Selasa, 08 Maret 2016

Who am I? (2)



Sebelumnya aku sudah panjang kali lebar bicara tentang namaku, yah! Hanya seputar nama. Apa lagi yang harus kuperkenalkan? Tidak ada yang istimewa tentang diriku. Meski seorang pakar menyatakan ‘Setiap anak lahir membawa hal istimewa dalam dirinya’ tapi aku belum menemukan hal istimewa itu.

Aku hanya gadis biasa. Tak ada yang istimewa dariku. 

Yah, seorang gadis yang dikenal pendiam dan pemalu, tapi lumayan dikenal di tiap tempat yang pernah kujejaki. Dibalik diamku, ada juga beberapa prestasi yang hanya akan nampak saat terdesak. Dengan kata lain, aku terlalu pemalu dan tidak percaya diri. Sebuah kelemahan yang hingga saat ini masih tak menemukan jalan keluar.

Saat ‘terdesak’ adalah sebuah kesempatan aku bisa terlihat sedikit cemerlang. Itu adalah saat aku tak tahan pada suatu hal yang diperdebatkan orang sekitarku hingga aku terpancing untuk segera angkat bicara. Dan saat bicara, maka aku akan menjadi penguasa dalam forum. Tentunya jika topik yang dibahas adalah hal yang kukuasai, hehe..

Aku lebih memilih diam dan menjadi penyimak dan pendengar yang baik di setiap forum yang kuikuti. Hanya bicara saat merasa ‘Aku harus bicara’. Sayangnya, saat aku merasa harus bicara itu hanya berdasarkan versiku saja, saat emosiku terpancing suasana. Tapi saat suasana adem terkendali, aku seperti tak ada dalam forum. Sehebat apapun ide yang kupunya, sekeren apapun pendapatku, dan sebagus apapun saranku, semua hanya akan berkeliaran di kepala. Tak pernah terlontar lantaran sifatku yang tidak percaya diri.

Saat ‘terdesak’ lainnya adalah saat orang sekitarku begitu percaya terhadap kemampuan yang selalu kuingkari. Sehingga mereka memaksaku ikut berpartisipasi dalam kompetisi. Terus mendesakku sampai aku tak punya pilihan selain ikut. Dan betul, aku berhasil.

Prestasi yang pernah kuraih selalu kuanggap sebuah ‘keberuntungan’ bagiku, bukan karena kemampuanku. Bagiku, itu hanya sebuah keberuntungan dan kebetulan.

Jujur, saat Mts sederajat SMP) dan MA (sederajat SMA), seingatku, aku hampir tak pernah gagal dalam semua lomba yang kuikuti. Aku selalu menjadi juara, kecuali pada satu lomba. Dan aku  tak pernah mengajukan diri untuk ikut. Peringkatku di sekolah pun selalu baik.

Tapi, di balik semua itu, aku tak pernah percaya bahwa itu murni kemampuanku. Itu kuanggap keberuntungan. Matematika kesuksesan seringkali tak sejalan dengan logika manusia, bukan?

Tunggu dulu, tiga sifat yang kusebutkan sebelumnya hanya berlaku di tengah orang banyak, orang asing, dan orang-orang yang tidak akrab denganku. Di tengah orang-orang yang sangat kukenal, aku bukan lagi Muallimah yang pendiam, pemalu, dan tidak percaya diri. Justru sebaliknya.

Aku bukan tipe orang yang mudah bergaul, sama sekali tidak supel. Tapi sekali bisa berteman, aku bisa menjadi teman yang baik. Ups.. kelewat panjang, aku tak akan membuat blog ini berkicau terlalu banyak tentang diriku. Singkatnya, aku lebih suka berdiam di rumah, tepatnya di kamar ketimbang jalan tak tentu arah ataupun tentu arah. Lebih menarik menghabiskan waktu dengan segala kesukaanku ataupun mengerjakan banyak hal di rumah. Jadi, jangan bertanya banyak soal tempat dan jalan padaku, salah alamat!

Aku senang membaca, apalagi novel-novelnya Bang Tere. Novel yang tak pernah terlewatkan, sangat inspiratif. Kesukaanku membaca membuatku suka menulis, meski itu bukan hal penting untuk ditulis, lebih sering ngawur.

Detective Conan, hal lain yang telah membuatku jatuh cinta. Memori laptopku sudah merah lantaran koleksi film conan. Dua hal yang bisa menghalangiku dari tidur, membuat mataku sanggup bertahan sehari-semalam tanpa terpejam, membaca dan menonton.

Selain itu, pantai dan hujan. Dua hal yang juga sangat kusukai. Aku selalu menolak diajak jalan kecuali untuk dua tempat, pantai dan perpustakaan. Selalu ada kedamaian tiap kali menatap lautan.

Tentang impian, ah.. impianku terlalu banyak untuk kusebutkan. Tapi dua hal yang telah kusebutkan; menjadi guru dan penulis.

Terakhir, aku seorang mahasiswi semester akhir di Universitas Muslim Indonesia Makassar, fakultas SASTRA jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sekarang lagi fokus sama penelitian. Semoga cepat kelar.

Sekian perkenalan yang sangat panjang dan membosankan dariku. Salam pena!

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost

Pekan ke-2: Hari kedua

Senin, 07 Maret 2016

Who am I?

Part 1: Metamorfosis Sebuah Nama

Perkenalan diri. Ini tema pekan kedua di ODOP. Sesuatu yang selalu membuatku tak tenang jika diminta melakukannya. Aku tak sepandai kebanyakan orang memperkenalkan dirinya. Tak tahu apa yang harus kuperkenalkan, ini alasan sebenarnya. Kalau sekedar memperkenalkan nama, mudah saja. Namaku Muallimah. Nama panggilan, aku mulai bingung dengan pertanyaan ini, entah harus bilang apa. Tapi setidaknya, menulis sedikit lebih mudah dibanding harus menjelaskan secara lisan. Menulis adalah cara terbaik mengungkapkan segalanya, tak akan ada yang bisa membatasi dan protes. Selama tidak menyangkut kehidupan orang lain, ‘mereka’ tidak akan terusik.

Muallimah yang berarti ‘Guru’, nama yang disematkan kedua orangtuaku. Bukan sekedar nama, tapi sebuah do’a dan harapan dari mereka yang menyayangiku. Nama yang akhirnya mengembalikanku pada cita-cita masa kecil, menjadi seorang guru. Cita-cita yang telah terkubur lama dan berganti dengan seabrek cita-cita baru. Tapi nama itu, mungkin menjadi do’a yang ijabah karena telah diucapkan oleh orang-orang yang do’anya terijabah. Sejalan dengan orangtua yang memberikan nama itu dengan ketulusan dan harapan. Adakah yang bisa mengalahkan kekuatan ini? Baca selengkapnya di arti sebuah nama.

Kembali perihal nama panggilan. Nama indah ini akhirnya bermetamofosis menjadi serangkaian nama dengan sejarahnya masing-masing. Mulai dari Muallimah, ima, mu’el, Mu’ sampai beberapa nama yang tak nyambung pun juga ada. Katanya panggilan sayang. Semoga. Dan aku lebih suka dipanggil Muallimah, meski jarang yang memanggilku demikian. yang setia dengan panggilan itu hanya beberapa, termasuk yang memberikan nama, orangtuaku. Juga orang-orang yang baru mengenalku. Awalnya mereka akan memanggilku dengan nama lengkap, karena saat berkenalan aku tak pernah menyebut nama panggilan kecuali saat diminta. Seiring berjalannya waktu mereka akan mulai mengeluh dan bertanya, “Muallimah terlalu panjang, panggilannya apa sih?” Aku sudah tahu, akhirnya akan begini. Siklus yang tak berubah. Maka mulailah mereka memilih nama yang mereka lebih nyaman, dan memanggilku dengan nama itu.

Mamaku pernah komentar soal nama anak-anaknya yang terasa asing di kupingnya. “Kenapa nama kalian jadi seperti itu? Padahal mama sudah pilihkan nama yang bagus-bagus untuk kalian,” dan aku lemparkan kesalahan pada mereka yang ‘entah’, mereka yang telah memodifikasi nama kami sampai seaneh itu bagi mama.

Jadi begini, aku dan kedua adikku yang masng-masing berjarak dua level sekolah di tempat yang sama. Sebuah sekolah berasrama. Aku kelas sebelas, Humairah kelas sembilan, dan si bungsu Muzakkirah kelas tujuh. Jadilah tiga nama indah ini berkeliaran di sekolah yang sama, Muallimah, Humairah, dan Muzakkirah. Sekali lagi, nama yang menjadi do’a dan harapan dari orangtua kami. Sayangnya, dengan sejarahnya masing-masing, nama ini bermetamorfosis. Muallimah jadi Mu’el, Humairah jadi Humer, dan Muzakkirah jadi Muzek. Dan satu sekolah akrab memanggil kami dengan nama-nama baru ini. Saudara dan keluarga lainnya pun ada yang mulai memanggil kami dengan nama-nama ini.

Bagaimanapun orang-orang menyingkat atau memplesetkan nama kami. Mamaku, sosok yang tetap selalu setia memanggil kami dengan nama pemberiannya. Dia tak terpengaruh siapa pun. Baginya, nama kami adalah apa yang telah mereka sematkan sejak kami harus diberi nama. Sekali lagi, nama itu adalah do’a dan harapan dari mereka yang amat menyayangimu.


jika berkenan, panggil aku Muallimah. Maka aku akan sangat berterima kasih karena telah mendo’akanku. Lalu bagaimana dengan Aqilah El-Hafizhah? Nama yang kerap kali muncul diakhir setiap tulisanku. Semoga ada waktu untuk membahasnya secara tersendiri.

Akhirnya hanya bisa nulis soal nama, maafkanlah.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Pekan ke-2: Hari pertama

Jumat, 04 Maret 2016

Hadiah Kecil Dari ODOP



Waktu berjalan begitu singkat, hari ini adalah hari kelima dari program ODOP. Artinya, pekan pertama dari program ini telah berhasil terlewati. Yang luar biasa adalah, ini berarti setidaknya aku sudah menulis secara rutin selama lima hari dengan konsisten. Wow! Lima hari sama dengan lima tulisan. Meski entah bagaimana kualitas tulisan yang berhasil kuhasilkan. Saat ini, aku lebih fokus pada kontinuitasku dalam menulis.

Lima hari berturut-turut aku menulis, meski dua hari dari lima hari ini aku sempat nge-post tulisan tengah malam,tepatnya lewat dari pukul 24.00 WIB. Telat 2-3 jam dari waktu seharusnya. Itu karena aku selalu tertidur akibat kelelahan seharian. Tapi, bagaimanapun itu, aku tetap berusaha untuk bisa mengejar keterlambatanku. Lagian, ukuran dimulainya hari buatku adalah setelah subuh, maka kuanggap tengah malam itu masih bagian dari sepanjang hari itu. Ini hanya versiku J

Bagiku, ini adalah rekor pertama bisa menulis secara konsisten selama lima hari berturut-turut, maka kusebut pencapaian rekor ini sebagai hadiah kecil dari ODOP. Hadiah kecil? Yah, ini hanya hadiah kecil dari ODOP atas keseriusanku melewati pekan pertama. Bisa dibayangkan, jika aku bisa bertahan sebulan, dua bulan, atau sampai program berakhir. Hadiah apa yang akan kuterima? Entah ada berapa tulisan yang bisa kuhasilkan. Ini hanya gambaran jika aku mampu konsisten tetap berjalan bersama odopers lainnya hingga akhir program. Dan kuharap, aku sungguh bisa sampai di titik akhir perjalanan ini. Karena itulah alasan utama aku memutuskan bergabung.

Hadiah kecil ini adalah prestasiku dalam menulis. Bukan hal mudah bagiku bisa menulis tiap harinya. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal biasa, dan aku terlalu berlebihan menganggapnya sebuah prestasi ataupun hadiah. Tapi tidak denganku, pribadi yang hanya menulis dalam angan dan terlalu malas menuangkannya dalam tulisan. Maka jangankan sebulan, dalam setahun pun aku tak tahu berapa tulisan yang berhasil kubuat. Tapi hari ini, aku bisa melihat jejakku selama lima hari di blog ini. Aku bahagia.

Terima kasih, Bang Syaiha. Sosok yang telah menjadi the pioneer bagi program ini. Memberikan celah untuk kami berlatih dan belajar menulis. Semoga balasan terbaik senantiasa tercurahkan. Terima kasih juga my beloved sister ‘Aira’ yang telah menjadi jembatan untukku mengenal ODOP. Tentunya, terima kasih buat teman-teman ODOPERS yang senantiasa saling mendukung dan menyemangati, meski diri ini sangat jarang ikut nimbrung di tengah-tengah obrolan kalian yang tak terkejar. Cukup menjadi latihan kesabaran buatku melihat chat yang selalu menumpuk untuk dibaca J

Salam semangat, semoga bisa bersama hingga di penghujung program.


Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Hari ke-5

Apakah Kemampuan Menulisku Meningkat?

Ada cara sederhana untuk mengetahui apakah kemampuan menulis kita meningkat atau tidak. Caranya, dengan membaca kembali tulisan kita terdahulu. 

Misal, kita mau tau apakah kemampuan menulis kita meningkat selama sebulan ini atau tak ada peningkatan, begitu-begitu saja. 

Coba buka kembali arsip tulisan kita dan baca salah satu tulisan yang kita tulis bulan lalu. Apakah kemampuan kita meningkat atau tidak? Bagaimama cara mengetahuinya? Caranya mudah, kalau kita membaca tulisan yang ditulis bulan lalu dengan perasaan sama saat menulisnya dulu, merasa tulisan itu tetap hebat dan sudah bagus, ini indikasi kalau tak ada peningkatan dari kemampuan menulis kita. Kemampuan kita sama saja dengan sebulan lalu.

Sebaliknya, jika kita membaca tulisan lama kita dengan perasaan berbeda saat menulisnya, ini indikasi adanya peningkatan dari kemampuan menulis kita. Misal, saat membacanya tiba-tiba kita merasa malu dengan tulisan itu karena menyadari beberapa kesalahan, atau merubah beberapa dalam tulisan itu karena merasa ada yang kurang. Atau mungkin kita merasa tulisan itu jelek, atau alasan lainnya. Ini bisa menjadi indikasi adanya peningkatan dari kemapuan menulis kita.

Mungkin, kurang keliatan peningkatannya kalau selama sebulan. Ini terlalu singkat. Coba baca tulisan setahun yang lalu, mungkin akan lebih terasa perbedaannya.

Lalu, seberapa valid cara ini? Entahlah, ini hanya cara sederhana yang bisa kita coba. Aku sendiri tidak tahu seberapa valid cara ini. Aku hanya mencoba menyampaikan apa yang pernah kupelajari dari beberapa kelas yang pernah kuikuti. 


So, kembali pada pembaca, mau setuju atau tidak, terserah.. :)

Rabu, 02 Maret 2016

Menemukam 'Ide'


Ide. Hal pertama yang harus dimiliki seorang penulis untuk memulai tulisannya adalah 'menemukan ide". Seringkali kita terbentur pada persoalan ini, berhenti menulis karena kehabisan ide. Hal ini juga sering kualami, utamanya saat ini :). Saat aku harus menyetor tulisan sebagai kewajibanku selaku peserta ODOP.

Aku teringat salah 1 tulisan mbak Maya yang sempat kubaca, sebuah solusi saat kita merasa tak punya ide. Solusi ini juga sering disarankan oleh teman-teman di organisasi, bahwa tak punya ide pun merupakan sebuah ide. Maksudnya apa? Saat kita merasa tak punya ide dan kita diharuskan menulis, maka tulis saja kondisi saat itu. Berceritalah bahwa saat ini kita tak punya sesuatu untuk dituliskan, maka tentunya, tulisan itu akan mengalir dengan sendirinya. Akhirnya, itu akan menghasilkan sebuah tulisan.

Ini tentu sebuah solusi, tapi.. coba pikirkan. Akankah kita terus seperti ini saat mentok tak punya ide? Jika demikian, maka setiap kali kita tak punya ide, maka kita akan menghasilkan tulisan yang temanya sama, tak punya ide. Semakin sering tak punya ide, maka akan semakin banyak tulisan bertema sama, bukan begitu? Ini masalah menurutku. Jika sekali dua kali mungkin boleh saja, tapi jangan keseringan.

Maka dibutuhkan solusi baru untuk permasalahan ini. Dari beberapa kelas menulis yang pernah kuikuti, pemateri seringkali bilang kepada peserta, 'kenapa pusing dengan ide? Ide itu ada di mana-mana. Cobalah lihat sekeliling kita, maka itu adalah hamparan ide sebenarnya. Tuliskan saja apa yang kita lihat dan hubungkan dengan apa yang kita rasakan'. 

Betul sekali, segala yang ada di sekitar kita adalah kumpulan ide. Apa yang kita lihat, dengar, baca, rasakan, dan alami, semua ini akan menghasilkan ide yang tak terbatas. Tapi, butuh berlatih untuk terbiasa membuka pikiran kita dari semua ide yang sudah terbentang di hadapan kita. Tanpa latihan, semua akan sama saja.

Sering-seringlah melatih pikiran kita untuk segera menemukan ide saat melihat sesuatu. Dari apa yang kita lihat, bertanyalah "tulisan apa yang bisa kubuat?"misal, kita melihat seorang bocah sedang menangis, bertanyalah pada diri sendiri "tulisan apa yang bisa kuhasilkan dari bocah yang menangis didepanku? 

Mulailah menulis, tuliskan apa yang kita lihat, lalu hubungkan dengan apa saja sampai bisa menjadi sebuah tulisan. Hubungkan dengan yang kita pikirkan, atau pengalaman yang pernah kita alami, atau ilmu yang kita punya dan itu berhubungan, atau tuliskan saja dugaan-dugaan kita, atau komentar kita, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Ramulah mereka dalam kata-kata. 

Demikianlah sedikit saran untuk menemukan ide. Saran yang sebenarnya ditujukan secara khusus untuk penulis, yah.. untuk diriku sendiri yang selalu merasa sulit dengan ide. Teori itu selalu lebih mudah dati prakteknya, bukan begitu?

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
#Hari ke-3

Selasa, 01 Maret 2016

Merajut Harapan Bersama ODOP (2)

Part 2: Kutemukan Jalannya

Membawa kekecewaan sepulang workshop kepenulisan bukan berarti membuatku berhenti dan berputus asa untuk menulis. Aku tetap menulis seperti biasa, beberapa cerpen yang selalu kutulis di buku tulis khusus. Saat itu belum ada laptop. Meski tetap menganggap menulis, menulis, dan menulis itu bukan sebuah tips, entah mengapa, itu terus saja terngiang tanpa kurencanakan.

Saat mulai bosan menulis cerpen, kuputuskan untuk mencoba menulis novel. Bukan bosan karna sudah banyak menghasilkan cerpen, hanya ada beberapa cerpen yang sempat kutulis dan aku sudah bosan, aneh kan? Maka kumulai menulis novel sedikit demi sedikit, sangat perlahan. Jujur, aku nulis hanya saat semangat saja. Tak terasa buku tulis yang kugunakan untuk novel sampai pada halaman terakhir, maka kulanjutkan ke buku kedua. Sementara menulis di buku baru, buku pertama dibaca teman-temanku secara bergilir. Buku pertama itu terus berpindah dari tangan ke tangan hingga tak keliatan lagi rimbanya. Buku itu hilang dan tak ada yang bertanggung jawab atas kehilangannya, hilang saat jalan ceritanya masih jauh dari kata finish. Kurelakan saja, dan berhenti melanjutkan buku keduanya, buat apa?

Dan itu adalah saat terakhir aku menulis. Aku berhenti menulis, benar-benar vakum dari dunia tulis-menulis. Lima tahun,inilah waktu yang kulewati tanpa tulisan, tapi hobi bacaku tak pernah berhenti. Aku tak lagi berpikir banyak tentang ‘Menjadi penulis’.

Perkuliahan, dunia baru yang mempertemukanku dengan sosok-sosok baru. Salah satunya, seorang teman yang kembali membawaku ke dunia ‘menulis’. Bersamanya aku mulai menulis, bahkan mengajakku bergabung dengan salah satu organisasi kepenulisan. Harapannya, aku bisa konsisten untuk menulis, nyatanya? Sama saja, aku masih selalu malas menulis, ini penyakit. Aku menulis hanya saat ada tugas menulis dari organisasi. Hanya itu.

Subuh sekali, saat adikku yang juga senang menulis memperkenalkan ODOP kepadaku. Awalnya aku cuek tak peduli, karena aku sudah bergabung di sebuah organisasi kepenulisan dan juga sebuah grup menulis online. Tapi aku terusik juga melihat adikku yang begitu antusias. Kumintalah dia menjelaskan lebih detail tentang ODOP, tapi dia hanya mengirimiku sebuah link, blognya Bang Syaiha. Kubaca dengan teliti sambil berpikir, mempertimbanhkan.

Akhirnya, pagi itu kuputuskan untuk bergabung. Apa yang membuatku yakin dengan program ini? Pertama, aku sadar bahwa jika serius ingin meningkatkan kemampuan menulisku, caranya Menulis, menulis, dan menulis tiada henti. Membiasakan diri untuk menulis apa saja yang terlintas di pikiran. Dan ini tentu tidak mudah, hanya orang-orang konsisten yang bisa melewatinya. Ini adalah tantangan!

Kedua, aku yang malas menulis, ini adalah penyakit, kekurangan yang harus ditutupi. Dan cara menutupinya adalah, dengan mengikuti program yang ketat dengan aturan. Aku mungkin malas, tapi aku tipe orang yang peduli peraturan (mulai ge-er). Aku berpengalaman mengikuti kelas-kelas online dengan peraturan super ketat, dan berhasil menjadi bagian yang lulus sampai akhir, meski harus melewatinya dengan terseok-seok, wuiiih…. Pede bingits. Belajar dari pengalaman, maka rasanya aku telah menemukan jalan untuk bisa konsisten menulis, ikut program ODOP.

Maka bagiku, ODOP adalah tempatku merajut kembali harapan untuk menjadi seorang penulis. aku berharap ODOP bisa menjadi jalan untukku konsisten menulis. Tentu ada banyak tantangan kedepannya, dan aku tak tahu sampai kapan aku  bisa bertahan. Tapi besar harapku, bisa menuntaskan program ini sampai akhir untuk menciptakan karakter baru dalam diriku, mampu konsisten menulis.

Bismillah… semoga kita semua bisa bertahan hingga akhir, melewati semua tantangan hingga mencapai tujuan yang kita harapkan. Nun, demi pena.

Aqilah El-Hafizhah

ODOP hari ke-2

Merajut Harapan Bersama ODOP (1)


Part 1: Sebuah Awal

Berawal dari hobi baca, akhirnya bermimpi menjadi seorang penulis. Alasannya sederhana, kepingin jadi orang yang bisa menebar banyak manfaat. Dan kupikir, menulis adalah salah satu cara efektif untuk mewujudkannya. Aku mendapat banyak manfaat lewat bacaan, maka aku berharap kelak juga bisa menjadi orang yang menyebar manfaat  seperti mereka, para penulis.

Keinginan menjadi seorang penulis membuat aku mulai menulis. Saat itu aku masih seorang siswi SMP dan bacaanku masih berkisar fiksi, maka yang kutulis pun sama, fiksi (baca:cerpen). Suatu ketika, sekolahku mengundang Mbak Asma Nadia dalam workshop kepenulisan bersama dua penulis lainnya. Dengan semangat menggelora aku ikut dalam workshop tersebut. Aku mengikuti seminar dengan antusias, yang ada dipikiranku, “setelah ikut seminarnya mbak Asma, aku pasti bisa menjadi penulis seperti beliau”, itu pemikiran yang sangat kekanakan tentu, maklum, masih kelas 1 SMP, masih polos, hehe. Karena aku belum paham bahwa menulis itu proses panjang dan ada banyak hal yang harus dilalui untuk menjadi seorang penulis. Aku belum paham kalau setiap penulis punya cerita suka dan duka sampai bisa menghasilkan sebuah buku . Saat itu, masih terlalu dini buatku memikirkan perjuangan, pengorbanan, dan hal lain yang menghiasi perjalanan para penulis. Aku baru mulai sedikit paham dan mulai berpikir ‘menjadi penulis itu tidak semudah yang kupikirkan’ saat mbak Asma dan mas Gegge menceritakan pengalaman mereka.

“Menulis itu bukan bakat, tapi kebiasaan” demikian yang dikatakan mbak Asma. Kalimat yang melahirkan semangat dan harapan pada diriku, bahwa aku yang tak punya bakat pun bisa menjadi penulis. Tibalah saat yang kutunggu-tunggu, tips menjadi penulis dari Mbak Asma. Aku bersiap mencatat, katanya hanya ada tiga tips jitu menjadi penulis, kalau kita konsisten mengaplikasikannya maka kita akan menjadi penulis. Pertama, menulis. Beliau memberikan uraian panjang tentang tips pertama, aku menyimak denga takzim. Kedua, menulis. Jemariku yang siap menuliskan tips kedua tertahan, aku bingung, “apa aku tidak salah dengar? Kenapa yang pertama sama dengan yang kedua? Atau mbak Asmanya yang salah sebut?” aku masih melongo sampai mbak Asma memberikan penjelasan bahwa setelah menulis, menulis lagi. Dan tips ketiga pun sama, menulis. Intinya, menulis! Menulis! Menulis! Hanya ini cara untuk menjadi penulis.

Jujur, aku yang masih polos seketika kecewa dengan tipsnya. Aku berharap ada hal hebat yang akan disampaikan yang akan menyihirku menjadi seorang penulis seperti beliau. Aku tak butuh tips ‘konyol’ itu. Aku sudah tahu, untuk menjadi penulis tentu harus menulis, tapi mana tipsnya? Aku sama sekali tidak menganggap itu sebagai tips. Aku pulang dengan membawa kekecewaan.

Hari itu, aku benar-benar belum paham bahwa ‘Menulis, menulis, menulis’ adalah tips paling mujarab untuk menjadi seorang penulis, karena sejatinya, menulis itu pembiasaan. Semakin kita sering menulis maka kemampuan kita semakin meningkat tanpa kita sadari. Ada begitu banyak teori-teori  untuk menjadi penulis hebat. Berbagai tips-tips mujarab diberikan oleh ahlinya, tapi apalah arti teori dan tips-tips tanpa praktek? Proses  panjanglah yang akhirnya membuatku paham makna tips dari ‘Menulis,menulis, dan menulis. Kini, aku hanya tersenyum mengenang diriku berapa tahun lalu. Konyol.

Aqilah El-Hafizhah