Kamis, 05 Mei 2016

Skenario Takdir


Part 3: Mengenal Rasa Itu

Alif belum tertarik melanjutkan bacaannya. Masih asyik berkeliaran dalam kenangan masa lalu yang sudah tertinggal jauh tapi masih terasa segar baginya. Hujan semakin deras, belum ada tanda akan segera berheti. Seakan memberi dukungan padanya untuk berlama-lama dalam nostalgia. Nostalgia yang berhasil mengalahkan perhatian dari buku karya novelis idola sekalipun.

###

“Holif, kamu mondok di pesantren tempat.. itu, siapa tuh tetangga kita” Alif pura-pura tak tahu nama yang ia maksud. Takut adik cerewetnya ini bertanya yang tidak-tidak.

“Kak Aina maksudnya?” Holif memastikan.

“Nah.. itu yang kakak maksud. Memangnya Pesantren kamu itu gimana sampai senior kamu betah sekali sekolah di sana?” Alif hanya berusaha memancing biar adiknya cerita sedikit tentang Aina.

“Hm.. aku kan masih baru, tapi lumayan menyenangkan kok tinggal di sana. Oiya, tau tidak, Kak Aina yang kakak maksud itu populer sekali di pondok. Banyak yang nge-fans sama dia dan selalu disebut-sebut sama ustadzah sebagai teladan. Santri berprestasi, itu gelarannya”

“Kamu dekat tidak sama dia?”

“Kalau dekat sih tidak juga, tapi dia baik sekali sama aku. hm.. diakan emang baik sama semua orang. Kenapa nih banyak tanya?” Holif mulai merasa aneh, tapi ia masih terlalu dini untuk bisa menebak maksud dari pertanyaan-pertanyaan kakaknya.

“Yah.. kan cuman nanya. Kamu liburnya berapa lama?”

“Hanya seminggu, sedikit amat yah. Udah deh.. kakak pergi sana, aku mau lanjutkan membaca!”

Alif menurut, sedikit cerita dari Holif sudah cukup baginya untuk tahu seperti apa ia di sana. Sudah lama sekali berlalu sejak dia membuatnya menangis. Dan dia sempurna berubah jadi anak ‘baik’ setelah kejadian itu. Dia tak pernah berani menyapanya, hanya menatap dari jauh. Yah.. dia senang sekali menatapnya dari jauh, apalagi saat Aina lewat di depan rumah.

Saat ini, Alif telah menjadi remaja yang mengenal tentang cinta. Tapi ia berbeda dengan remaja kebanyakan. Tak sekalipun ia pacaran, bukan karena tak ada cewek yang mau dengannya, tapi itu merupakan pilihan. Sebuah alasan memaksanya untuk memilih tidak pacaran.

Sejak mengenal perasaan cinta, dia sadar bahwa dia telah suka dengan seseorang. Perasaan yang sudah hadir jauh sebelum dia mengerti perasaan itu. Gadis kecil yang telah mengubah masa kecilnya yang jail, itulah cinta pertamanya. Gadis yang membuatnya sering senyum-senyum sendiri.

###

Besok Holif kembali ke pesantren, liburan semesternya sudah habis. Itu berarti Aina pun akan kembali ke pondok, dan selama itu Alif belum pernah melihat sosok pujaan hatinya. Sengaja dia sering-sering melintas di depan rumah Aina, tapi tak sekalipun melihat sosoknya.

“Kak, antar aku ke toko yah, ada yang lupa kubeli kemarin”

“Kenapa pake lupa-lupa segala sih? Kan repot harus ke kota lagi. Jauh.”

“Tidak sampai ke kota kok, Kak. Toko kecil yang ada di perbatasan itu cukup, cuman mau beli kertas-kertas berwarna.”

Alif tahu, permintaan adiknya tak akan bisa ditolaknya. Dengan malas dia mengambil kunci motor yang tergeletak di meja makan. Holif berlari girang mengambil tasnya dan berlari manyusul Alif yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka berangkat.

Tepat di depan rumah ke-empat setelah rumahnya sebuah suara yang tak asing memangil-manggil Holif.

“Stop dulu, Kak!” teriaknya pada Alif.

Motor mendadak berhenti. Alif bersiap mengomel, tapi seseorang keluar dari pagar rumah yang sangat dikenalnya, dia mematung sejenak. Aina melangkah anggun mendekati Holif. Tak sedikitpun melirik Alif yang terpana menatapnya.

“Holif, kakak bisa minta tolong, tidak?”

“Bisa sekali, Kak. Ada apa?”

“Besok kakak belum bisa balik ke pondok, masih ada urusan yang mendesak. Tolong berikan ini sama Kak Raida” Aina berucap pelan sambil menyodorkan plastik kecil pada Holif, entah apa isinya.

“Iya, Kak. Nanti kusampaikan titipannya” ucap Holif tersenyum. Dibalas dengan senyuman pula oleh Aina.

“Ayo jalan, Kak!” pintanya pada Alif seraya menepuk pundaknya. Yang diperintah segera menyalakan motor.

“Sekali lagi makasih, yah.” Aina kembali berterima kasih sebelum motor semakin menjauh, hanya dibalas lambaian oleh Holif.

Alif tak pernah melihat Aina sejak ia sekolah di pondok, hampir tiga tahun lamanya. Hari ini, dia kembali melihatnya. Banyak sekali yang berubah darinya. Perubahan yang membuat hati Alif semakin mantap. Entah kapan lagi, aku bisa melihatnya, gumam  Alif dalam hati.

bersambung...

Ikuti kelanjutannya di Part 4

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

4 komentar:

Na mengatakan...

Penasaran. Saya suka ceritanya. Lanjutin ya mba..semangat!!🙆

Na mengatakan...

Penasaran. Saya suka ceritanya. Lanjutin ya mba..semangat!!🙆

Sasmitha A. Lia mengatakan...

Jadi inget pondok..😀

Semangatt mbak Muallimah..💪

Ainayya Ayska mengatakan...

Keren, hihi diam2 melintas depan rumah... datengi dong...jangan lewat aja. Haha