Minggu, 09 Oktober 2016

Fatamorgana Kebahagiaan

Pagi ini, menyempatkan membaca chat di grup WA yang sudah menumpuk. Ada satu tulisan yang sangat berkesan dan ingin 'kuamankan' di sini. Mungkin esok atau lusa, aku butuh untuk kembali membacanya. Rumah ini semoga menjadi tempat yang tempat untukku kembali saat waktu itu tiba..

Tentang bagaimana memperoleh ketentraman hati dengan segala kerumitan hidup yang kita hadapi.
___________________________

💦 :: *_Fatamorgana Kebahagiaan_*::

🍃Banyak para pekerja di ibukota sebenarnya tertekan. Namun karena mereka sudah terbiasa harian tertekan, maka mereka tak mengakuinya.

 Tekanan kemacetan, tekanan saat dikreta, dan finansial.

💔Bayangkan, berangkat di hari masih belum terang betul, tetap ada peluh akibat kemacetan dan kereta yang penuh sesak.

💦Pulang di hari masih ada terang, terjebak macet atau kereta yang sesak lagi hingga baru bisa melihat *senyuman* istri di hari sudah gelap betul. Itu pun jika istri tak bekerja jauh.

🌴Tidak bisa dihindari lagi. Kebutuhan ekonomi. Harus bekerja sepeluh itu. Semua itu dijalani oleh manusia ibukota, walau tidak semua.

💐Kaum Ibu pun hari harinya tak kalah lelah dan penat dengan para pekerja itu, mereka harus menghadapi rengekan anak, keterbatasan finansial, mendidik dan membentengi anak anak mereka dari pemahaman yang merusak aqidah dan akhlak mereka, begitu sangat melelahkan, penat, dan menjenuhkan.

❣Ada diantara mereka yang berusaha mengalihkan *"keperihan jiwa dan tekanan hidup"* dengan kebahagiaan yang *_semu_*, bermain game saat dikreta meski sesak, membaca berita, menonton tv, mensetel mp3  Banyak sekali, Tapi rata-rata setel lagu, Layaknya meminum air laut  bukannya menghilangkan dahaga hanya menambah dahaga.

🌱Maka jadilah hati hati kita, hati yang penuh dengan kegersangan. Tubuh lelah dengan aktifitas, qalbu galau karena 'rindu' akan PemilikNya (Allah)....

🌷Karenanya tidak heran bila selalu saja ada yang mewartakan berita kejahatan dimedia atau banyak yang masuk RS Jiwa.

🌺Himpitan ekonomi, tekanan pekerjaan, rutinitas yang menjenuhkan namun qalbu tak mendapatkan 'kesegaran', jadilah kita mayat mayat hidup.

💦Mungkin ada baiknya kita merubah kebiasaan untuk menyegarkan jiwa yang seolah teriak dan berontak dengan ibadah, agar ketentraman qalbu tetap bisa kita rasakan meski ditengah pahit dan getirnya kehidupan...

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah."
(Qs. Al Balad : 4)

🍃Karenanya kita takkan menemukan dalam sejarah ada Nabi atau Sahabatnya yang stres atau bunuh diri karena beban kehidupan, meski sama sama kita ketahui ujian mereka jauh lebih berat dibanding tekanan hidup kita.

💖Karena mereka memahami petunjukNya :

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram."(Qs. Ar Ra'd : 28).

Karena.... *_"Bila qalbu baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh."_*

📚Sekedar masukan, Ada beberapa Ibadah yang bisa kita lakukan untuk "menyegarkan" jiwa jiwa yang "lelah"....


💖 (1) *SHALAT.*
Bersyukurlah kita menjadi seorang mukmin, min 5 kali sehari kita bisa menyegarkan jiwa kita, belum lagi bila ditambah dengan shalat sunnahnya.

Resapi bacaannya, Resapi gerakannya, -insya Allah- kita akan merasakan NIKMATNYA Ibadah shalat. Shalatlah dengan berjama'ah (bagi laki2).

Shalāt adalah ibadah yang sangat dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala.

🌿Bahkan saking agungnya perkara shalat, saking nikmatnya perkara shalat, Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berkata kepada Bilāl:

يَا بِلَالُ, أَقِمِ الصَّلَاةَ ! أَرِحْنـــَا بِهَا

"Ya Bilāl, dirikanlah shalāt, *istirahatkanlah* kami dengan shalāt."

(HR Abu Daud nomor 4333, versi Baituk Afkar Ad Dauliyah nomor 4985)

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mendapati shalāt adalah tempat istirahat, shalāt adalah ketenangan.

🌿Dalam riwayat yang lain kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَجُعِلَ قُرَّةٌ عَيْنِيْ فِيْ الصَّلَاةِ

"Dijadikan *kesejukan* pandanganku pada shalāt."

(HR Imam Ahmad nomor 11845)

Dan terlalu banyak faedah serta dalil yang menunjukkan keutamaan shalāt.

💖 *(2) Membaca alQur'an Dengan Metadaburrinya / Mensetel Murotal*

❣Allah _subhanahu wa ta'ala_ berfirman;

ﺃَﻓَﻠَﺎ ﻳَﺘَﺪَﺑَّﺮُﻭﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﺃَﻡْ ﻋَﻠَﻰٰ ﻗُﻠُﻮﺏٍ ﺃَﻗْﻔَﺎﻟُﻬَﺎ

*_"Maka apakah mereka tidak mentadabburi (menghayati makna) Al Quran ataukah hati mereka terkunci?."_*
[QS. Muhammad: 24]

❣ Berkata Imam Ath Thabari rahimahullah ;

‏ﺇﻧﻲ ﻷﻋﺠﺐ ﻣﻤﻦ ﻗﺮﺃ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺗﺄﻭﻳﻠﻪ ﻛﻴﻒ ﻳﺘﻠﺘﺬ ﺑﻘﺮﺍﺀﺗﻪ

_"Sungguh aku heran dengan seseorang yang membaca Alquran namun tidak mengetahui tafsirnya,_

*_Bagaimana ia bisa merasakan KELEZATAN dalam membacanya_?*

💖 *(3) Memperbanyak Istighfar.*
Dosa itu racun hati, racun yang dapat menggelisahkan jiwa, membuat jiwa galau dan gersang, dan obatnya adalah taubat dan istighfar. Dosa itu karena meninggalkan yang Allah perintahkan, atau melakukan yang Allah larang, dan induk dosa itu ada tiga, yakni : Syirik, bid'ah, dan maksiat.

❣Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan :

"Engkau merasakan PAHITNYA KEGELISAHAN karena MAKSIAT kepada-Nya, tetapi engkau tidak mencari KEDAMAIAN HATI dengan ta'at kepada-Nya."

(Fawaidul Fawaid, Pustaka Imam Asy Syafi'i, hal 501).

💖 *(4) Memperbanyak dzikir.*
Baik dzikir masuk / keluar toilet, dzikir mau tidur, terutama dzikir selepas shalat 5 waktu, dan dzikir pagi dan petang.
Luangkan waktu selepas shalat shubuh untuk membaca dzikir pagi dan selepas ba'da asar membaca dzikir petang.

❣  "Siapa yang merenungkan makna bacaan dzikir pagi dan petang, dia akan mendapatkan bahwa bacaan tersebut berisi PUJIAN bagi Allah, dan DO'A dari orang yang merasa BUTUH kepadaNya. Semakin TINGGI rasa kebutuhan Anda kepada Rabb Anda, semakin nampak pula siapa sejatinya diri Anda, dan akan HILANGdari diri Anda, sikap sombong dan ujub."

[Imama Masjid al Ghazali, kuwait. Murid Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin 13/4/2014 l twitulama.com]

*Inilah amaliyah yang mudah namun sangat dahsyat....*
*Ia (dzikir) adalah sebaik baik vitC-emangat...*

💐  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Siapa yang tak sanggup menghidupkan malam dengan ibadah, pelit dengan harta untuk berinfak dan takut melawan musuh dalam jihad, maka hendaknya dia memperbanyak berdzikir mengingat Allah” (Shahih at Targhib 1496)

[ Dr Hisyam al Husani, anggota dewan pendidikan di Uni Emirat Arab, s3 dalam bidang fikih muamalah, s2 dalam bidang akidah 7/4/2014 l twitulama.com]

⛔ *Lalai darinya berbuah kegalauan, kemalasan , dan kepenatan...* 💔

❗"Betapa celaka, orang yang mencelakai dan menghancurkan dirinya dengan lalai dari berzikir mengingat RabbNya."

[Dr Muhammad Jabir al Qahthani Dosen Ilmu al Quran di Universitas King Khalid, Abha | twitulama.com]

🌷Berkata Imam Ibnu Qayyim rahimahullahu :

"Dzikir kepada Allah meliputi dzikir dengan asma asma dan sifat sifatNya, dzikir dengan (mengingat) perintah dan laranganNya, serta dzikir dengan (mengamalkan) firmanNya. dzikir dzikir tersebut MENUNTUT seseorang untuk :

✅1. MengenalNya,
✅2. MengimaniNya,
✅3. dan Mengimani sifat sifat kesempurnaanNya,
✅4. dan sifat sifat keagunganNya.

Dzikir dalam hal ini juga meliputi puji pujian kepadaNya dengan berbagai pujian mulia. Sungguh amal yg demikian tidak dapat dilakukan seseorang kecuali dengan TERLEBIH DAHULU mentauhidkanNya."

[Fawaidul Fawaid, hal 601-602, Pustaka Imam Asy Syafi'i]

Semoga amaliyyah harian ini bisa menjadi pelipur lara kita, ditengah pahit dan getirnya kehidupan, dan berbuah manjs diakhirat. Allahumma aamiin...

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

*_"sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu."_*

(Qs. Asy Syam : 9 )

__________
✍🏻 7 Muharram 1438H, Ba'da Shubuh.
Randi Abu Nasywah


•┈┈•❀❁🍃🌷🌼❣🌼🌷🍃❁❀•┈┈•

Repost by :
💝 *_..UNTAIAN FAWAID.._* 📝


💝 Join Channel @UntaianFawaid di Telegram: https://goo.gl/kun8Mj

*****

Demikian,,

Selasa, 27 September 2016

Hari Bahagia Fika

Hari ini, rasa bahagia tak terkira kembali kurasakan saat menyaksikan satu santri kami berhasil menyelesaikan hafalan juz 30-nya. Hafalan yang sudah dimulai sejak 21 Juli lalu akhirnya berhasil diselesaikan hari ini, 26 September 2016. Mungkin ada yang bilang, “Itu waktu yang cukup lama untuk hafalan satu juz,” ataupun komentar lainnya.

Yah! hafalannya memang tak secepat teman-teman yang lain. Fika menjadi satu-satunya santri di halaqoh kami yang masih berkutat pada juz 30 saat teman yang lain sudah beralih menghafal Juz 1 ataupun Juz 2. Salah satu penyebab utamanya karena dia memang baru mulai menghafal, sementara kebanyakan temannya sudah punya hafalan sebelumnya.

Apakah dia iri melihat hafalan teman-temannya yang sudah lebih jauh? Tentu saja, dia saaangat iri. Dia pun ingin seperti teman yang lain, sangat ingin mulai menghafal Juz 1. Apakah Ia pernah merasa bosan? Tentu saja!  Apakah dia pernah mengeluh? Tak diragukan lagi, entah berapa kali ia mengeluh.
 
“Ustadzah, macam mana nih hafalan, susah betul dihafal”
“Aku sudah capek, Ustadzah”
“Capek betul aku ulangi ustadzah, tapi tidak mau lancar”
(Dengan logat khas-nya)

Seperti inilah kerap kali keluhan-keluahan yang disampaikan dengan berbagai ekspresi. Kadang disampaikan dengan biasa saja, tapi kadang juga dengan perasaan jengkel pada hafalannya yang tidak mau ‘dihafal’. Kadang pula dia meneteskan air mata untuk itu. Tapi untuk setiap keluhan, kesedihan, bahkan kemarahannya, izinkan saya lima-sepuluh menit memberikan nasihat/motivasi/ceramah/ataupun bujukan, maka dia akan membaik. Sebuah kesyukuran karena dia mudah paham dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan.

Dia bahkan pernah bilang saat saya menasihatinya, “Ustadzah tak paham, capek betul saya menghafal. Ustadzah enak, tidak capek karena hanya mendengarkan. Kita ini yang capek karena harus menghafal.” Komentar yang kusambut dengan tawa sambil memikirkan jawaban terbaik untuk menanggapi argumennya kali ini. Selalu ada banyak tanya dan komentar darinya, dan saya pun sudah terbiasa untuk itu.

Jika dia pernah bosan dan sering mengeluh, pernahkah ia berpikir untuk menyerah?

Inilah yang tidak dimilikinya. Meski dia sering mengeluh, hafalannya sudah tertinggal, dan menyatakan rasa iri-nya terhadap hafalan teman-temannya, tapi ia tak pernah sekalipun mengatakan ingin menyerah. Dia tidak menyerah meski harus berjalan lambat untuk mencapai tujuannya. Saya bisa melihat keseriusannya ingin menghafal Al-Qur’an meski saat itu belum tahu alasan pastinya. 

Perjalanan menghafalnya masih seumur jagung. Tapi ada banyak sekali cerita yang tercipta. Cerita yang mungkin terlihat sederhana dan biasa saja, tapi sangat membekas buat saya pribadi sebagai pembina halaqohnya. Menemaninya menghafal setiap hari membuatku paham betul bagaimana perjuangan dia menyelesaikan Juz 30. Itu sungguh bukan hal yang mudah. Sesuatu yang diperoleh dengan usaha.

Suatu waktu, untuk pertama kali ia bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Sebuah cerita yang mengharukan. Baru kali itu saya melihat si ceria Fika menangis sesegukan. Terutama saat bercerita tentang Ibu-nya. Seseorang yang menjadi alasan mengapa dia harus menghafal Al-Qur’an.

---------------------

Dan hari ini, setelah menyetorkan hafalan Qs.Al-Qari’ah.

“Dengarkan Ustadzah, hari ini saya bahagia sekali karena hafalan saya sudah Qs. At-Takatsur. Saya sudah hafal sampai selesai karena ini sudah saya muroja’ah di TPA, jadi saya akan khatam ustadzah” ucapnya dengan senyum bahagia.


Dengan semangat dia mulai menghafal surah demi surah hingga Qs.An-Naas.

Selamat, Nak. Kalau kau sangat bahagia hari ini, Ustadzah pun sangat bahagia melihatmu berhasil menyelesaikan Juz 30. Teman-teman kalian pun turut bahagia dan mengucapkan selamat untuk itu. Mereka paham betapa sulitnya kau sampai pada titik ini. Tapi karena pantang menyerah akhirnya kau berhasil.

Terima kasih karena telah menjadi pembawa keceriaan di halaqoh kita. Kau sangat pandai membuat kami tertawa. Kau bahkan menghafal segala yang pernah ustadzah nasihatkan dan menyampaikannya lagi kepada teman-teman. Meski mereka lebih sering tertawa, tapi begitulah kehangatan yang ada dalam halaqoh kita. Ada banyak hal yang bisa kutuliskan tentangmu, tapi mungkin di lain waktu.

------------------

Menyelesaikan Juz 30 hanyalah sebuah awal dari perjalanan menghafalmu. Masih ada 29 Juz lagi yang harus kau lewati. Semoga Allah memberikan kesempatan, keistiqamahan, kesabaran, dan kemudahan untuk bisa menyelesaikan hingga 30 Juz. Allaahumma aamiin..

Sebuah catatan kecil di hari bahagia Fika,

Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 18 Agustus 2016

Jangan pernah menyerah, Nak!

Namanya Balqis Dzakirah. Akrab kusapa Balqis. Siswa yang baru tahun ini bergabung di SPIDI dan memilih kelas penghafalan Al-Qur'an.

Pertamakali mengenalnya saat tes seleksi masuk Tahfizhul Qur'an SPIDI. Ada sekitar empat puluan santri yang ikut tes, dan dia salah satunya.

Balqis, gadis ramah dan supel. Saya senang mengenalnya sejak awal bertemu, dia yang begitu saja ngomong ke saya seolah kami sudah lama mengenal.

"Ustadzah, suara saya hilang. Saya bisa melagu dan mengaji dengan baik, tapi sekarang suara saya jelek. Saya serius, ustadzah.. saya takut tidak lulus," keluhnya cemas dengan suara serak yang dipaksakan keluar. Saya tersenyum, "Baca dulu yah.. in syaa Allah kalau bacaannya bagus, pasti lulus."

Beginilah kira-kira percakapan pertama kami. Dan bacaan Al-Qur'annya memang bagus, tajwid dan makhorijul hurufnya sangat lumayan. Dia layak untuk lulus.

***

Takdir Allah lah yang akhirnya mempertemukan kami kemudian dalam halaqoh yang sama. Ada tiga halaqoh baru yang dibentuk, dan dia bergabung dengan halaqoh yang saya pegang.

Tantangan menghafal datang di awal ia mulai menghafal juz 30. Hafalan terasa sangat sulit masuk, keluhan demi keluhan terluapkan. Terlebih saat melihat teman-teman lain begitu mudah menyelesaikan juz 30 mereka, itu karena kebanyakan mereka memang sudah menyelesaikan juz 30 sebelumnya. Saat masih SD. Berbeda dengan Balqis yang hanya menghafal beberapa surah dari juz 30.

Bukan hanya keluhan yang terlontar, dia bahkan mulai sering menangis. Dia menangis seperti minum obat, 3x sehari. Sangat sedih memikirkan hafalannya yang sudah tertinggal lumayan jauh dari teman-teman yang lain. Saya juga merasa sangat sedih harus menyaksikannya terus menangis dan mulai mengungkapkan kalimat-kalimat pesimis. Tak ada yang bisa kulakukan selain terus mendo'akan, menasehati dan menguatkannya dengan berbagai cerita-cerita inspiratif dan kalimat-kalimat motivasi. Itulah yang bisa kulakukan sebagai Ustazhah-nya.

Seiring waktu berjalan ia mulai paham arti sabar dalam menghafal. Dia tak lagi sering menangis, keluhannya pun mulai berkurang. Walau masih tertatih, tapi ia tetap berusaha menghafal surah demi suruh dari juz 30. Tak lagi mengeluhkan hafalannya yang masih juz 30 saat teman yang lain sudah memulai hafalan juz 1.

***

Tak terasa akhirnya Ia berhasil menyelesaikan Juz 30. Tepatnya 15 Agustus Ia muroja'ah Juz 30 dengan sekali duduk. Al-hamdulillaah... tak henti kuucap syukur atas keberhasilannya. Rasa bahagia dan haru menyeruak di dada.  Tak tahan mataku berkaca saat mengingat masa-masa sulit yang Ia hadapi saat menghafal. Saya sungguh sangat bahagia melihatnya berhasil menyelesaikan hafalan Juz 30-nya.

Setelah muroja'ah juz 30 sekali duduk, Ia masih harus mengikuti tahap Evaluasi untuk penguasaan hukum-hukum tajwid dan tes hafalan dengan metode sambung ayat. Barulah setelah itu boleh memulai hafalan Juz 1. Dan Al-hamdulillah hari ini bisa terselesaikan. Ia berhasil melewati tahap demi tahap dengan sangat baik. Selamat, Nak!

Balqis saat Evluasi juz 30

_______________

Perjalananmu melewati Juz 30 tidak mudah, Nak. Tapi melalui proses sulit itu kau belajar tentang kesabaran dalam menghafal. Bukan hanya kesabaran, juga kegigihan untuk meraih sesuatu. Bahwa jika kau mau tetap bersabar dan berusaha, kau pasti berhasil. Pemahaman ini sangat berharga untuk perjalanan menghafalmu kedepan, karena akan banyak tantangan lagi yang akan kau hadapi.

Ustadzah dan teman-teman halaqoh lain yang sering mendukungmu tentu menjadi saksi perjuanganmu saat menghafal, dan kisahmu akan menjadi inspirasi buat orang lain.

Jika kelak kau menghadapai hal yang sama, ingatlah bahwa kau pernah berhasil melewatinya. Jangan pernah menyerah, Nak!

"Man jadda wajada"

Baarakallaahu laki.. Semoga selalu istiqomah dalam menghafal.


Bersama segenap rasa haru, bangga, dan bahagia
Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 26 Mei 2016

Kami ingin Mengubah Dunia


Saya pernah mengikuti sebuah kajian yang selalu teringat hingga saat ini. Waktu itu hari jum'at, pengurus LDK selalu memanfaatkan moment jum'at ini dengan kajian jumat bagi akhawat. Kami yang tidak punya cirihas (setiap LDK biasanya dikenal dgn cirihas pakaian masing2) menjadi target mereka untuk ikut meramaikan kajian jumat mereka.

Karena tidak enak sudah diajak berulangkali dan selalu menolak, akhirnya saya dan beberapa teman ikut. Biarlah, sekali-kali ikut. Kebetulan saat itu mendekati peringatan hari sumpah pemuda, maka pembahasannya tentang pemuda sebagai agent of changing.

Pembicara membawakan materinya dengan penuh semangat. Intonasinya diatur sedemikian rupa untuk membangkitkan semangat kita sebagai pemuda.

Dari ulasannya, untuk beberapa hal saya sependapat dengan argumen yang disampaikan. Tapi lebih banyak yang tidak bisa kuterima. Saya hanya diam menyimak dan menyaring, toh, setiap kita bebas berpendapat.

Entah kenapa sebuah statement tiba-tiba membuat saya ingin menimpali. Saya tak bisa menerima statement yang satu ini. Katanya,

"Kami ini tidak ingin merubah setiap individu, kami hanya ingin merubah dunia. Dan kami sudah menyusun beberapa strategi untuk bisa merubah dunia dalam beberapa tahun kedepan"

Saya mengernyitkan dahi. Bagaimana bisa? Mungkinkah merubah dunia dengan mengabaikan perubahan secara individu?

Tak sabar saya menunggu sesi berikutnya. Sesi tanya jawab! Ingin sekali menanyakan apa dasar mereka dengan statement ini.

Seandainya dia hanya bilang, 'kami ingin merubah dunia' aku tentu terima. Ini sebuah harapan besar dan mulia. Yang menggangguku adalah statement sebelumnya, 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Bukankah konsep perubahan yang diajarkan kitab pedoman kita adalah memulai perubahan itu dari diri sendiri? buka (QS.Ar-Ra'du: 11)

Apalagi kita sebagai wanita yang kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita. Maka hal pertama yang harus diubah dan diperbaiki tak lain adalah diri, kepribadian, dan keilmuan kita. Itulah pesan Rasulullah sallallaahu alaihi wa sallam 'Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir'. Didik anakmu sebelum ia lahir berarti perbaiki kepribadian kita jauh sebelum ia lahir. Karena kelak kitalah yang menjadi guru pertama dan teladan baginya.

Artinya apa? Fokus perubahan itu sejatinya berawal dari diri sendiri, lalu orang-orang sekitar kita. Tak usalah sibuk memikirkan perubahan dunia lalu abai pada diri dan orang-orang terdekat kita.

Karena dari kitalah kelak akan muncul generasi baru. Jika setiap wanita berusaha mempersiapkan diri untuk menjadi madrasah bagi anak-anaknya, maka dari sanalah kelak akan lahir generasi harapan. Generasi yang diharapkan bisa mengubah dunia. Semua berawal dari setiap individu.

Maka tegas saya menolak statement bahwa 'kami tidak ingin merubah setiap individu'.

Jika saya tak mampu merubah dunia, maka cukuplah saya merubah diri dan keluargaku dahulu.
________

Itu adalah kajian terakhir yang saya ikuti dari organisasi mereka. Saya tidak lagi berminat untuk ikut, dan mereka juga tidak pernah lagi mengajakku bergabung.

Aqilah El-Hafizhah

Kamis, 19 Mei 2016

Orang Konsisten Itu Hebat


Konsisten itu berat!

Benar, kan?

Benar sekali!

Dialog dengan hati ini terlintas begitu saja saat saya mebuka akun blog dan melihat daftar tulisan teman-teman ODOP yang masih konsisten dengan tekad mereka untuk menulis setiap hari. Mengingatkan bahwa saya juga pernah seperti mereka. Berjuang semampuku untuk tetap bisa konsisten.

Ada perasaan sedih saat menyadari bahwa saya bukan lagi bagian dari mereka. Hanya bisa tersenyum, dan semakin sadar bahwa menjadi pribadi konsisten itu sungguh bukan hal yang mudah. Ada banyak kegiatan yang telah ataupun sedang saya ikuti, dan semuanya menuntut KONSISTEN sebagai syarat untuk tetap bertahan. 

Saat konsisten sudah menjadi harga mati untuk tetap bertahan, maka hanya dengan tekad yang kuat kita bisa menaklukkannya. Itulah yang kulakukan! Berusaha semampuku untuk tetap bertahan di semua kegiatan yang saya ikuti.

Tapi pada akhirnya, saya telah melepas salah satunya sebelum sampai di akhir perjalanan. Saya mundur dari medan, menyadari bahwa saya tak lagi konsisten. Hanya berharap bahwa cukup saya melepas ini saja, dan tetap konsisten pada yang lainnya.

Maka kukatakan, hanya orang hebat yang bisa konsisten! Mereka bisa bertahan dan tetap konsisten di tengah banyak kesibukan dan permasalahan lainnya. Berusaha keluar dan melawan segala keterbatasan yang ada. 

Konsisten itu berat, kawan. Maka bersyukurlah jika anda mampu manjadi pribadi demikian di semua hal. Yah.. di SEMUA hal, bukan hanya di salah satunya.

Dan pagi ini, saat saya merasa free dari kesibukan, beragam kalimat pengandaian mulai berkeliaran di kepalaku. 

"Ah.. seandainya saya masih bagian dari mereka"


Aqilah El-Hafizhah
Merindukan atmosfer ODOP 
yang telah hilang

Makassar, 19 Mei 2016

Selasa, 10 Mei 2016

Skenario Takdir (6)

Ikuti kisahnya dari awal di Part 1

Part 6: Harapan

Bukan hal mudah bagi seorang anak desa mendapat segala informasi tentang perkuliahan. Jalan buntu sudah dirasakan Alif sebelum memulai, ia tak punya ide bagaimana memulai segalanya. Andaikan Holif ada di sini, mungkin ia bisa memberikan sedikit saran untuk memulai, dia sepertinya lebih banyak tahu daripada Alif.

Siapa yang bisa membantuku? Gusar ia berpikir. Kak Dayat! Sebuah nama tiba-tiba terlintas di benaknya. Nama yang hadir bagai selaksa harapan yang menjanjikan. Seketika melahirkan semangat membara pada Alif. “Semoga ia bisa membantuku,” gumamnya penuh harap.

Alif tak mau menunda waktu, langkahnya mantap menuju rumah Kak Dayat. Rumah yang lumayan jauh dari rumahnya jika ditempuh dengan berjalan kaki, tapi cukup sepuluh menit dengan mengendarai motor. Suara motor menderu keras. Alif berangkat.

Alif berhenti di depan rumah dengan cat krem berpadu cokelat tua. Perpaduan warna ini memberi kesan elegan. Dari balik pagar bisa terlihat halaman cukup luas dengan beraneka bunga tertata rapi. Menggambarkan jiwa pemilik rumah ini tentulah seorang yang peduli keindahan. Halaman yang asri. Tanpa ragu Alif memasuki pagar yang dibiarkan terbuka. Menunggu tenang di balik pintu setelah mengetuk dan mengucap salam.

Pintu terkuak. Wajah teduh Bu Salma muncul dari balik pintu. Tersenyum ramah.

“Nak Alif, masuk”

Alif melangkah masuk dan duduk tenang setelah dipersilakan. Berpikir cepat bagaimana memulai percakapan. Ia berdeham sekali.

“Bu, bagaimana kabar Kak Dayat?” Alif mengawali dengan menanyakan kabar.

“Al-hamdulillah, kabarnya selalu baik, tidak lama lagi dia akan libur”

“Hm.. sebenarnya Alif mau minta tolong, sekiranya bisa mendapatkan nomor untuk menghubungi Kak Dayat. Aku ada sedikit keperluan dengannya”  

“Owh.. tunggu ya, Nak. Ibu carikan nomornya.” Bu Salma beranjak dari duduknya.

Dua menit kemudian Bu Salma kembali dengan buku kecil. Sepertinya tidak sulit menemukannya. Ia sibuk membuka lembar demi lembar, matanya mengekor pada telunjuk yang terus bergerak di lembaran buku. Sedetik kemudian tersenyum seraya menyodorkan buku dan menunjuk sederet angka pada Alif. Ada banyak nomor telepon di sana, Alif fokus pada nomor yang ia butuhkan. Jemarinya lincah mengetik sederet angka pada keyboard hp.

“Terima kasih banyak, Bu. Aku pamit,” ucap Alif sopan. Disambut dengan senyum ramah nan tulus dari Bu Salma. Senyuman khas seorang Ibu.


Alif bergegas pulang meninggalkan rumah Kak Dayat. Seseorang yang kini menjadi harapan untuknya bisa mendapat sejumlah informasi yang ia butuhkan. Seorang senior yang sejak tiga tahun lalu melanjutkan pendidikannya di sebuah universitas negeri yang cukup terkenal di Makassar. Memilih menjadi berbeda dari kebanyakan pemuda di kampungnya.

bersambung...

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Senin, 09 Mei 2016

Skenario Takdir (5)

Part 5: Keputusan

Jangan lewatkan kisah sebelumnya

“Bapak, Ibu, ada yang ingin Alif bicarakan, boleh?”

“Bicara saja Alif, kenapa pula pake izin segala kalau hanya ingin bicara. Hal penting apa yang membuatmu bertingkah aneh malam ini?” Ibunya terkekeh melihat tingkan Alif yang tak seperti biasanya. Sedangkan bapak hanya mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh anaknya.

“Mengenai tawaran Ibu dan bapak setelah saya lulus SMA dulu, apa itu masih berlaku?”

“Maksudku tawaran untuk melanjutkan sekolah” tambah Alif cepat saat orangtuanya terlihat bingung tentang tawaran yang ia maksud.

“Kamu serius mau kuliah, Nak?” Ibu bertanya pelan setelah berpikir sejenak, menatap Alif lembut. Bapak ikut menatapnya, menunggu jawaban atas pertanyaan Ibu yang juga pertanyaannya.

“Iya, Bu. Setelah kupikir-pikir ada baiknya aku melanjutkan sekolah”

“Bapak bersyukur akhirnya kamu berpikir berbeda, nak. Dari dulu bapak berulang kali  menawarimu untuk melanjutkan sekolah karena bapak percaya akan pentingnya pendidikan. Meskipun bapak bukan orang berpendidikan, tapi bapak sangat tahu betapa pentingnya ia. Bapak tak pernah mau memaksamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan, makanya bapak membiarkan, sambil berharap adikmu kelak akan tumbuh berbeda. Lebih tertarik untuk belajar. Kalau malam ini kamu datang atas keinginanmu untuk kembali sekolah, tentu bapak sangat bahagia mendengarnya, Nak. Akan ada dari keluarga kita yang kelak memutus rantai kebodohan. Melalui sekolah, kamu tentu akan melihat banyak hal yang orang-orang di desa ini belum tahu, inilah kesempatan. Semoga kelak kamu akan kembali dengan janji kehidupan yang lebih baik, bukan hanya untukmu dan keluarga kecil kita, tapi untuk desa ini, Nak. Itulah harapan Bapak dan Ibu.”

Alif hanya diam, terkesan dengan kalimat Bapak. Sulit untuk melihat dengan jelas mata bapak dan Ibu di temaramnya lampu teras. Maka ia memilih menatap jalan depan rumah yang berselimut gelap. Tapi ia tahu, mata mereka berair saat ini. Suara serak bapak telah menjadi penyampai pesan untuknya, bahwa kalimat beliau malam ini adalah sebuah harapan besar dari orangtua kepada anaknya. Harapan yang menjadi kekuatan bagi Alif, meski iapun tak tahu akan seperti apa masa depannya kelak.

“Baiklah, terima kasih banyak atas restu Bapak dan Ibu. InsyaAllah aku akan mulai mencari informasi dan melakukan persiapan-persiapan. Mohon do’anya selalu agar segala urusan Alif dimudahkan.”

“Pasti, Nak. Ibu dan Bapak akan selalu mendo’akanmu” ujar Ibu lembut. Alif tersenyum bahagia mendengarnya.

Perbincangan malam ini selesai. Alif memilih masuk ke rumah setelah pamit terlebih dahulu. Meninggalkan Bapak dan Ibu yang masih terlihat betah menikmati syahdunya malam. Melepas lelah seharian dengan mengobrol santai, seperti malam-malam sebelumnya. Sebuah kebiasaan yang indah untuk sepasang suami-isteri yang semakin senja.

Sebuah tekad menancap kuat dalam jiwa Alif. Keputusan telah mantap diambil. Jika hari-hari sebelumnya ia berniat kuliah karena seseorang yang telah menempati satu ruang khusus di hatinya. Maka malam ini, ia menemukan sebuah alasan baru yang lebih logis untuk harus kuliah. Ia adalah harapan bagi orangtuanya. Dan mungkin saja, dalam perjalanan menuntut ilmu ini ia akan menemukan alasan-alasan lainnya.

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP