Sabtu, 07 Mei 2016

Skenario Takdir

Part 4: Kegalauan

baca kisah sebelumnya: Part 3

Permainan sepak bola sore ini terlihat seru seperti biasanya, tapi Alif tidak bergabung kali ini. Memilih menjadi penonton. Dia nampak memikirkan sesuatu. Sudah beberapa hari ini ia terus memikirkan perbincangan terakhirnya dengan Holif.

“Kakak masih belum kepikiran untuk kuliah?”

“Kenapa tiba-tiba bertanya soal kuliah?” Alif justru bertanya balik, heran.

“Apa tidak sebaiknya Kak Alif kuliah saja? Kakak itu kan pintar, sayang kalau tidak dimanfaatkan”

“Kuliah buat apa sih, Holif.. tidak usah susah-susah kuliah untuk dapat uang dan pekerjaan. Lagian kakak kan tidak nganggur, kakak kerja dan berpenghasilan.”

Sudah hampir dua tahun sejak lulus SMA. Alif memutuskan membantu bapak mengurus kebun. Di desa ini memang jarang sekali ada yang melanjutkan pendidikan sampai ke jenjang perkuliahan. Itu masih menjadi barang mahal. Bukan hanya masalah biaya, antusias anak-anak untuk kuliah memang kurang.

Sudah menjadi siklus yang yang terus berputar. Ketika anak laki-laki sudah menyelesaikan pendidikan SMA, mereka langsung bekerja apa saja. Membantu bapak kerja di kebun, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang. Sementara bagi anak perempuan, mereka hanya menunggu lamaran datang untuk segera menikah.

Begitulah, hanya ada beberapa pemuda desa ini yang melanjutkan pendidikannya ke kota dan memilih bekerja di sana setelah lulus ketimbang kembali ke desa.

Holif masih nampak diam, sementara Alif masih menunggu. Penasaran kenapa adiknya tiba-tiba bertanya soal perkuliahan yang sedikitpun tak pernah terpikirkan olehnya.

“Aku tahu pikiran kakak. Cukup bekerja dan menabung mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, terus kalau kak Aina selesai dari pondok langsung dilamar, kan?”

Hanya dijawab cengiran oleh Alif. Tak ada lagi yang harus ia sembunyikan dari adiknya. Sejak Holif tumbuh dewasa, cepat sekali ia bisa membaca situasi, menghubungkan setiap kejadian sekecil apapun hingga sampai pada satu kesimpulan, kakaknya suka sama Kak Aina. Alif ketahuan, tak ada alasan yang bisa membuatnya mengelak dari interogasi adiknya. Sudahlah, malah bagus sekarang, adiknya bisa menjadi sumber informasi.

“Kak Aina itu berbeda dengan gadis desa kebanyakan. Jangan berpikir untuk segera melamarnnya setelah lulus nanti, kakak pasti akan ditolak. Dia itu cerdas dan berprestasi, punya keinginan besar untuk terus belajar, sedikitpun tidak berpikir untuk langsung menikah setelah lulus”

“Maksud kamu Aina  akan kuliah?”

“Dapat dipastikan begitu, aku kenal baik Kak Aina. Motivasinya untuk terus belajar sangat nampak, sekarang ini dia terus belajar keras untuk bisa lulus nanti ke universitas”

“Kamu serius,  Holif?”

“Kalau kakak serius mau sama Kak Aina, maka kakak harus bisa memantaskan diri”

Holif terus saja bicara, mengabaikan pertanyaan kakaknya.

“Memantaskan diri? Istilah apa lagi ini?” tanya Alif kebingungan.

“Yah.. itulah kalau kakak malas membaca, hal seperti ini saja tidak paham. Maksudnya, kalau kakak suka sama Kak Aina, kakak harus pantas dulu untuk dia. Kakak harus berusaha sampai layak menjadi pendampingnya. Kalau Kak Aina belajar hingga ke universitas, kira-kira kakak yang seorang petani tak berpendidikan, hanya lulusan SMA, layak tidak untuk dia? Apa kakak punya nyali untuk melamarnya nanti?”

Itulah perbincangan terakhir yang sempurna membuat Alif galau. Terus berpikir soal memantaskan diri, sebuah istilah yang justeru baru didengarnya.

“Hoi! Kamu kenapa sih? Tumben banget tidak ikut main, malah duduk melamun tak jelas di sini” Fiki menghampiri Alif yang terlihat berbeda sore ini. Alif hanya melirik sekilas.

"Fiki, menurut kamu bagaimana kalau aku kuliah?"

