Minggu, 18 Januari 2015

Mobil Terkeren Versi Aqilah


            Aku memandang lurus kedepan. Menatap lalu-lalang kendaraan yang berpacu dengan waktu. Membiarkan angin sore yang sudah teracuni polusi menerpa tubuhku yang terduduk lelah di bangku halte depan kampusku. Rasanya menyenangkan duduk santai memandang jalan yang tak pernah sunyi oleh kendaraan. Seperti ini selalu menyenangkan, setidaknya melepas lelah setelah bertempur dengan rumus-rumus tenses yang selalu memusingkan. Itulah mengapa aku tidak keberatan menunggu Irma yang entah kenapa belum menyusulku.
            Aku masih duduk tenang saat kesendirianku terusik oleh suara sirine ambulance yang tiba-tiba melaju cepat di jalan. Membuat semua kendaraan menyingkir memberi jalan. Ekor mataku terus mengikuti ambulance yang semakin menjauh. Terus menatapnya hingga hanya menyisakan  suara sirinenya yang masih terdengar meliuk-liuk. Aku terpukau!
***
            Setelah puas memandang jalan aku beranjak meninggalkan halte. “lebih baik menunggu Irma di mobil,” pikirku. Aku melangkah santai menuju mobil putih yang terparkir di pinggir jalan dekat halte. Mobil ambulance. Mobil kebanggaanku, sebagai hadiah sweet seventeenku dari ibu. Mobil yang telah lama menjadi impianku. Mungkin terlihat angker bagi kebanyakan orang meski bagian dalam mobilku tidak seangker luarnya. Sudah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai seleraku.
            Aku duduk nyaman di bagian belakang kemudi mobil sambil menunggu Irma. Memandang seisi mobil yang bernuansa pink. Beberapa hiasan dinding terpajang rapi berpadu dengan gorden pink berenda putih. Di belakang kursi, tepatnya di sampingku berjejer rapi buku-buku bacaan pada rak kecil berwarna biru. Di bawah kursi terselip kasur lipat empuk, dilengkapi dua bantal Doraemon dengan ukuran besar yang tersusun dikursi. Juga sebuah kotak tempat persediaan cemilan dan minuman. Inilah kamar keduaku.
“Qila… buka pintunya!!” suara cempreng Irma mengagetkanku. Akhirnya penantian ini berakhir. Aku bisa segera pulang.
            “Qila, kita ke Mall Ratu Indah dulu yaa..”
            “Enak ya jadi penumpang, bisa perintah ini-itu,” aku mencibir.
            “Yeah… kan minta tolong, ada buku yang harus kubeli.”
            “Kamu belajar nyetir dong, biar bisa gantian nyetir.”
            “Malas, lagian emang boleh ambulance kesayangan ini di kemudikan selain pemiliknya?” Irma menyinggung aku yang memang tak pernah membiarkan ambulanceku di kemudikan orang lain. “Aku mau baring ya, pegal seharian duduk,” Irma beranjak ke bagian belakang dan membuka kasur lipat yang tertata rapi di bawah kursi.
            Aku menyetir dengan riang, menikmati perjalanan yang selalu menyenangkan bersama ambulance kesayanganku. Dari jauh terlihat jejeran kendaraan yang melaju lambat. Terjebak mecet. Aku tersenyum, macet tak pernah menjdi masalah buatku. Sirine mobil kuhidupkan, inilah senjataku menghadapi macet. Kendaraan di depanku segera membelah, memberi jalan. Bak sungai yang tiba-tiba terbelah membentuk jalan buat Nabi Musa. Ambulanceku melaju cepat melewati deretan mobil yang masih antri mencari jalan kosong. Aku sudah jauh meninggalkan kemacetan. Menuju MARI yang sudah terlihat kokoh di pinggir Jln. Ratulangi.
***
“Lama menunggu ya..?” Aku terhenyak, menatap Irma yang berdiri sambil tersenyum di sampingku. Menyadarkanku dari lamunan. “Tidak, ayo pulang.” Aku berjalan lesuh menuju pete-pete yang dari tadi berhenti mencari penumpang, Irma ikut di belakangku.
            “Kalau ada yang mau membelikan kamu mobil, merek apapun itu… kamu minta dibelikan mobil apa?”
            “Aku mau mobil yang keren, seperti Mercedes Benz, Ferrari Enzo, pokoknya yang keren, emang kenapa kamu tiba-tiba bertanya begini?” Irma balik bertanya.
            “Kenapa hampir semua orang kalau ditanya soal mobil impian pasti jawabannya seperti kamu atau gak jauh dari itu. Selalu yang mahal.”
            “Iyalah.. semua orang mau yang mahal, itukan standarnya mobil keren. Memangnya kalau kamu diberi pilihan, kamu mau mobil apa?”
            “Aku mau ambulance.”
            “Apa?? Ambulance? Ihh.. gak salah?” Irma sedikit berteriak, membuat dua penumpang lain menoleh kearah kami.
            “Iya, aku sangat ingin mobil pribadiku adalah ambulance. Bagiku ambulance adalah mobil terkeren. Ambulance bisa jalan tanpa hambatan, selalu menjadi perhatian. Coba kamu perhatikan, kalau ada ambulance lewat dengan sirinenya, pasti semua mata menoleh dan semua kendaraan menyingkir memberi jalan. Bukankah ini keren?”
            “Ya ampun, ambulance itu lambang berduka. Arahnya kalau bukan ke Rumah Sakit, paling ke kubur, atau pulang kerumah tapi penumpangnya mayat atau orang sakit. Yang pasti, namanya ambulance pasti kesannya horor. Lagian gak mesti pake ambulance tuk menarik perhatian, lebih etis pakai mobil mewah dan keren. Pasti semua mata bakal menoleh.”
            “Sudahlah… pokoknya, buat aku ambulance adalah mobil terkeren. Aku punya pandangan sendiri soal ambulance, yang pasti ambulance itu sangat keren. Andai kamu mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Kamu akan menemukan sesuatu yang tak dipikirkan orang pada umumnya, cobalah berpikir berbeda.”
            Irma hanya mengernyitkan bahu, “terserah.” Memilih diam dan menikmati perjalanan bersama pete-pete yang kini ikut terjebak mecetnya kota Makassar. Aku pun demikian. Duduk tenang memandang keluar kaca pete-pete. Kembali memikirkan soal ambulance idamanku. “Mungkinkah ambulance menjadi private car??”
SEKIAN

Cerpen ini telah terbit di koran harian FAJAR
Edisi 20 September 2014

Aqilalah El-Hafizhah