Part 1: Sebuah Awal
Seorang lelaki berumur 24 tahun tengah asyik dengan novel di tangannya. Duduk di balik jendela pada kursi kayu jati yang masih terlihat kuat. Sama sekali tak terganggu dengan derasnya hujan di luar.
Sudah lebih dari dua jam ia di sana, berkutat pada novel bersampul hijau dengan judul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya penulis favoritnya, Tere Liye.
Jika itu karya Tere Liye, ia tak akan berhenti membacanya hingga tuntas, hanya kumandang azan yang bisa menghentikan aktivitas itu. Makanya, novel yang sudah lima hari dibelinya baru ia baca, sengaja memilih waktu luang untuk melahapnya, tak ingin terganggu apapun.
Seorang lelaki berumur 24 tahun tengah asyik dengan novel di tangannya. Duduk di balik jendela pada kursi kayu jati yang masih terlihat kuat. Sama sekali tak terganggu dengan derasnya hujan di luar.
Sudah lebih dari dua jam ia di sana, berkutat pada novel bersampul hijau dengan judul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya penulis favoritnya, Tere Liye.
Jika itu karya Tere Liye, ia tak akan berhenti membacanya hingga tuntas, hanya kumandang azan yang bisa menghentikan aktivitas itu. Makanya, novel yang sudah lima hari dibelinya baru ia baca, sengaja memilih waktu luang untuk melahapnya, tak ingin terganggu apapun.
Matanya beralih pada jendela yang
sengaja dibiarkan terbuka, menatap pekatnya malam dengan tetesan hujan yang
terbungkus gelap. Membaca setengah novel ini mengingatkannya sesuatu. Tentang
persaannya, tentang seseorang di masa kecilnya. “Ah.. kisahku sedikit mirip
denganmu, Tania” ia bergumam pelan. Bibirnya membentuk senyum kecut. Buku
itu dibiarkan tetap terbuka, sementara pikirannya menerawang pada belasan tahun
yang lalu. Hujan sempurna menjadi moment tepat untuk mengenang banyak hal.
Tepat seperti Tania, tokoh dalam novel yang sedang ia baca.
###
Palopo, Sulawesi Selatan, di
sebuah desa yang jauh dari kota..
Alif tersenyum jail menatap bocah
enam tahun dengan jilbab biru, berjalan riang
membawa plastik hitam di tangannya. Tersisa lima meter sebelum bocah itu
melintas di hadapan Alif dan Fiki, mereka berbisik merencanakan sesuatu lalu
tertawa bersemangat.
“Hei, ada apa di kantonganmu?”
teriak Alif pada si bocah. Yang ditanya bingung melirik kantongan di tangannya.
“Kenapa?” tantangnya tanpa rasa
takut. Ia kenal Alif dan temannya Fiki, mereka sering mengganggu anak-anak
seusianya. Tapi Aina, gadis berkerudung biru itu sama sekali tak takut dengan
mereka. Ajaran Ibu tentang budi pekerti, kejujuran, keberanian, dan banyak hal
lain yang disampaikan lewat cerita telah menghujam pada diri Aina kecil.
“Kubilang apa yang kamu bawa? Berikan
padaku!” Alif memaksa.
“Tidak mau, ini untuk Ibuku” Aina
bertahan tidak menyerahkan kantongannya.
“Ayo berikan! Kamu tidak takut
sama Alif? Kalau kamu tidak mau memberikan kuemu, akan kubuka jilbabmu” Fiki ikut
mengancam. Ia tahu kalau Aina selalu
berkerudung, tentu ia tak mau jika jilbabnya dilepas. Tentu saja Fiki tahu
kalau isi kantongan itu kue meski Aina tak bilang isi kantongannya apa. Aina
membeli kue itu tepat di depan mata Fiki tadi.
“Jangan! Ini punya ibuku, kenapa kalian mau
mengambilnya? Kata Ibu laki-laki itu selalu menjaga perempuan , tidak seperti
kamu yang selalu mengganggu perempuan. Pindah! Aku mau pulang.”
Aina buru-buru meninggalkan
mereka. Menyisakan Alif dan Fiki yang masih heran. Baru kali ini ia mendapat
perlawanan bahkan teguran dari bocah yang lebih muda darinya. Juga untuk
pertama kali mereka tak berhasil membuat menangis mangsanya. Anak ini berbeda,
ia sangat pemberani.
---------
Baca kisah selanjutnya: Part 2
---------
Baca kisah selanjutnya: Part 2
Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan Cerbung dari ODOP
4 komentar:
Aina itu Ainayya, bukan? Hihihiii
penasaran, yang baca novel tere liye fiki atau Alif yaa?
Aina hebat. Gak takut sama pengganggu cilik.
Alif keknya yang baca novel Tere Liye itu mbak Kifa..#jadi dukun😅
Posting Komentar