Fiki malah tertawa keras mendengar pertanyaan sahabatnya sore ini.

"Kamu galau begini karena berpikir soal kuliah? Ada angin apa kamu tiba-tiba kepikiran kuliah?"

"Kamu ini, aku bertanya malah ditanya balik. Jawab sajalah.." Fiki terkekeh melihat Alif mendengus kesal.

"Alif, siapalah sahabatmu ini. Aku hanya pemuda kampung yang tak paham apa-apa soal perkuliahan. Tapi kalau kamu meminta pendapatku soal kuliah, bukannya itu keren? Menjadi berbeda dari kebanyakan itu hebat, Lif. Kalau pemuda di desa kita tak peduli soal pendidikan, lalu kamu memilih jalan itu, kamu hebat Alif. Kamu kan tahu, orang berpendidikan selalu dihargai di manapun, tak terkecuali di kampung kita. Kalau kamu kepikiran untuk mengambil langkah itu. aku dukung seribu persan deh.."

Begitulah sahabatnya Fiki, pandai sekali menyemangatinya. Fiki paham sekali dirinya, jika ia bertanya sesuatu tiba-tiba, tentu cukup baginya untuk paham bahwa sahabatnya lagi memikirkan hal tersebut. Fiki tahu banyak soal Alif.

Kedua sahabat itu lalu tertawa riang. Alif mendapat sedikit titik terang dari kegalauan panjangnya

###

bersambung...

Ikuti kelanjutannya di Part 5

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Kamis, 05 Mei 2016

Skenario Takdir


Part 3: Mengenal Rasa Itu

Alif belum tertarik melanjutkan bacaannya. Masih asyik berkeliaran dalam kenangan masa lalu yang sudah tertinggal jauh tapi masih terasa segar baginya. Hujan semakin deras, belum ada tanda akan segera berheti. Seakan memberi dukungan padanya untuk berlama-lama dalam nostalgia. Nostalgia yang berhasil mengalahkan perhatian dari buku karya novelis idola sekalipun.

###

“Holif, kamu mondok di pesantren tempat.. itu, siapa tuh tetangga kita” Alif pura-pura tak tahu nama yang ia maksud. Takut adik cerewetnya ini bertanya yang tidak-tidak.

“Kak Aina maksudnya?” Holif memastikan.

“Nah.. itu yang kakak maksud. Memangnya Pesantren kamu itu gimana sampai senior kamu betah sekali sekolah di sana?” Alif hanya berusaha memancing biar adiknya cerita sedikit tentang Aina.

“Hm.. aku kan masih baru, tapi lumayan menyenangkan kok tinggal di sana. Oiya, tau tidak, Kak Aina yang kakak maksud itu populer sekali di pondok. Banyak yang nge-fans sama dia dan selalu disebut-sebut sama ustadzah sebagai teladan. Santri berprestasi, itu gelarannya”

“Kamu dekat tidak sama dia?”

“Kalau dekat sih tidak juga, tapi dia baik sekali sama aku. hm.. diakan emang baik sama semua orang. Kenapa nih banyak tanya?” Holif mulai merasa aneh, tapi ia masih terlalu dini untuk bisa menebak maksud dari pertanyaan-pertanyaan kakaknya.

“Yah.. kan cuman nanya. Kamu liburnya berapa lama?”

“Hanya seminggu, sedikit amat yah. Udah deh.. kakak pergi sana, aku mau lanjutkan membaca!”

Alif menurut, sedikit cerita dari Holif sudah cukup baginya untuk tahu seperti apa ia di sana. Sudah lama sekali berlalu sejak dia membuatnya menangis. Dan dia sempurna berubah jadi anak ‘baik’ setelah kejadian itu. Dia tak pernah berani menyapanya, hanya menatap dari jauh. Yah.. dia senang sekali menatapnya dari jauh, apalagi saat Aina lewat di depan rumah.

Saat ini, Alif telah menjadi remaja yang mengenal tentang cinta. Tapi ia berbeda dengan remaja kebanyakan. Tak sekalipun ia pacaran, bukan karena tak ada cewek yang mau dengannya, tapi itu merupakan pilihan. Sebuah alasan memaksanya untuk memilih tidak pacaran.

Sejak mengenal perasaan cinta, dia sadar bahwa dia telah suka dengan seseorang. Perasaan yang sudah hadir jauh sebelum dia mengerti perasaan itu. Gadis kecil yang telah mengubah masa kecilnya yang jail, itulah cinta pertamanya. Gadis yang membuatnya sering senyum-senyum sendiri.

###

Besok Holif kembali ke pesantren, liburan semesternya sudah habis. Itu berarti Aina pun akan kembali ke pondok, dan selama itu Alif belum pernah melihat sosok pujaan hatinya. Sengaja dia sering-sering melintas di depan rumah Aina, tapi tak sekalipun melihat sosoknya.

“Kak, antar aku ke toko yah, ada yang lupa kubeli kemarin”

“Kenapa pake lupa-lupa segala sih? Kan repot harus ke kota lagi. Jauh.”

“Tidak sampai ke kota kok, Kak. Toko kecil yang ada di perbatasan itu cukup, cuman mau beli kertas-kertas berwarna.”

Alif tahu, permintaan adiknya tak akan bisa ditolaknya. Dengan malas dia mengambil kunci motor yang tergeletak di meja makan. Holif berlari girang mengambil tasnya dan berlari manyusul Alif yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka berangkat.

Tepat di depan rumah ke-empat setelah rumahnya sebuah suara yang tak asing memangil-manggil Holif.

“Stop dulu, Kak!” teriaknya pada Alif.

Motor mendadak berhenti. Alif bersiap mengomel, tapi seseorang keluar dari pagar rumah yang sangat dikenalnya, dia mematung sejenak. Aina melangkah anggun mendekati Holif. Tak sedikitpun melirik Alif yang terpana menatapnya.

“Holif, kakak bisa minta tolong, tidak?”

“Bisa sekali, Kak. Ada apa?”

“Besok kakak belum bisa balik ke pondok, masih ada urusan yang mendesak. Tolong berikan ini sama Kak Raida” Aina berucap pelan sambil menyodorkan plastik kecil pada Holif, entah apa isinya.

“Iya, Kak. Nanti kusampaikan titipannya” ucap Holif tersenyum. Dibalas dengan senyuman pula oleh Aina.

“Ayo jalan, Kak!” pintanya pada Alif seraya menepuk pundaknya. Yang diperintah segera menyalakan motor.

“Sekali lagi makasih, yah.” Aina kembali berterima kasih sebelum motor semakin menjauh, hanya dibalas lambaian oleh Holif.

Alif tak pernah melihat Aina sejak ia sekolah di pondok, hampir tiga tahun lamanya. Hari ini, dia kembali melihatnya. Banyak sekali yang berubah darinya. Perubahan yang membuat hati Alif semakin mantap. Entah kapan lagi, aku bisa melihatnya, gumam  Alif dalam hati.

bersambung...

Ikuti kelanjutannya di Part 4

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG dari ODOP

Skenario Takdir


Part 2: Sebuah Tekad

Alif dan Fiki tertawa puas tanpa perasaan bersalah setelah berhasil menakut-nakuti bocah berumur lima tahun dihadapannya. “Hanya ditakuti kuntilanak sudah menangis, dasar penakut!” Fiki mencibir seraya mengikuti Alif yang sudah kabur duluan meninggalkan korbannya.

Satu desa sudah tahu tentang dua bocah dengan hobi aneh ini, menjaili anak-anak yang lebih kecil dari mereka sampai menangis. Orangtua mereka pun sudah capek mendengar keluhan para ibu yang anaknya sudah sering menjadi bulan-bulanan Alif dan Fiki. Orangtua mereka sudah berkali-kali memperingatkan bahkan mengancam agar tidak lagi menjaili anak-anak di desa mereka. Berulangkali keduanya berjanji untuk tidak lagi mengulang perbuatannya, tapi selalu saja dilanggar. “mereka masih anak-anak, tolong dimaafkan,” alasan klasik yang menjadi pertahanan akhir ibu Alif dan Fiki.

“Alif, itukan si Aina” Fiki menunjuk bocah yang kali ini berjilbab pink sedang bermain ayunan dengan dua temannya. Ayunan sederhana yang digantung di dahan pohon.

Alif melihat ke arah telunjuk Fiki. Benar, bocah tetangganya sedang bermain di sana. Dia tertawa nyengir, bersemangat melihat bocah yang kemarin berani menentangnya.

“Ayo, Fiki! Buat dia menangis, kita buka saja kerudungnya, dia pasti akan menangis” Alif bersemangat. Tujuan mereka memang hanya ingin membuat anak-anak menangis, saat kemarin meminta Aina menyerahkan kuenya, itu hanya gertakan. Tujuan sebenarnya hanya untuk membuatnya menangis. Sayang tak berhasil, anak itu terlalu berani menghadapi mereka yang lebih besar.

“Mau apa kalian? Aku tak punya kue” Aina teringat kejadian kemarin.

“Kami di sini tidak untuk meminta kue, tapi untuk membuka kerudungmu” Alif dan Fiki tertawa nakal.

“Tidak! kata Ibu tidak boleh membuka jilbab kalau di luar rumah. Kenapa kalian mau membuka jilbabku?” Aina bertanya polos, tak paham kenapa dua anak ini ingin membuka jilbabnya.

“Ayo buka! Kalau tidak mau, akan kubuka dengan paksa”

“Tidak mau!” Aina memegang kerudungnya erat, kedua temannya sedikit menjauh, tak paham apa yang terjadi. Sementara Fiki dan Alif merasa di atas awan, yakin kalau tindakannya kali ini pasti berhasil membuat Aina menangis.

“Jangan-jangan kepalamu botak, makanya selalu berkerudung. Iya,kan?” Alif mengejek.

“Rambutku panjang dan lurus, tidak botak seperti yang kalian bilang” Aina terus menentang tanpa rasa takut.

Alif masih menakut-nakuti Aina, berusaha membuatnya menangis tanpa betul-betul  harus memaksanya  membuka jilbab. Mereka tak pernah menyakiti anak-anak, hanya mengganggu dan menaku-nakuti mereka sampai menangis. Tapi Aina sama sekali tak terlihat takut, tetap bertahan dan berusaha melarikan diri seperti kemarin.

Sayang, Fiki berhasil menarik lengannya. Aina berontak melepaskan diri. Bagaimana bisa? Ia dipegang dua bocah dengan fisiknya lebih besar dari Aina. Alif hanya berharap Aina segera menangis dan memohon dilepaskan. Dengan menangis semua perkara akan selesai, dua anak laki-laki ini hanya ingin membuatnya menangis. Seperti yang dilakukannya pada semua anak-anak di desa ini. Sayang, Aina terus bertahan dan berusaha melepaskan diri.

“Lepaskan! aku tak akan melepas jilbabku, seperti kata Ibu.”

Alif tak punya pilihan, rasanya harus membuka jilbab ini dengan paksa sebelum ada orang dewasa yang lewat dan menghentikan tindakannya. Mereka bisa gagal lagi membuat bocah keras kepala ini menangis.

“Fiki, tarik saja jilbabnya, sebelum ada yang lewat.” Alif memerintah, sementara kedua teman Aina hanya diam, berdiri takut-takut.

Hanya hitungan detik Fiki berhasil melepas jilbab Aina. Rambut panjang, lurus, dan hitam Aina tergerai. Mereka tertawa menang, akhirnya Aina kecil menagis, jongkok tersedu memeluk lutut.

”Kalian.. ja..hat!” umpatnya terbata-bata.

Lihatlah! Bocah kecil yang selalu terlihat riang dan membuat orang sekitarnya merasa senang dan nyaman dengan sikapnya. Kini binar matanya meredup, berganti tangis menyakitkan. Siapa pula yang tega membuatnya menangis? Sungguh, bocah ini sangat berbeda dari anak-anak kebanyakan. Ia tumbuh cerdas dengan budi pekerti yang mengagumkan. Terlahir di tengah keluarga yang sangat sederhana, tapi dihargai semua penduduk desa. Ia tumbuh dengan semua pemahaman-pemahaman baik seperti harapan orangtuanya. Ah.. tega sekali yang membuatnya menangis.

Entah mengapa, perasaan bersalah mengetuk hati terdalam Alif melihat bocah ini menangis. Perasaan yang baru  ia rasakan setelah tak terhitung berapa anak yang sudah dibuatnya menangis. Siapa pula yang akan tega meliat bocah ini menangis? Percayalah, dia punya ‘sesuatu’ berbeda yang akan membuatmu tak tega melihatnya menangis. Bahkan anak-anak seperti Alif dan Fiki pun merasakannya, meski mereka tak paham apa itu.

Pelan Alif menarik jilbab pink dari Fiki, mendekati Aina yang masih tersedu pilu, menyimpan jilbab itu di atas kepalanya lantas berlalu tanpa kata. Fiki mengekor di belakangnya. Tersisa Aina yang masih sesegukan, kedua teman bermainnya mendekat, membujuknya untuk diam.

Siang itu, melalui tangisan Aina sebuah pemahaman baik menjemput Alif dan Fiki. Pemahaman bahwa siapa pun itu, tak layak membuat orang lain menangis. Dari segi manapun, kelakuannya selama ini salah. 

“Kata Ibu laki-laki itu selalu melindungi perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu” terngiang perkataan Aina kemarin. “Baiklah, mulai hari ini aku tak akan mengganggu siapa pun lagi, apalagi membuat perempuan menangis.” Meski hanya dalam hati, tapi itu adalah sebuah ikrar sepenuh hati dari Alif.

###


Alif senyum-senyum sendiri mengenang kejadian belasan tahun lalu, matanya masih menatap sendu pekatnya malam dari bingkai jendela. Saat itu, ia masih seorang anak berusia delapan tahun yang belum mengerti tentang cinta. Dia baru sadar setelah beberapa tahun kemudian bahwa hari itu, Aina kecil telah berhasil mencuri sepotong hatinya.

Baca selanjutnya: Part 3

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan CERBUNG di ODOP 

Selasa, 03 Mei 2016

Skenario Takdir (1)

Part 1: Sebuah Awal

Seorang lelaki berumur 24 tahun tengah asyik dengan novel di tangannya. Duduk di balik jendela pada kursi kayu jati yang masih terlihat kuat. Sama sekali tak terganggu dengan derasnya hujan di luar.

Sudah lebih dari dua jam ia di sana, berkutat pada novel bersampul hijau dengan judul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” karya penulis favoritnya, Tere Liye.

Jika itu karya Tere Liye, ia tak akan berhenti membacanya hingga tuntas, hanya kumandang azan yang bisa menghentikan aktivitas itu. Makanya, novel yang sudah lima hari dibelinya baru ia baca, sengaja memilih waktu luang untuk melahapnya, tak ingin terganggu apapun.

Matanya beralih pada jendela yang sengaja dibiarkan terbuka, menatap pekatnya malam dengan tetesan hujan yang terbungkus gelap. Membaca setengah novel ini mengingatkannya sesuatu. Tentang persaannya, tentang seseorang di masa kecilnya. “Ah.. kisahku sedikit mirip denganmu, Tania” ia bergumam pelan. Bibirnya membentuk senyum kecut. Buku itu dibiarkan tetap terbuka, sementara pikirannya menerawang pada belasan tahun yang lalu. Hujan sempurna menjadi moment tepat untuk mengenang banyak hal. Tepat seperti Tania, tokoh dalam novel yang sedang ia baca.

###

Palopo, Sulawesi Selatan, di sebuah desa yang jauh dari kota..

Alif tersenyum jail menatap bocah enam tahun dengan jilbab biru, berjalan riang  membawa plastik hitam di tangannya. Tersisa lima meter sebelum bocah itu melintas di hadapan Alif dan Fiki, mereka berbisik merencanakan sesuatu lalu tertawa bersemangat.

“Hei, ada apa di kantonganmu?” teriak Alif pada si bocah. Yang ditanya bingung melirik kantongan di tangannya.

“Kenapa?” tantangnya tanpa rasa takut. Ia kenal Alif dan temannya Fiki, mereka sering mengganggu anak-anak seusianya. Tapi Aina, gadis berkerudung biru itu sama sekali tak takut dengan mereka. Ajaran Ibu tentang budi pekerti, kejujuran, keberanian, dan banyak hal lain yang disampaikan lewat cerita telah menghujam pada diri Aina kecil.

“Kubilang apa yang kamu bawa? Berikan padaku!” Alif memaksa.

“Tidak mau, ini untuk Ibuku” Aina bertahan tidak menyerahkan kantongannya.

“Ayo berikan! Kamu tidak takut sama Alif? Kalau kamu tidak mau memberikan kuemu, akan kubuka jilbabmu” Fiki ikut mengancam. Ia tahu kalau Aina selalu berkerudung, tentu ia tak mau jika jilbabnya dilepas. Tentu saja Fiki tahu kalau isi kantongan itu kue meski Aina tak bilang isi kantongannya apa. Aina membeli kue itu tepat di depan mata Fiki tadi.

 “Jangan! Ini punya ibuku, kenapa kalian mau mengambilnya? Kata Ibu laki-laki itu selalu menjaga perempuan , tidak seperti kamu yang selalu mengganggu perempuan. Pindah! Aku mau pulang.”

Aina buru-buru meninggalkan mereka. Menyisakan Alif dan Fiki yang masih heran. Baru kali ini ia mendapat perlawanan bahkan teguran dari bocah yang lebih muda darinya. Juga untuk pertama kali mereka tak berhasil membuat menangis mangsanya. Anak ini berbeda, ia sangat pemberani.

---------
Baca kisah selanjutnya: Part 2

Aqilah El-Hafizhah
#Tantangan Cerbung dari ODOP

Jumat, 29 April 2016

Ujian Tutup Dengan Berbagai Rasa

Jum'at, 29 April 2016

Kuawali hari ini dengan perasaan tegang dan nervous. Bagaimana tidak, hari ini merupakan tahap terakhir dari proses perkuliahanku, ujian skripsi. Semalam tidurku kurang dari dua jam, bukan karena sibuk belajar, aku justru sibuk membaca dan menyelesaikan satu tulisan sebagai kewajibanku selaku anggota ODOP.


Aku tidak memandang enteng ujian sehingga tidak belajar, sungguh tidak demikian! Aku hanya merasa telah belajar saat melakukan penelitian dan menyusun skripsi. Bukankah yang akan ditanyakan pastinya hanya seputar penelitian dan hasilnya? Saat membuat skripsi, itu adalah proses belajar yang panjang. Entah harus berapa kali membaca ulang apa yang telah ditulis untuk memastikan tak ada lagi yang salah. Melalui proses itu, insyaAllah sudah paham isi skripsi. Yang mau disiapkan selanjutnya adalah mental. Selebihnya cukup berdo’a dan serahkan hasilnya pada-Nya.

Perjalanan ke kampus bersama Mutma-teman seperjuanganku sejak semester awal, kami isi dengan menebak kira-kira pertanyaan apa yang akan muncul nanti. Sibuk membuat prediksi pertanyaan dan alternative jawabannya. Tapi itu sangat singkat. Tak terasa kami sudah memasuki gedung fakultas SASTRA.

Fakultas sudah nampak ramai seperti biasa. Yang paling mencolok adalah ‘kami’ yang akan ujian dengan seragam hitam-putih lengkap dengan jas berwarna hitam. Beberapa teman tengah asyik bercanda dan tertawa lepas. ‘seolah tak ada beban’ pikirku. Berbeda denganku dan Mutma, dari tadi kami merasa was-was, menkhawatirkan banyak hal. Dua-tiga orang terlihat sibuk membaca-baca kembali skripsi yang sudah di print.  Aku bergabung dengan Aya dan Wati, juga beberapa teman yang lain. Sambil menunggu ujian mulai, ada baiknya membaca kembali skripsiku.

Setelah para penguji sudah hadir dan memasuki ruangan, ujian pun dimulai. Sambil mununggu giliran, tetap kusempatkan membaca kembali kopian skripsiku. Perasaanku semakin tak menentu. Aku mulai deg-degan karena nervous. Kuhentikan bacaanku karena terasa mulai tak focus lagi. Lebih baik jika memperbanyak dzikir saat seperti ini, mengikuti nasehat Mama yang tak hentinya mengingatkanku memperbanyak dzikir, memperkuat do’a, dan harus selalu yakin.

Tiba giliranku. Perasaan yang tadinya penuh kekhawatiran dan sangat tegang tiba-tiba berubah saat dosen penguji memberikan komentar positif. Perasaanku menjadi tenang dan mulai menguasai medan. Semua berjalan lancar hingga selesai.

Ada perasaan lega tak terkira saat semuanya berakhir. Beban berat berton-ton yang selama ini menggangguku seolah baru saja dilepas. Teman-temanku asyik berpoto ria mengabadikan moment hari ini. Aku menolak bergabung, memilih menyepi bersama teman-teman terdekatku (Mutma. Aya’, dan Wati).

Entah mengapa ada perasaan lain yang menyusup di antara rasa bahagia dan kelegaanku hari ini. Cepat sekali perasaan baru ini mengubah suasana hatiku. Aku melangkah pelan dengan ekspresi yang aku pun tak tahu bagaimana. Aneh sekali rasanya, tak tahu kenapa aku merasa aneh dengan diriku. Aku merasa aneh dengan beban yang beberapa jam lalu sangat membuatku resah tiba-tiba menghilang.

Bukan hanya aku yang merasa demikian, Mutma juga merasakan hal yang sama. Itulah sebabnya dari tadi kami berjalan berdampingan tanpa sepatah kata. Tak seperti biasanya. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan teriknya matahari siang ini tak terasa menyengat sehingga kami berjalan santai sekali di bawah terik mentari yang biasanya selalu membuat kami melangkan terburu-buru. Kami baru sadar panasnya matahari sesaat sebelum sampai di kos/asrama.

Aku merasa sedih saat sadar bahwa tak lama lagi akan meniggalkan masa-masa perkuliahan, teman-teman, dan segala hal yang telah akrab denganku selama tiga tahun setengah ini. Setiap moment yang telah terlewati tiba-tiba menjadi sangat berharga, meski dulu itu terihat sederhana. Ah.. aku akan rindu semua ini. Rasanya mulai berat jika harus meninggalkan kampus. Padahal dulu, ini adalah moment yang sangat kami nantikan. Tiga tahun lebih terasa sangat singkat hai ini.

Bukan hanya rasa sedih yang menyusup, aku mulai merasa menyesal untuk beberapa hal. Aku menyesal karena banyak waktu yang kulewati tanpa belajar. Mengapa dulu aku tak lebih giat lagi belajar? Ah, penyesalan memang selalu hadir belakangan, saat kesempatan itu telah berganti dengan kesempatan lainnya.

Tapi, aku sangat bersyukur atas semua ini. Aku bersyukur telah melewati proses yang tidak mudah. Bersyukur untuk semua kesulitan, tantangan, dan rasa lelah yang dengan itu semua aku bisa mengenang banyak hal. Menyisakan cerita yang mungkin bisa menginspirasi orang lain. Jika proses yang kulewati selalu mudah dan lancar, pelajaran apa yang bisa kuambil? Dan tentu kenangannya tidak akan begitu membekas. Berbeda jika kita melewati berbagai tantangan dan lika-liku yang lumayan rumit untuk bisa meraih ‘sesuatu’, itu akan jauh lebih membekas.

Inilah sekelumit perasaan yang hadir di saat tantangan terakhir berhasil kutaklukkan. Berbagai rasa yang datang di waktu yang sama. Membuat segalanya terasa aneh. Biarlah tulisan malam ini mengabadiakn perasaan nano-nanoku hari ini.

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost


Siapakah sosok GURU itu?

 Jika anda ditanya dan diminta mendeskripsikan sosok seperti apa seorang guru itu, apa yang akan anda katakan?
Aku yakin, tak seorangpun yang akan memberi komentar dan penggambaran negative tentang guru.  Karena secara umum, yang kita tahu bahwa guru itu adalah seorang patriot, pahlawan bangsa. Sosok yang patut digugu dan ditiru, yang membagikan ilmunya untuk menerangi kehidupan para pencinta ilmu. Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dan masih banyak lagi pujian, apresiasi, dan label yang baik untuk menggambarkan seorang guru.

Yah, seperti inilah posisi dan penggambaran seorang guru seharusnya. Meski pada kenyataannya, saat seorang anak atau peserta didik ditanya tentang guru-guru di sekolahnya, jawaban mereka kebanyakan berbeda dari penggambaran umum yang mereka ketahui. Semua kembali seperti apa guru itu bersikap. Apakah ia benar-benar bertindak layaknya seorang ‘guru’, ataukah ia bersikap sesuka hatinya tanpa memperdulikan hal-hal yang seharusnya dilakukan.

Terlepas dari semua itu, kembali pada deskripsi seorang guru. Yang kutahu tentang guru sangat standar, bahwa guru adalah dia yang mengajar di kelas. Itu saja. Tapi jika diminta memberikan deskripsi tentang guru tentu akan kujawab lebih panjang, dengan memberi tambahan-tambahan pujian dan sebagainya. Sesederhana itulah sosok guru dari sudut pandangku.

Suatu waktu, saat itu aku sudah lulus Aliyah (sederajat SMA), melewati masa pengabdian di pondok pesantren. Sebagia pembina, kami diikutkan dalam sebuah training untuk para guru; ‘Quantum Teaching Training’ selama tiga hari. Di sinilah kutemukan deskripsi luar biasa tentang sosok guru. Saat sang trainer menggambarkan sosok guru, aku terhanyut sampai meneteskan air mata karena terharu. Betapa luar biasanya sosok guru itu.

Kata beliau, “Guru itu adalah Dia yang bersungguh-sungguh mengantarkan anak didiknya ke gerbang kesuksesan. Segala upaya akan ia lakukan untuk memberikan yang terbaik pada siswanya, semua dilakukan agar anaknya mampu meraih sukses. Jika diibaratkan kesuksesan itu adalah buah apel pada pohon yang berada di seberang sungai, maka seorang guru akan berusaha menjadi jembatan bagi siswanya. Jika tak bisa, dia akan berusaha mengarahkan pada si anak agar bisa menyeberangi sungai dan sampai pada pohon apel. “Di sanalah sukses itu,Nak! Kesanalah, lewati jembatan ini dan ambillah apel itu!”  segala upaya ia lakukan.

“Jika si anak berhasil sampai di bawah pohon dan tangannya tak sampai untuk memetik buah apel, maka sang guru akan menyodorkan kursi, “Naikilah kursi ini, Nak! Dan petiklah apel itu! Kau harus bisa.”  Saat sang anak masih tak mampu memetik buah apel itu lantaran tingginya. Maka sang guru akan menyodorkan dirinya seraya berkata, “Nak, injak kepala Ibu! Injak kepala Ibu, naiklah.. kamu harus memetik buah apel itu.”

Kurang lebih seperti itulah yang disampaikan. Sulit menuliskannya secara persis. Sang trainer membawakannya penuh penghayatan dengan intonasi suara yang disesuaikan, juga ekspresi yang mampu menyihir kami. Matanya berkaca-kaca saat menyampaikan bagian terakhirnya. Mataku ikut berkaca-kaca, begitu juga peserta lainnya.

Hari itu, kutemukan makna baru seorang guru. Aku jadi paham seperti apa guru yang sebenarnya, dan bagaimana sikap mereka seharusnya.  Begitu hebat dan luar biasanya mereka. Meski pada faktanya sangat sulit menemukan sosok yang seperti ini. Inilah tujuan training ini, bagaimana menciptakan guru-guru luar biasa, guru yang diidolakan, dicintai, dan dirindukan oleh murid-muridnya.

Inilah deskripsi seorang guru yang selalu kuingat. Menjadi motivasi untukku bisa menjadi guru seperti itu. Sungguh, kesuksesan peserta didik itu tak lepas dari peran para guru.

Aqilah El-Hafizhah

#OneDayOnePost

Kamis, 28 April 2016

Kata-Kata Penyemangat

Malam ini, selepas shalat isya mataku tertuju pada dinding kamar yang ramai dengan tempelan kertas warna-warni berbentuk lingkaran. Kertas berisi kata-kata singkat sebagai penyemangat. Entah sejak kapan kertas-kertas ini menghiasi tembok kamarku. Sudah cukup lama, warnanya pun sudah mulai memudar. Telah menjadi salah satu kebiasaanku membuat kata-kata penyemangat lalu menempelkannya di tempat-tempat yang mudah terlihat. Tujuannya jelas, untuk menjaga semangat dan mengingatkanku pada hal-hal yang sering kali terbaikan.

Tembok Kamarku
Kata-kata ini mungkin tak seindah milik para sastrawan sebangsa Khalil Gibran yang mampu memoles kata hingga indah dibaca dan memukau para pembacanya. Juga tidak sehebat kata-kata para motivator hebat selevel Mario Teguh yang mampu menyihir orang banyak dengan motivasi-motivasi hebatnya. Pun tak sebijak nasehat-nasehat Tere Liye dalam setiap novelnya yang selalu berhasil membuatku mengangguk setuju dan kagum padanya. Apalagi jika ingin disandingkan dengan kumpulan perkataan Maha Dahsyat yang mampu membuat air mata bercucuran saat membacanya, bahkan bisa menjadikan gunung bergetar karena takut.

Sungguh, kata-kata ini terlalu sederhana jika dibandingkan dengan perkataan orang-orang hebat ini. Kata-kata yang kutulis apa adanya dengan susunan kata yang tak sesuai tata bahasa, benar-benar sesuka hatiku. Tujuannya jelas, agar kapanpun aku merasa jatuh, lemah, dan ingin menyerah, mereka mampu memberi ‘sedikit’ kekuatan. Yah… sedikit kekuatan! Aku sadar bahwa ada kondisi ketika kalimat motivasi sehebat apapun tak mampu menjadi secercah cahaya. Itulah saat satu-satunya solusi adalah kembali kepada-Nya.

Namun, sesederhana apapun kata-kata ini, mereka sangat berarti untukku. Berapa lama berhasil menemaniku melewati banyak hal. Terutama saat tugas kuliah hampir membuatku menyerah, mereka mampu membuatku kembali tersenyum dan berprasangka baik pada-Nya. Perlahan membangkitkan semangatku yang sedikit memudar.

Huh.. tak lama lagi aku akan meninggalkan kamar ini. Setelah kuliahku selesai, tentu tak lagi di sini. inilah yang membuatku lama menatap tempelan-tempelan ini. Ada perasaan yang tak mampu kugambarkan saat menatapnya lamat-lamat. Apakah kertas ini akan memberi efek yang sama kepada penghuni barunya kelak atau tidak, inilah yang kupikirkan. Entahlah! Tapi aku berharap, kertas-kertas ini kelak bisa memberi pengaruh pada mereka yang akan menempati kamar ini. Agar ia menjadi kertas yang menebar manfaat, J


Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost