Jumat, 04 Maret 2016

Hadiah Kecil Dari ODOP



Waktu berjalan begitu singkat, hari ini adalah hari kelima dari program ODOP. Artinya, pekan pertama dari program ini telah berhasil terlewati. Yang luar biasa adalah, ini berarti setidaknya aku sudah menulis secara rutin selama lima hari dengan konsisten. Wow! Lima hari sama dengan lima tulisan. Meski entah bagaimana kualitas tulisan yang berhasil kuhasilkan. Saat ini, aku lebih fokus pada kontinuitasku dalam menulis.

Lima hari berturut-turut aku menulis, meski dua hari dari lima hari ini aku sempat nge-post tulisan tengah malam,tepatnya lewat dari pukul 24.00 WIB. Telat 2-3 jam dari waktu seharusnya. Itu karena aku selalu tertidur akibat kelelahan seharian. Tapi, bagaimanapun itu, aku tetap berusaha untuk bisa mengejar keterlambatanku. Lagian, ukuran dimulainya hari buatku adalah setelah subuh, maka kuanggap tengah malam itu masih bagian dari sepanjang hari itu. Ini hanya versiku J

Bagiku, ini adalah rekor pertama bisa menulis secara konsisten selama lima hari berturut-turut, maka kusebut pencapaian rekor ini sebagai hadiah kecil dari ODOP. Hadiah kecil? Yah, ini hanya hadiah kecil dari ODOP atas keseriusanku melewati pekan pertama. Bisa dibayangkan, jika aku bisa bertahan sebulan, dua bulan, atau sampai program berakhir. Hadiah apa yang akan kuterima? Entah ada berapa tulisan yang bisa kuhasilkan. Ini hanya gambaran jika aku mampu konsisten tetap berjalan bersama odopers lainnya hingga akhir program. Dan kuharap, aku sungguh bisa sampai di titik akhir perjalanan ini. Karena itulah alasan utama aku memutuskan bergabung.

Hadiah kecil ini adalah prestasiku dalam menulis. Bukan hal mudah bagiku bisa menulis tiap harinya. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal biasa, dan aku terlalu berlebihan menganggapnya sebuah prestasi ataupun hadiah. Tapi tidak denganku, pribadi yang hanya menulis dalam angan dan terlalu malas menuangkannya dalam tulisan. Maka jangankan sebulan, dalam setahun pun aku tak tahu berapa tulisan yang berhasil kubuat. Tapi hari ini, aku bisa melihat jejakku selama lima hari di blog ini. Aku bahagia.

Terima kasih, Bang Syaiha. Sosok yang telah menjadi the pioneer bagi program ini. Memberikan celah untuk kami berlatih dan belajar menulis. Semoga balasan terbaik senantiasa tercurahkan. Terima kasih juga my beloved sister ‘Aira’ yang telah menjadi jembatan untukku mengenal ODOP. Tentunya, terima kasih buat teman-teman ODOPERS yang senantiasa saling mendukung dan menyemangati, meski diri ini sangat jarang ikut nimbrung di tengah-tengah obrolan kalian yang tak terkejar. Cukup menjadi latihan kesabaran buatku melihat chat yang selalu menumpuk untuk dibaca J

Salam semangat, semoga bisa bersama hingga di penghujung program.


Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
Hari ke-5

Apakah Kemampuan Menulisku Meningkat?

Ada cara sederhana untuk mengetahui apakah kemampuan menulis kita meningkat atau tidak. Caranya, dengan membaca kembali tulisan kita terdahulu. 

Misal, kita mau tau apakah kemampuan menulis kita meningkat selama sebulan ini atau tak ada peningkatan, begitu-begitu saja. 

Coba buka kembali arsip tulisan kita dan baca salah satu tulisan yang kita tulis bulan lalu. Apakah kemampuan kita meningkat atau tidak? Bagaimama cara mengetahuinya? Caranya mudah, kalau kita membaca tulisan yang ditulis bulan lalu dengan perasaan sama saat menulisnya dulu, merasa tulisan itu tetap hebat dan sudah bagus, ini indikasi kalau tak ada peningkatan dari kemampuan menulis kita. Kemampuan kita sama saja dengan sebulan lalu.

Sebaliknya, jika kita membaca tulisan lama kita dengan perasaan berbeda saat menulisnya, ini indikasi adanya peningkatan dari kemampuan menulis kita. Misal, saat membacanya tiba-tiba kita merasa malu dengan tulisan itu karena menyadari beberapa kesalahan, atau merubah beberapa dalam tulisan itu karena merasa ada yang kurang. Atau mungkin kita merasa tulisan itu jelek, atau alasan lainnya. Ini bisa menjadi indikasi adanya peningkatan dari kemapuan menulis kita.

Mungkin, kurang keliatan peningkatannya kalau selama sebulan. Ini terlalu singkat. Coba baca tulisan setahun yang lalu, mungkin akan lebih terasa perbedaannya.

Lalu, seberapa valid cara ini? Entahlah, ini hanya cara sederhana yang bisa kita coba. Aku sendiri tidak tahu seberapa valid cara ini. Aku hanya mencoba menyampaikan apa yang pernah kupelajari dari beberapa kelas yang pernah kuikuti. 


So, kembali pada pembaca, mau setuju atau tidak, terserah.. :)

Rabu, 02 Maret 2016

Menemukam 'Ide'


Ide. Hal pertama yang harus dimiliki seorang penulis untuk memulai tulisannya adalah 'menemukan ide". Seringkali kita terbentur pada persoalan ini, berhenti menulis karena kehabisan ide. Hal ini juga sering kualami, utamanya saat ini :). Saat aku harus menyetor tulisan sebagai kewajibanku selaku peserta ODOP.

Aku teringat salah 1 tulisan mbak Maya yang sempat kubaca, sebuah solusi saat kita merasa tak punya ide. Solusi ini juga sering disarankan oleh teman-teman di organisasi, bahwa tak punya ide pun merupakan sebuah ide. Maksudnya apa? Saat kita merasa tak punya ide dan kita diharuskan menulis, maka tulis saja kondisi saat itu. Berceritalah bahwa saat ini kita tak punya sesuatu untuk dituliskan, maka tentunya, tulisan itu akan mengalir dengan sendirinya. Akhirnya, itu akan menghasilkan sebuah tulisan.

Ini tentu sebuah solusi, tapi.. coba pikirkan. Akankah kita terus seperti ini saat mentok tak punya ide? Jika demikian, maka setiap kali kita tak punya ide, maka kita akan menghasilkan tulisan yang temanya sama, tak punya ide. Semakin sering tak punya ide, maka akan semakin banyak tulisan bertema sama, bukan begitu? Ini masalah menurutku. Jika sekali dua kali mungkin boleh saja, tapi jangan keseringan.

Maka dibutuhkan solusi baru untuk permasalahan ini. Dari beberapa kelas menulis yang pernah kuikuti, pemateri seringkali bilang kepada peserta, 'kenapa pusing dengan ide? Ide itu ada di mana-mana. Cobalah lihat sekeliling kita, maka itu adalah hamparan ide sebenarnya. Tuliskan saja apa yang kita lihat dan hubungkan dengan apa yang kita rasakan'. 

Betul sekali, segala yang ada di sekitar kita adalah kumpulan ide. Apa yang kita lihat, dengar, baca, rasakan, dan alami, semua ini akan menghasilkan ide yang tak terbatas. Tapi, butuh berlatih untuk terbiasa membuka pikiran kita dari semua ide yang sudah terbentang di hadapan kita. Tanpa latihan, semua akan sama saja.

Sering-seringlah melatih pikiran kita untuk segera menemukan ide saat melihat sesuatu. Dari apa yang kita lihat, bertanyalah "tulisan apa yang bisa kubuat?"misal, kita melihat seorang bocah sedang menangis, bertanyalah pada diri sendiri "tulisan apa yang bisa kuhasilkan dari bocah yang menangis didepanku? 

Mulailah menulis, tuliskan apa yang kita lihat, lalu hubungkan dengan apa saja sampai bisa menjadi sebuah tulisan. Hubungkan dengan yang kita pikirkan, atau pengalaman yang pernah kita alami, atau ilmu yang kita punya dan itu berhubungan, atau tuliskan saja dugaan-dugaan kita, atau komentar kita, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Ramulah mereka dalam kata-kata. 

Demikianlah sedikit saran untuk menemukan ide. Saran yang sebenarnya ditujukan secara khusus untuk penulis, yah.. untuk diriku sendiri yang selalu merasa sulit dengan ide. Teori itu selalu lebih mudah dati prakteknya, bukan begitu?

Aqilah El-Hafizhah
#OneDayOnePost
#Hari ke-3

Selasa, 01 Maret 2016

Merajut Harapan Bersama ODOP (2)

Part 2: Kutemukan Jalannya

Membawa kekecewaan sepulang workshop kepenulisan bukan berarti membuatku berhenti dan berputus asa untuk menulis. Aku tetap menulis seperti biasa, beberapa cerpen yang selalu kutulis di buku tulis khusus. Saat itu belum ada laptop. Meski tetap menganggap menulis, menulis, dan menulis itu bukan sebuah tips, entah mengapa, itu terus saja terngiang tanpa kurencanakan.

Saat mulai bosan menulis cerpen, kuputuskan untuk mencoba menulis novel. Bukan bosan karna sudah banyak menghasilkan cerpen, hanya ada beberapa cerpen yang sempat kutulis dan aku sudah bosan, aneh kan? Maka kumulai menulis novel sedikit demi sedikit, sangat perlahan. Jujur, aku nulis hanya saat semangat saja. Tak terasa buku tulis yang kugunakan untuk novel sampai pada halaman terakhir, maka kulanjutkan ke buku kedua. Sementara menulis di buku baru, buku pertama dibaca teman-temanku secara bergilir. Buku pertama itu terus berpindah dari tangan ke tangan hingga tak keliatan lagi rimbanya. Buku itu hilang dan tak ada yang bertanggung jawab atas kehilangannya, hilang saat jalan ceritanya masih jauh dari kata finish. Kurelakan saja, dan berhenti melanjutkan buku keduanya, buat apa?

Dan itu adalah saat terakhir aku menulis. Aku berhenti menulis, benar-benar vakum dari dunia tulis-menulis. Lima tahun,inilah waktu yang kulewati tanpa tulisan, tapi hobi bacaku tak pernah berhenti. Aku tak lagi berpikir banyak tentang ‘Menjadi penulis’.

Perkuliahan, dunia baru yang mempertemukanku dengan sosok-sosok baru. Salah satunya, seorang teman yang kembali membawaku ke dunia ‘menulis’. Bersamanya aku mulai menulis, bahkan mengajakku bergabung dengan salah satu organisasi kepenulisan. Harapannya, aku bisa konsisten untuk menulis, nyatanya? Sama saja, aku masih selalu malas menulis, ini penyakit. Aku menulis hanya saat ada tugas menulis dari organisasi. Hanya itu.

Subuh sekali, saat adikku yang juga senang menulis memperkenalkan ODOP kepadaku. Awalnya aku cuek tak peduli, karena aku sudah bergabung di sebuah organisasi kepenulisan dan juga sebuah grup menulis online. Tapi aku terusik juga melihat adikku yang begitu antusias. Kumintalah dia menjelaskan lebih detail tentang ODOP, tapi dia hanya mengirimiku sebuah link, blognya Bang Syaiha. Kubaca dengan teliti sambil berpikir, mempertimbanhkan.

Akhirnya, pagi itu kuputuskan untuk bergabung. Apa yang membuatku yakin dengan program ini? Pertama, aku sadar bahwa jika serius ingin meningkatkan kemampuan menulisku, caranya Menulis, menulis, dan menulis tiada henti. Membiasakan diri untuk menulis apa saja yang terlintas di pikiran. Dan ini tentu tidak mudah, hanya orang-orang konsisten yang bisa melewatinya. Ini adalah tantangan!

Kedua, aku yang malas menulis, ini adalah penyakit, kekurangan yang harus ditutupi. Dan cara menutupinya adalah, dengan mengikuti program yang ketat dengan aturan. Aku mungkin malas, tapi aku tipe orang yang peduli peraturan (mulai ge-er). Aku berpengalaman mengikuti kelas-kelas online dengan peraturan super ketat, dan berhasil menjadi bagian yang lulus sampai akhir, meski harus melewatinya dengan terseok-seok, wuiiih…. Pede bingits. Belajar dari pengalaman, maka rasanya aku telah menemukan jalan untuk bisa konsisten menulis, ikut program ODOP.

Maka bagiku, ODOP adalah tempatku merajut kembali harapan untuk menjadi seorang penulis. aku berharap ODOP bisa menjadi jalan untukku konsisten menulis. Tentu ada banyak tantangan kedepannya, dan aku tak tahu sampai kapan aku  bisa bertahan. Tapi besar harapku, bisa menuntaskan program ini sampai akhir untuk menciptakan karakter baru dalam diriku, mampu konsisten menulis.

Bismillah… semoga kita semua bisa bertahan hingga akhir, melewati semua tantangan hingga mencapai tujuan yang kita harapkan. Nun, demi pena.

Aqilah El-Hafizhah

ODOP hari ke-2

Merajut Harapan Bersama ODOP (1)


Part 1: Sebuah Awal

Berawal dari hobi baca, akhirnya bermimpi menjadi seorang penulis. Alasannya sederhana, kepingin jadi orang yang bisa menebar banyak manfaat. Dan kupikir, menulis adalah salah satu cara efektif untuk mewujudkannya. Aku mendapat banyak manfaat lewat bacaan, maka aku berharap kelak juga bisa menjadi orang yang menyebar manfaat  seperti mereka, para penulis.

Keinginan menjadi seorang penulis membuat aku mulai menulis. Saat itu aku masih seorang siswi SMP dan bacaanku masih berkisar fiksi, maka yang kutulis pun sama, fiksi (baca:cerpen). Suatu ketika, sekolahku mengundang Mbak Asma Nadia dalam workshop kepenulisan bersama dua penulis lainnya. Dengan semangat menggelora aku ikut dalam workshop tersebut. Aku mengikuti seminar dengan antusias, yang ada dipikiranku, “setelah ikut seminarnya mbak Asma, aku pasti bisa menjadi penulis seperti beliau”, itu pemikiran yang sangat kekanakan tentu, maklum, masih kelas 1 SMP, masih polos, hehe. Karena aku belum paham bahwa menulis itu proses panjang dan ada banyak hal yang harus dilalui untuk menjadi seorang penulis. Aku belum paham kalau setiap penulis punya cerita suka dan duka sampai bisa menghasilkan sebuah buku . Saat itu, masih terlalu dini buatku memikirkan perjuangan, pengorbanan, dan hal lain yang menghiasi perjalanan para penulis. Aku baru mulai sedikit paham dan mulai berpikir ‘menjadi penulis itu tidak semudah yang kupikirkan’ saat mbak Asma dan mas Gegge menceritakan pengalaman mereka.

“Menulis itu bukan bakat, tapi kebiasaan” demikian yang dikatakan mbak Asma. Kalimat yang melahirkan semangat dan harapan pada diriku, bahwa aku yang tak punya bakat pun bisa menjadi penulis. Tibalah saat yang kutunggu-tunggu, tips menjadi penulis dari Mbak Asma. Aku bersiap mencatat, katanya hanya ada tiga tips jitu menjadi penulis, kalau kita konsisten mengaplikasikannya maka kita akan menjadi penulis. Pertama, menulis. Beliau memberikan uraian panjang tentang tips pertama, aku menyimak denga takzim. Kedua, menulis. Jemariku yang siap menuliskan tips kedua tertahan, aku bingung, “apa aku tidak salah dengar? Kenapa yang pertama sama dengan yang kedua? Atau mbak Asmanya yang salah sebut?” aku masih melongo sampai mbak Asma memberikan penjelasan bahwa setelah menulis, menulis lagi. Dan tips ketiga pun sama, menulis. Intinya, menulis! Menulis! Menulis! Hanya ini cara untuk menjadi penulis.

Jujur, aku yang masih polos seketika kecewa dengan tipsnya. Aku berharap ada hal hebat yang akan disampaikan yang akan menyihirku menjadi seorang penulis seperti beliau. Aku tak butuh tips ‘konyol’ itu. Aku sudah tahu, untuk menjadi penulis tentu harus menulis, tapi mana tipsnya? Aku sama sekali tidak menganggap itu sebagai tips. Aku pulang dengan membawa kekecewaan.

Hari itu, aku benar-benar belum paham bahwa ‘Menulis, menulis, menulis’ adalah tips paling mujarab untuk menjadi seorang penulis, karena sejatinya, menulis itu pembiasaan. Semakin kita sering menulis maka kemampuan kita semakin meningkat tanpa kita sadari. Ada begitu banyak teori-teori  untuk menjadi penulis hebat. Berbagai tips-tips mujarab diberikan oleh ahlinya, tapi apalah arti teori dan tips-tips tanpa praktek? Proses  panjanglah yang akhirnya membuatku paham makna tips dari ‘Menulis,menulis, dan menulis. Kini, aku hanya tersenyum mengenang diriku berapa tahun lalu. Konyol.

Aqilah El-Hafizhah

Jumat, 26 Februari 2016

Hujan Yang 'Berbeda'


Hujan.
Selalu menyenangkan menatap hujan, ada sensasi menyegarkan yang kurasakan tiap kali menatapnya. Itulah mengapa, aku mencintai hujan.

Aku selalu menikmati hujan, menatap tetesannya, dan merasakan sensasi yang menyegarkan. Kadang aku tak bisa menatapnya karena tembok yang menghalangi, tapi aku tetap bisa mendengar suara khasnya, rintik yang menerpa atap rumah. Dan tahukah kamu? sensasi hujan selalu ada meski aku tak menatapnya, bahkan saat tidurpun, aku seperti merasakan kesegarannya. Begitu gemarnya aku dengan hujan.

Pagi ini...
Aku kembali menatap hujan, tapi dengan perasaan sedikit berbeda. Ada banyak urusan yang harus kuselesaikan, tapi aku terjebak hujan di tempat photocopy. Maka,  aku hanya bisa menatap hujan dengan nelangsa. Hujannya semakin deras, angin pun ikut menjadi penyempurna hujan pagi ini. Pakaianku basah di beberapa bagian, karna hujan teramat deras dan tempat photocopy yang tidak mendukung.

Pagi tadi cerah, kupikir tidak akan hujan hari ini, itulah mengapa aku keluar tanpa persiapan menghadapi hujan. Hujan memang selalu di luar prediksi manusia, karna manusia bukanlah penguasa hujan, termasuk aku.  Sang penikmat hujan.

Aku menatap layar handphone, 11.15! aku sudah terlambat. Hampir sejam menikmati hujan dengan nelangsa di tempat fotocopy, ditambah perjalanan kurang lebih sejam yang harus kutempuh untuk samapai di tempat tujuan. Sempurna! aku telat.

Aku tak tahu akan seperti apa selanjutnya, karena pagi ini.. dua urusan penting gagal kuselesaikan. Hanya berharap akan kemurahan Sang Penguasa atas semua urusanku.

However, aku selalu menyukai hujan, meski kadang pula aku menyalahkannya atas tertundanya kegiatanku. Paling tidak.. pagi ini, hujan membuatku menulis, hehe..



Aqilah El-Hafizhah
Di tengah derasnya hujan

Selasa, 23 Februari 2016

Thanks to Sekolah TOEFL, my friends, and Mr.Budi Waluyo..


Dalam sebuah tulisannya, beliau menulis agar berhenti berpikir bahwa pertemuan kita dengan seseorang adalah sebuah kebetulan, tapi berpikirlah bahwa Allah ingin menyampaikan sesuatu kepada kita melalui pertemuan itu. Carilah hikmah atau pesan yang sesungguhnya Allah ingin sampaikan melalui orang-orang yang kita temui.

Saya sangat percaya bahwa segala yang terjadi dalam hidup ini tak ada yang kebetulan, tapi bagian dari scenario Allah untuk menyampaikan sesuatu, termasuk untuk sebuah pertemuan. Dan tugas kita adalah, bagaimana menemukan hikmah/pelajaran dari setiap pertemuan.

Pertemuan saya dangan sekolah TOEFL, Sir Budi, juga teman-teman di Sekolah TOEFL adalah anugerah yang sangat saya syukuri. Seperti yang dikatakan kak Budi, ada yang ingin disampaikan Allah lewat sebuah pertemuan, dan kutemukan hikmah yang luar dari pertemuanku dengan beliau, dan teman-teman lainnya di Sekolah TOEFL.

Saya menemukan banyak hal yang sebenarnya sudah sering kutemukan sebelumnya lewat buku-buku yang saya baca, atau film dan video yang saya tonton, tapi entah mengapa.. ada sensasi berbeda yang kurasakan. Tulisan-tulisan sederhana dari Mr.Budi memberikan dorongan semangat yang lebih, mungkin karena belau adalah guru bagi kami.

Akhir tahun, 31 Desember yang lalu, beliau membagikan sebuah video singkat, sederhana, dan dibuat apa adanya tanpa sedikitpun rekayasa.

Dalam video itu, beliau kembali mengingatkan kami tentang kerja keras dan keseriusan. Video yang membuat saya merenung banyak, utamanya pada kalimat yang terus terngiang..

“Sadar dengan kemampuan saya, saya kejar. Kalau orang belajarnya dua jam sehari, saya harus lima sampai sepuluh jam. Malam itu harus jadi siang, dan memang serius. Saya tidak tahu apa yang membuat saya ingin merekam video ini, saya hanya ingin mengatakan, ‘Terima Kasih’.”

Mungkin terdengar biasa, sesuatu yang sudah sering kita dengar atau baca dari berbagai sumber. Yah, tak terhitung berapa kali saya menemukan kalimat yan sama, minimal sama maknanya, baik itu dari buku-buku motivasi yang sering saya baca, maupun video dan audio yang saya dengar. Hanya saja, kali ini terasa berbeda. Aku merasakan hal yang lain dari biasanya. Mungkin terdengar lebay, but it’s the fact. Mengapa?

KETULUSAN.

Ini yang saya rasakan dari video yang dibagikan kak Budi. Sebuah pesan yang disampaikan secara khusus kepada para siswa Sekolah TOEFL, dan itu tulus. Beliau bicara apa adanya dalam video itu, mengharapkan kebaikan untuk kami, orang yang tak pernah beliau kenal secara langsung, kami orang asing bagi beliau, tapi beliau tulus untuk semua yang ia lakukan untuk kami. Itulah mengapa pesan ini terasa berbeda dari yang lain dan menjadi pemicu buat saya pribadi.

Ungkapan terakhir beliau dari video itu, ‘Saya tidak tahu apa yang membuat saya ingin merekam video ini, saya hanya ingin mengatakan, ‘Terima Kasih’. Sekarang saya tahu, mengapa kak Budi harus merekam video ini. Sekali lagi,tak ada yang kebetulan. Mungkin setiap orang punya tanggapan yang berbeda, ini hanya apa yang kurasakan setelah melihat videonya.

Terima kasih banyak Sekolah TOEFL, sudah menjadi wadah untuk kami belajar banyak hal.

Terima kasih yang tak terhingga kepada Mr.Budi, mentor kami, guru kami, motivator kami, terkhusus buat videonya yang sangat berkesan. Datang tepat saat saya membutuhkannya. Saya akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan yang lebih baik.

Terima kasih kepada teman-teman semua, terkhusus kepada kelas 4D yang telah menjadi pemompa semangat buat saya, semangat kalian secara tak langsung tentu mempengaruhi yang lain (para silent reader). Ada alasan kenapa ada yang memilih menjadi silent reader, mungkin masih berusaha untuk juga bisa seaktif kalian, semoga segera bisa mengaplikasikan ‘Lets Break The Limit’.

Sayapun minta maaf atas kekurang aktifan di grup, itu karena kesibukan, meski tetap berusaha melaksanakan semua kewajiban di Sekolah TOEFL. Kadang shock dan takut membuka chat yang menumpuk sampai ratusan. Beruntung ada teman yang siap menyampaikan kesimpulan dari diskusi panjang di grup saat saya benar-benar tak sempat baca WA. Terima kasih Lela, teman yang telah banyak membantuku.

Terakhir, terima kasih banyak untuk semuanya, LETS BREAK THE LIMIT!!!