kali ini ia mendapat perlawanan bahkan teguran dari bocah yang lebih muda darinya. Juga untuk pertama kali mereka tak berhasil membuat menangis mangsanya. Anak ini berbeda, ia sangat pemberani.

---------
Baca kisah selanjutnya: Part 2

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan Cerbung dari ODOP

4 komentar:

Ainayya Ayska mengatakan...

Aina itu Ainayya, bukan? Hihihiii

Sakif mengatakan...

penasaran, yang baca novel tere liye fiki atau Alif yaa?

Na mengatakan...

Aina hebat. Gak takut sama pengganggu cilik.

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Alif keknya yang baca novel Tere Liye itu mbak Kifa..#jadi dukun😅