Rabu, 27 April 2016

Dikenal Oleh Penduduk Langit


“Jadilah kalian yang dikenali para penghuni langit namun kalian tidak dikenal para penghuni bumi.” (Abdullah bin Mas’ud RA)

Merenungkan ungkapan ini melahirkan sebuah tanya, “Mampukah kita seperti ini? Menjadi makhluk yang tak dikenal oleh penghuni bumi namun terkenal di kalangan penghuni langit?

Sementara menjadi orang terkenal merupakan ambisi banyak orang. Bahkan, tak sedikit yang menghalalkan segala cara untuk mencapai yang diimpikannya, menjadi terkenal. Menjadi orang hebat yang dikenal di segala penjuru, dihormati dan banggakan. Menepati posisi mulia di tengah masyarakat. Seolah semua itu adalah ambisi yang harus didapatkan. Tak lagi peduli jika ada hak orang lain yang terabaikan. Semua demi ambisi yang membutakan.

Ambisi untuk dikenal banyak orang seringkali membuat lupa bahwa hidup ini bukan hanya tentang seberapa terkenal dan mulia kita di mata semua orang. Karena sungguh, ada hal yang lebih penting dari semua itu. Bagaimana kita di hadapan Sang Pencipta?

Saat menjadi terkenal sudah menjadi sebuah obsesi, segalanya akan dilakukan untuk mendapatkannya. Orang –orang akan berlomba demi kepopuleran. Saling menyerang untuk menyingkirkan satu sama lain. Segala kebaikan yang dilakukan harus diumumkan ke khalayak. Mereka tak sadar bahwa mereka telah membayar mahal popularitas yang sesungguhnya semakin menggiring ke jurang kegelapan. Lupa, bagaimana posisinya di hadapan Rabbnya.

Jika banyak orang hidup dengan obsesi seperti ini, maka tahukah kita? ada segelintir orang yang justeru berjuang untuk tidak dikenal oleh siapapun. Begitu hati-hati dalam beramal, takut sekali jika keikhlasannya berbuat baik ternoda. Mereka adalah orang-orang yang mungkin tak dikenal oleh penduduk bumi, namanya tak pernah disebut-sebut di bumi. Tapi sungguh ia terkenal di seluruh penduduk bumi. Ketika ia bedo’a, maka bergetarlah langit hingga langit ketujuh.

Termasuk golongan manakah kita?


Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


Senin, 25 April 2016

Menulis Essay


Tantangan pekan ini kami harus menulis satu kali duduk dan tanpa editan. Artinya kami harus menulis saja tanpa memvaca ulang apa yang sudah kami tulis. Menulislah seacar mengalir. Jika harus begini, maka hal yang paling mudah untuk kutuangkan adalah apa yang sudah kualami. Dengan begitu tulisan bisa mengalir apa adanya.

Kemarin malam, aku, Lela, dan Kak Isti terlibat sebuah diskusi. Semua berawal saat aku bertanya pada Kak Isti bagaimana cara menulis essay. Kak Isti –yang punya banyak prestasi dalam lomba menulis essay tentu tahu banyak bagaimana cara menulis essay. Itulah mengapa aku bertanya padanya. Kebetulan aku dan Lela lagi semangat mai belajar menulis essay, itu dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan yang sering diminta saat berniat mencari beasiswa.

Menurut Kak Isti, tak ada cara terbaik belajar menulis kecuali dengan menulis. “Sebenarnya aku tak tahu harus menjawab apa saat ada yang Tanya bagaimana cara menulis. Jujur, aku pun merasa tak tahu, apa essay itu sebenarnya. Saat memulai belajar menulis essay, aku hanya banyak membaca literatr-literatur yang berhubungan dengan tema apa yang ingin aku tulis dan membaca karya orang lain. Lalu mulai menulis. Jadi, kalau kamu bertanya bagaimana cara menulis essay, maka menulislah dahulu. Setelah menulis, akan kutnjukkan letak-letak salah ataupun apa saja yang harus diperbaiki.” Begitulah kira-kira jawaban pertama beliau saat kutanya cara membuat tulisan dengan genre essay.

