Part 3: Mengenal Rasa Itu
Alif belum tertarik melanjutkan
bacaannya. Masih asyik berkeliaran dalam kenangan masa lalu yang sudah
tertinggal jauh tapi masih terasa segar baginya. Hujan semakin deras, belum ada
tanda akan segera berheti. Seakan memberi dukungan padanya untuk berlama-lama
dalam nostalgia. Nostalgia yang berhasil mengalahkan perhatian dari buku karya
novelis idola sekalipun.
###
“Holif, kamu mondok di pesantren
tempat.. itu, siapa tuh tetangga kita” Alif pura-pura tak tahu nama yang ia
maksud. Takut adik cerewetnya ini bertanya yang tidak-tidak.
“Kak Aina maksudnya?” Holif
memastikan.
“Nah.. itu yang kakak maksud.
Memangnya Pesantren kamu itu gimana sampai senior kamu betah sekali sekolah di
sana?” Alif hanya berusaha memancing biar adiknya cerita sedikit tentang Aina.
“Hm.. aku kan masih baru, tapi
lumayan menyenangkan kok tinggal di sana. Oiya, tau tidak, Kak Aina yang kakak
maksud itu populer sekali di pondok. Banyak yang nge-fans sama dia dan selalu
disebut-sebut sama ustadzah sebagai teladan. Santri berprestasi, itu
gelarannya”
“Kamu dekat tidak sama dia?”
“Kalau dekat sih tidak juga, tapi
dia baik sekali sama aku. hm.. diakan emang baik sama semua orang. Kenapa nih
banyak tanya?” Holif mulai merasa aneh, tapi ia masih terlalu dini untuk bisa
menebak maksud dari pertanyaan-pertanyaan kakaknya.
“Yah.. kan cuman nanya. Kamu
liburnya berapa lama?”
“Hanya seminggu, sedikit amat
yah. Udah deh.. kakak pergi sana, aku mau lanjutkan membaca!”
Alif menurut, sedikit cerita dari
Holif sudah cukup baginya untuk tahu seperti apa ia di sana. Sudah lama
sekali berlalu sejak dia membuatnya menangis. Dan dia sempurna berubah jadi
anak ‘baik’ setelah kejadian itu. Dia tak pernah berani menyapanya, hanya
menatap dari jauh. Yah.. dia senang sekali menatapnya dari jauh, apalagi saat
Aina lewat di depan rumah.
Saat ini, Alif telah menjadi
remaja yang mengenal tentang cinta. Tapi ia berbeda dengan remaja kebanyakan.
Tak sekalipun ia pacaran, bukan karena tak ada cewek yang mau dengannya, tapi
itu merupakan pilihan. Sebuah alasan memaksanya untuk memilih tidak pacaran.
Sejak mengenal perasaan cinta, dia
sadar bahwa dia telah suka dengan seseorang. Perasaan yang sudah hadir jauh
sebelum dia mengerti perasaan itu. Gadis kecil yang telah mengubah masa
kecilnya yang jail, itulah cinta pertamanya. Gadis yang membuatnya sering
senyum-senyum sendiri.
###
Besok Holif kembali ke pesantren,
liburan semesternya sudah habis. Itu berarti Aina pun akan kembali ke pondok,
dan selama itu Alif belum pernah melihat sosok pujaan hatinya. Sengaja dia
sering-sering melintas di depan rumah Aina, tapi tak sekalipun melihat
sosoknya.
“Kak, antar aku ke toko yah, ada
yang lupa kubeli kemarin”
“Kenapa pake lupa-lupa segala
sih? Kan repot harus ke kota lagi. Jauh.”
“Tidak sampai ke kota kok, Kak. Toko
kecil yang ada di perbatasan itu cukup, cuman mau beli kertas-kertas berwarna.”
Alif tahu, permintaan adiknya tak
akan bisa ditolaknya. Dengan malas dia mengambil kunci motor yang tergeletak di
meja makan. Holif berlari girang mengambil tasnya dan berlari manyusul Alif
yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka berangkat.
Tepat di depan rumah ke-empat
setelah rumahnya sebuah suara yang tak asing memangil-manggil Holif.
“Stop dulu, Kak!” teriaknya pada
Alif.
Motor mendadak berhenti. Alif bersiap
mengomel, tapi seseorang keluar dari pagar rumah yang sangat dikenalnya, dia
mematung sejenak. Aina melangkah anggun mendekati Holif. Tak sedikitpun melirik
Alif yang terpana menatapnya.
“Holif, kakak bisa minta tolong,
tidak?”
“Bisa sekali, Kak. Ada apa?”
“Besok kakak belum bisa balik ke
pondok, masih ada urusan yang mendesak. Tolong berikan ini sama Kak Raida” Aina
berucap pelan sambil menyodorkan plastik kecil pada Holif, entah apa isinya.
“Iya, Kak. Nanti kusampaikan
titipannya” ucap Holif tersenyum. Dibalas dengan senyuman pula oleh Aina.
“Ayo jalan, Kak!” pintanya pada
Alif seraya menepuk pundaknya. Yang diperintah segera menyalakan motor.
“Sekali lagi makasih, yah.” Aina kembali
berterima kasih sebelum motor semakin menjauh, hanya dibalas lambaian oleh
Holif.
Alif tak pernah melihat Aina
sejak ia sekolah di pondok, hampir tiga tahun lamanya. Hari ini, dia kembali
melihatnya. Banyak sekali yang berubah darinya. Perubahan yang membuat hati
Alif semakin mantap. Entah kapan lagi, aku bisa melihatnya, gumam Alif dalam hati.
bersambung...
Ikuti kelanjutannya di Part 4
bersambung...
Ikuti kelanjutannya di Part 4
Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP
4 komentar:
Penasaran. Saya suka ceritanya. Lanjutin ya mba..semangat!!🙆
Penasaran. Saya suka ceritanya. Lanjutin ya mba..semangat!!🙆
Jadi inget pondok..😀
Semangatt mbak Muallimah..💪
Keren, hihi diam2 melintas depan rumah... datengi dong...jangan lewat aja. Haha
Posting Komentar