Part 4: Kegalauan
Permainan sepak bola sore ini terlihat
seru seperti biasanya, tapi Alif tidak bergabung kali ini. Memilih menjadi
penonton. Dia nampak memikirkan sesuatu. Sudah beberapa hari ini ia terus
memikirkan perbincangan terakhirnya dengan Holif.
“Kakak masih belum kepikiran
untuk kuliah?”
“Kenapa tiba-tiba bertanya
soal kuliah?” Alif justru bertanya balik, heran.
“Apa tidak sebaiknya Kak Alif
kuliah saja? Kakak itu kan pintar, sayang kalau tidak dimanfaatkan”
“Kuliah buat apa sih, Holif..
tidak usah susah-susah kuliah untuk dapat uang dan pekerjaan. Lagian kakak kan
tidak nganggur, kakak kerja dan berpenghasilan.”
Sudah hampir dua tahun sejak
lulus SMA. Alif memutuskan membantu bapak mengurus kebun. Di desa ini memang
jarang sekali ada yang melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perkuliahan. Itu
masih menjadi barang mahal. Bukan hanya masalah biaya, antusias anak-anak untuk
kuliah memang kurang.
Sudah menjadi siklus yang yang
terus berputar. Ketika anak laki-laki sudah menyelesaikan pendidikan SMA, mereka
langsung bekerja apa saja. Membantu bapak kerja di kebun, atau apa saja yang
bisa menghasilkan uang. Sementara bagi anak perempuan, mereka hanya menunggu
lamaran datang untuk segera menikah.
Begitulah, hanya ada beberapa
pemuda desa ini yang melanjutkan pendidikannya ke kota dan memilih bekerja di sana setelah lulus ketimbang kembali ke desa.
Holif masih nampak diam,
sementara Alif masih menunggu. Penasaran kenapa adiknya tiba-tiba bertanya soal
perkuliahan yang sedikitpun tak pernah terpikirkan olehnya.
“Aku tahu pikiran kakak. Cukup
bekerja dan menabung mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, terus kalau kak Aina
selesai dari pondok langsung dilamar, kan?”
Hanya dijawab cengiran oleh Alif.
Tak ada lagi yang harus ia sembunyikan dari adiknya. Sejak Holif tumbuh dewasa,
cepat sekali ia bisa membaca situasi, menghubungkan setiap kejadian sekecil
apapun hingga sampai pada satu kesimpulan, kakaknya suka sama Kak Aina. Alif ketahuan,
tak ada alasan yang bisa membuatnya mengelak dari interogasi adiknya. Sudahlah,
malah bagus sekarang, adiknya bisa menjadi sumber informasi.
“Kak Aina itu berbeda dengan
gadis desa kebanyakan. Jangan berpikir untuk segera melamarnnya setelah lulus
nanti, kakak pasti akan ditolak. Dia itu cerdas dan berprestasi, punya
keinginan besar untuk terus belajar, sedikitpun tidak berpikir untuk langsung
menikah setelah lulus”
“Maksud kamu Aina akan kuliah?”
“Dapat dipastikan begitu, aku
kenal baik Kak Aina. Motivasinya untuk terus belajar sangat nampak, sekarang
ini dia terus belajar keras untuk bisa lulus nanti ke universitas”
“Kamu serius, Holif?”
“Kalau kakak serius mau sama
Kak Aina, maka kakak harus bisa memantaskan diri”
Holif terus saja bicara, mengabaikan pertanyaan kakaknya.
Holif terus saja bicara, mengabaikan pertanyaan kakaknya.
“Memantaskan diri? Istilah apa
lagi ini?” tanya Alif kebingungan.
“Yah.. itulah kalau kakak
malas membaca, hal seperti ini saja tidak paham. Maksudnya, kalau kakak suka sama
Kak Aina, kakak harus pantas dulu untuk dia. Kakak harus berusaha sampai layak
menjadi pendampingnya. Kalau Kak Aina belajar hingga ke universitas, kira-kira
kakak yang seorang petani tak berpendidikan, hanya lulusan SMA, layak tidak
untuk dia? Apa kakak punya nyali untuk melamarnya nanti?”
Itulah perbincangan terakhir yang
sempurna membuat Alif galau. Terus berpikir soal memantaskan diri, sebuah
istilah yang justeru baru didengarnya.
“Hoi! Kamu kenapa sih? Tumben banget
tidak ikut main, malah duduk melamun tak jelas di sini” Fiki menghampiri Alif
yang terlihat berbeda sore ini. Alif hanya melirik sekilas.
"Fiki, menurut kamu bagaimana kalau aku kuliah?"
Fiki malah tertawa keras mendengar pertanyaan sahabatnya sore ini.
"Kamu galau begini karena berpikir soal kuliah? Ada angin apa kamu tiba-tiba kepikiran kuliah?"
"Kamu ini, aku bertanya malah ditanya balik. Jawab sajalah.." Fiki terkekeh melihat Alif mendengus kesal.
"Alif, siapalah sahabatmu ini. Aku hanya pemuda kampung yang tak paham apa-apa soal perkuliahan. Tapi kalau kamu meminta pendapatku soal kuliah, bukannya itu keren? Menjadi berbeda dari kebanyakan itu hebat, Lif. Kalau pemuda di desa kita tak peduli soal pendidikan, lalu kamu memilih jalan itu, kamu hebat Alif. Kamu kan tahu, orang berpendidikan selalu dihargai di manapun, tak terkecuali di kampung kita. Kalau kamu kepikiran untuk mengambil langkah itu. aku dukung seribu persan deh.."
Begitulah sahabatnya Fiki, pandai sekali menyemangatinya. Fiki paham sekali dirinya, jika ia bertanya sesuatu tiba-tiba, tentu cukup baginya untuk paham bahwa sahabatnya lagi memikirkan hal tersebut. Fiki tahu banyak soal Alif.
Kedua sahabat itu lalu tertawa riang. Alif mendapat sedikit titik terang dari kegalauan panjangnya
Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP
4 komentar:
Ayo Kuliah Alif. Tapi menjadi berbeda karena ilmunya yaa, bukan krn kerennya. Semangaat!!
Sebaiknya jangan kuliah kalau motivasi selain menambah wawasan hehe
Semangat kuliah alif, lalu kembali utk membangun desa..
Lanjutin pendidikan itu luar biasa... hmm
Posting Komentar