Beliau mengibaratkan berlatih menulis itu dengan berlatih berenang. Kita tak akan pernah bisa berenang jika hanya tinggal duduk dan mendengarkan reori-teori cara berenang. Cara termudah belajar berenang dengan berenang. Begitupun dengan menulis, menulislah dahulu. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk berlatih.

Akhirnya beliau hanya menyampaikan uraian secara umum tentang apa dan bagaimana essay itu dan memintaku dan Lela untuk banyak membaca dan mulai untuk menulis. Jika sudah ada tulisan yang jadi, kalau memang ingin dibimbing, dia akan baca dan member kritikan dan arahan berdasarkan tulisan yang sudah ada.

Yah.. begitulah kesimpulan akhir diskusi kami tentang menulis essay. Kami harus memulai menulis jika memang ingin belajar. Selanjutnya kami asyik mengobrol tentang fakta-fakta yang banyak terjadi berkenaan dengan pendidikan di Inonesia hingga persoalan-persoalan yang banyak terjadi dalam ruang kelas, tema ini diangkat tentu karena pembahasan ini akrab dengan ‘kami’ (aku dan Lela) yang mengambil jurusan pendidikan. Kak Isti sendiri lulusan jurusan hukum tapi punya pengalaman setahun menjadi guru bahasa Inggris. Akhirnya perbincangan panjang terjadi.

Kurasa cukup. Ini sedikit tentang diskusi kami kemarin malam yang coba kutuliskan kembali.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDaynePost

Minggu, 24 April 2016

Cermin Ilusi


“ Senyumlah, Nak. Seberat apapun yang kamu hadapi, semua pasti akan berlalu. Meski Ibu tidak lagi bersamamu, Ibu ingin kamu  selalu bahagia. Kamu harus kuat!”

Suara itu lenyap seiring lenyapnya wajah lembut pada cermin bulat yang kupegang. Kurebahkan badan, menatap langit-langit kamar. Senyum tipis mulai menghias wajah senduku. Mengusap kristal bening yang tiba-tiba menetes mengiring senyumku. Kupejamkan mata, mencari kekuatan. Aku harus kuat, karena kau selalu ada untukku Ibu, teriak hatiku. Perlahan kubuka kembali mataku. Beban itu sungguh telah menguap entah kemana. Menyisakan aku  dengan senyum keyakinan. “Terima kasih, Ibu” ucapku lirih.

***

Aku tersenyum menatap cermin bulat di tanganku. Nasehat ibu selalu membuatku tenang dan nyaman. Selalu tepat dan sesuai sasaran.

“ Ika! Please deh, sampai kapan sih kamu terus begini? Berlagak bodoh di depan benda mati. Senyum sendiri bahkan tertawa sendiri.”

Aku terkejut. Menoleh, Nia dan Syifa berdiri di sampingku dengan ekspresi sebal.

“Betul. Ini masih pagi loh, entar kamu kesambet jin baru tahu rasa” Syifa ikut berkomentar.

Entah sudah berapa kali mereka menegur kebiasaanku bersama cermin bulat ini. Mereka tak pernah mengerti dengan duniaku karena aku tak pernah memberi tahu mereka tentang cermin ajaibku.

“Aku tidak bertingkah bodoh, ada banyak hal yang tidak akan pernah kalian pahami” Jawabku singkat dengan senyum misterius.

“Huh…terserah. Yang pasti sekarang ini kamu simpan cermin tak jelas itu dan dengarkan curahan hatiku, oke?” Nia berkata enteng dengan senyum manis, sama sekali tidak penasaran dengan ucapanku.

Sedetik kemudian cerita Nia mengalir bak sungai. Dia selalu semangat setiap kali bercerita pada kami. Penuh ekspresi, tak peduli itu cerita bahagia ataupun menyakitkan. Dia pribadi yang selalu ceria.

Ceritanya belum finish saat bel pertanda kelas akan dimulai membuatnya harus mendengus kesal. Tapi air mukanya segera kembali ceria mengingat masih ada jam istirahat untuk melanjutkan ceritanya. Aku hanya tersenyum simpul mengiyakan.

***

Syifa semakin semangat mendengar lanjutan cerita Nia tentang orang yang sedang dikaguminya. Bagi Nia, hal kecil apapun jika menyangkut orang yang ia kagumi, maka itu selalu istimewa. Aku hanya diam, berusaha memjadi pendengar yang baik. Aku tahu inilah yang harus kulakukan sebagai teman terdekat mereka.

Nia sampai pada akhir cerita. Dan seperti biasa, aku harus memberikan pendapat, saran, atau komentar apapun tentang ceritanya. Bagi mereka, aku adalah tempat curhat terbaik. Aku selalu memberi solusi dan saran yang memuaskan sesuai yang mereka butuhkan. Setiap komentarku adalah yang terbaik. Karena itulah, aku harus selalu siap setiap mereka ingin bercerita.

Aku melirik pergelangan tangan, sembilan menit lagi waktu istirahat berakhir. Minumanku juga sudah hampir habis. Syifa masih asyik bercerita, meski air mukanya tak seceria Nia. Bagaimanalah ia bisa ceria jika ceritanya kali ini bertema ‘galau’. Aku memasang wajah prihatin sambil otakku berputar memikirkan solusi terbaik di akhir cerita.

****

“Prak…!”

Aku tersentak. Mataku mulai berkaca-kaca menahan tangis, menatap pecahan cermin bulatku berserakan di lantai. Ada rasa sakit dan sesak memenuhi rongga dadaku mengingat dua sahabatku dengan sengaja menjatuhkannya.

“Ika… jangan nangis dong… lagian inikan hanya cermin, kami bisa menggantinya dengan yang lebih bagus. Itu juga akan lebih baik untuk menghilangkan kebiasaan anehmu.” Syifa berucap sedikit terbata karena cemas, tidak menyangka responku akan seperti ini. Dia tidak tahu berapa penting dan berharga cermin itu bagiku.

“Mungkin bagi kalian cermin ini bukan apa-apa, tapi hanya dengan cermin ini aku bisa berkomunikasi dengan ibuku. Dengan cermin ini aku bisa melihat dan mendengar setiap nasehat darinya.” Pipiku menghangat oleh kristal bening yang dari tadi kutahan agar tak keluar. Pertahananku jebol.

What?? Berkomunikasi dengan ibumu lewat cermin? It’s impossible, Ika. Mana bisa kita bercakap dengan orang yang sudah meninggal? Dengar,  itu hanya ilusi. Aku memang tidak sepintar kamu, tapi kamu harus sadar kalau ibumu sudah meninggal dan tak mungkin bisa berhubungan apapun lagi denganmu. Itu hanyalah khayalan, Ika. Please, sadarlah. Emang berat menerima kenyataan, tapi kamu harus bisa.”

Nia berkomentar panjang lebar. Suaranya menggema memenuhi setiap sedut kamar Syifa. Dia sama sekali tak percaya dengan ucapanku. Kalimatnya semakin melukaiku meski juga mulai mengganggu pikiranku. Mungkinkah ini hanya ilusi?

“Iya, aku memang bodoh dan aneh. Tapi itu satu-satunya barang yang menghibur, menyemangati, dan setia mendengar setiap ceritaku. Mungkin kalian tak pernah sadar, kalau aku juga manusia sama seperti kalian yang butuh tempat untuk cerita. Tapi kesempatan itu tak pernah ada untukku, aku ada hanya untuk mendengar cerita kalian. Aku diam dan terima semua ini, karena cermin itu selalu ada untukku. Tapi hari ini, satu-satunya barang berhargaku juga sudah hancur, dan itu karena kalian!”

Aku berlari meninggalkan kamar Syifa. Tak lagi peduli dengan tugas yang belum selesai. Aku sudah menumpahkan segalanya. Biarlah, mungkin inilah saatnya mereka mendengarku meski ini tentu sangat mengejutkan buat mereka. Ada kepuasan yang kurasakan. Tapi sebuah pertanyaan baru menggangguku. Apakah cerminku sungguh hanya ilusi?


Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

World Book Day


Hari ini, 23 April 2016 merupakan peringatan hari buku sedunia. Di sosmed, ramai orang-orang menulis satu dua kalimat sebagai bentuk apresiasi mereka terhadap hari buku. Mungkin kalimat itu tulus untuk mewakili wujud cinta dan pedulinya terhadap budaya membaca. Namun, mungkin juga ada segelintir mereka hanya sekadar ikut-ikutan tanpa tahu-menahu makna dari peringatan hari ini.

Peringatan hari buku tentu bukan hanya sekadar peringatan tanpa makna. Ada hal yang melatar belakangi peringatan ini. Salah satu alasan peringatan hari buku yaitu utntuk menyadarkan kita betapa penting dan bernilainya sebuah buku.

Seringkali kita mendengar istilah ‘buku adalah gudang ilmu’, tentu kita sangat paham makna ungkapan ini. Buku punya kekuatan ajaib yang membuat keberadaannya tak boleh dipandang sepeleh. Bagaimana tidak, melalui buku kita tak perlu hadir dalam kejadian masa lalu untuk mengetaui sejarah, cukup membaca sejarahnya lewat buku. Dengan kata lain, buku mampu menjaga keabadian sejarah.

Selain menghidupkan sejarah, buku mampu mengantarkan pembacanya pada tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Berbagai Negara di belahan dunia dengan segala pesonanya bisa kita ketahui melalui buku karena buku adalah cara lain melihat dunia. Darinya juga kita bisa tahu banyak hal secara detail tentang apapun. Melalui buku, pengetahuan mampu diwariskan pada generasi selanjutnya. Inilah peranan penting sebuah buku.

Jika buku adalah salah satu kunci pengetahuan, maka melalui bukulah sebuah bangsa bisa bangkit, hidup dan bejaya. Berkacalah pada Negara-negara maju, mereka adalah negeri yang akrab dengan buku, masyarakatnya terwarnai dengan buaya baca. Maka tak heran mereka bisa jaya. Lalu, bagaimana dengan negeri kita tercinta?

Jika hari ini menjadi peringatan hari buku, maka pahamilah bahwa kehadirannya teramat penting, bukan hanya sekadar sebuah peringatan. Tujuan utama peringatan hari ini tentu untuk menghidupkan pentingnya budaya membaca. Semoga hari ini bisa memberi banyak kesadaran pada generasi masa depan negeri ini sadar dan peka akan pentingnya kehadiran sebuah buku.


Kupilih buku ‘Inspirasi Paman Sam’ sebagai bahan bacaanku hari ini sebagai wujud apresiasiku untuk hari buku sedunia. Bagaimana dengan Anda?

“There are great books in the world. And great worlds in books”

*Ini sedikit tentang buku, tapi ulasan tentang buku melahirkan pertanyaan baru dan tak kalah urgent, bagaimana minat baca kita? ini tentu sangat penting, karena apalah arti buku tanpa dibaca?
Think!

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


Jumat, 22 April 2016

Orangtua VS Anak


Ayyad, ponakanku yang sudah berusia delapan tahun melangkah pelan memasuki rumah. Mengndap-endap bagai pencuri yang takut tertangkap tuan rumah. Matanya awas memperhatikan sekitar, melangkah takut-takut. Baju yang dikenakan kotor oleh lumpur. Saya tersenyum melihat tingkahnya, kutahu ia berusaha menghindar dari umminya.

Sayang sekali, si ‘ummi’ tepat berada di dapan kamar mandi yang dituju. Membuatnya gagal menyembunyikan jejak bermain lumpur. Insiden dua hari lalu kembali terulang. Sederet nasehat dan peringatan kembali menggema. Menjadi penutup hari sebelum senja tiba.

Saya tersenyum, teringat masa kanak-kanakku. Ada banyak hal yang kusukai tapi tak bisa kulakukan sesuka hati. Saya rindu masa itu, saat pemikiran kita masih polos. Tak dibebani banyak permasalahan yang bikin mumet. Saat segalanya terlihat sangat sederhana.

Ada banyak sekali moment menyenangkan bagi anak-anak yang tak bisa dipahami orang dewasa. Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Sepanjang itu menyenangkan, maka semmuanya akan dilakukan. Tanpa mempertimbangkan banyak hal yang selalu dikhawatirkan oleh orang dewasa. Misal, bagi seorang Ibu bermain lumpur itu kotor, maka ia selalu melarang anaknya bermain lumpur. Sementara bagi si anak, bermain lumpur itu menyenangkan dan ia tidak peduli jika bajunya akan kotor.

Contoh lain, bermain hujan. Hampir semua anak senang bermain hujan. Berlarian kesana-kemari menantang hujan, tertawa, bergembira, dan bermain apa saja di tengah hujan bersama teman-teman, semua ini menyenangkan. Mereka tak khawatir akan sakit. Berbeda dengan Ibu yang selalu khawatir anaknya akan sakit karena hujan-hujanan. Beginilah perbedaan cara pandang anak-anak dan orangtua. Perbedaan yang akhirnya berbuah marah dari orangtua, dan sang anak harus menerima resiko.

Dalam kasus ini, apakah anak salah? Pantaskah ia disalahkan karena perbuatannya yang tak sesuai keinginan orangtua?

Bagi saya pribadi, orangtualah yang seharusnya berusaha memahami anak-anaknya. Tentu lebih mudah bagi seorang Ibu memahami dunia anak-anak karena mereka pernah berada pada fase itu. Sementara anak-anak, bagaimana bisa ia memahami pemikiran orang dewasa dengan otaknya yang juga masih kanak-kanak? Mustahil bagi anak-anak memahami orang dewasa. Maka tak pantas ia disalahkan.

Saya teringat sebuah buku yang harusnya tiap orangtua wajib membaca buku ini, “Orangtuanya Manusia” karya Munif Chatib. Buku ini mengajarkan bagaimana seharusnya orangtua itu bersikap pada anak-anaknya. Penulis mengatakan bahwa tiap anak itu adalah bintang.

Yah, setiap anak adalah bintang, maka akan tiba saatnya ia bersinar. Disinilah peran orangtua dalam pendidikan sang anak. Utamanya pendidikan dalam lingkup keluarga. Bagaimana orangtua berusaha menanamkan karakter yang baik pada anaknya dengan memberikan keteladanan.

Jadi, bagaimanapun sikap seorang anak, pahamilah ia. Tidak semua permasalahan  harus diselesaikan dengan emosi. Pikirkan cara terbaik untuk membuatnya memahami hakikat baik dan buruk tanpa mengabaikan kesenangannya. Bimbing ia hingga bisa bersinar bagai bintang. Berjuanglah, karena kesuksesan orangtua mendidik ananya adalah kunci untuk kesuksesan anak di hari esok.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Metode Tamyiz


Mampu membaca Al-Qur’an dengan memahami maknanya adalah harapan banyak orang. Bagaimana tidak, melantunkan lafazh-lafazh Allah dan paham apa yang sedang dibaca tentu akan meningkatkan kekhusyu’an dalam mengaji. Namun, untuk memahami makna dari bacaan Al-Qur’an, maka itu tak lepas dari bahasa arab. Harus bisa bahasa arab untuk memahaminya.

Bahasa arab adalah bahasa yang cukup susah dipelajari. Dibandingkan bahasa inggris, bahasa arab lebih sulit karena banyaknya aspek yang harus dipahami dan dipelajari, salah baris dan huruf saja akan membuat maknanya berbeda. Maka dibutuhkan sebuah metode yang bisa memudahkan  mempelajari bahasa arab.

Metode Tamyiz adalah sebuah metode yang dikembangkan untuk memudahkan mempelajari makna Al-Qur’an. Dua hal penting dalam pembelajaran bahasa arab; ilmu nahwu dan shoraf, ini dikemas sebaik mungkin dalam pembelajaran menggunakan metode Tamyiz agar pembelajaran terasa mudah.
Metode Tamyiz merupakan metode pembelajaran bahasa arab yang ‘have fun’ sehingga belajar bahasa arab terasa menyenangkan dan tidak sulit. Sangat tepat karena sasarannya adalah anak-anak dan yang pernah jadi anak-anak. Prinsipnya, jika anak kecil saja BISA, Yang pernah kecil PASTI BISA.

Ini sedikit yang kutahu tentang metode Tamyiz setelah dua kali ikut kelas belajarnya.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Senin, 18 April 2016

Jangan Marah!


Bismillahirrohmanirrohiim…
  
Seorang sahabat menemui Rasulullah untuk meminta nasihat.
“Yaa.. Rusulullah, nasehatilah aku!.”
Laa taghdob (janganlah marah!),” jawab Rasululloh.
“ Kemudian apa lagi, ya Rasululloh?”

Rosululloh kemudian menjawab dengan jawaban yang sama. Sahabat kembali mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kali, dan dijawab dengan jawaban yang sama oleh Rosululloh dengan sedikit penambahan, “Laa taghdob, wa lakal jannah” (jangan marah, maka bagimu surga).

Subhanalloh… sebuah kisah dengan nasehat yang luar biasa. Pertanyaan sederhana, dengan jawaban sederhana, tapi punya makna yang luar biasa.

MARAH. Ada apa dengan marah?

Mengapa Rasululloh mengulang nasehat untuk tidak marah sampai tiga kali?

Berulangnya nasehat ini menyiratkan makna, bahwa ada ‘sesuatu’ dengan marah. Ada hal yang sangat urgent dari nasehat ini.

Marah adalah api. Bagaimana sifat api? Membakar! Api akan membakar apa saja yang ada di sekitarnya. Begitulah marah, akan melenyapkan segalanya, sesuatu yang teramat berharga sekalipun. Saat api padam, hanya akan menyisakan sesuatu yang tak berguna. Membuat sang pemilik menyesali api yang telah membakar baran miliknya, dan mulai berandai-andai.. seandainya tak ada api, maka barangku tak akan lenyap. Yang tersisa hanya penyesalan.

Begitulah gambaran amarah. Saat marah, bukan diri kita lagi yang berkuasa. Setan telah mengambil kemudi dan siap mengarahkan kemudi untuk melakukan dan mengucapkan hal-hal yang tidak baik. Sesuatu yang akan membuat kita kehilangan harta berharga yang kita miliki. Mungkin itu teman, sahabat, saudara, bahkan boleh jadi orangtua. Boleh jadi itu kepercayaan, harga diri, dan kewibawaan. Semua bisa hilang dalam sekejap, saat amarah telah berkuasa. Saat setan berhasil mengambil alih peran kita. Itulah amarah, seperti api. Membakar.

Itulah hikmah dari larangan Nabi agar tidak membuat keputusan disaat marah. Karena keputusan yang kita tetapkan dalam keadaan emosi adalah keputusan yang akan membuat kita menyesal pada akhirnya.

Pahamlah kita, mengapa Rasululloh mengulang nasehatnya ‘laa tahgdhob’ sampai tiga kali, karena bahaya yang ditimbulkan dari sifat tersebut akan berdampak buruk pada akhirnya.

Berlatihlah kendalikan amarah!
Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost